Home / Berita / Profil / Setelah Nabung Puluhan Tahun, Loper Koran ini Akhirnya Bisa Naik Haji

Setelah Nabung Puluhan Tahun, Loper Koran ini Akhirnya Bisa Naik Haji

Dengan tekad, niat, dan semangat beribadah, Pak Sadino akhirnya bisa naik haji.    (Marieska/okezone)
Dengan tekad, niat, dan semangat beribadah, Pak Sadino akhirnya bisa naik haji. (Marieska/okezone)

dakwatuna.com – Depok.  Sadino, seorang kakek yang tinggal di Jalan Gelatik 12, RT 05 RW 01, Pulo Jaya, Kelurahan/Kecamatan Beji, Depok akhirnya bisa naik haji tahun ini. Dengan tekad, niat, dan semangat beribadah, Sadino yang hanya berprofesi sebagai loper koran, berhasil mewujudkan mimpinya berangkat haji pada tahun ini.

Sebelum menjadi loper koran, Sadino sempat bekerja di PLN sebagai petugas jaga gardu di Cawang, Jakarta, hingga pensiun. Setelah itu, ia pun tidak malu saat ditawari teman untuk menjadi loper koran. “Saya jaga gardu jaga diesel PLN di Jakarta. Maklum, saya hanya lulusan ijazah SD. Kemudian jadi loper koran berkeliling Jakarta sampai 10 kilometer. Dulu saya tinggal di Menteng Sawah,” ungkapnya, di Depok, Senin (1/9/2014).

Beberapa tahun menjelang pensiun, tepatnya pada 1985, Sadino sudah menjadi loper koran. Bahkan sampai saat ini ia masih menjadi seorang loper koran di wilayah Depok. “Masih loper koran, dulu rumah di Jakarta sempat kena gusur, lalu saya belikan rumah di Depok tahun 1991, masih murah di sini,” katanya.

Sadino menabung satu persen dari setiap gaji yang diterimanya dari menjadi loper koran plus bonusnya. Total yang ia dapat setiap bulan yakni sebesar Rp1,2 juta setiap bulan. Ia pun masih memperoleh dana pensiun setiap bulan.

“Lalu kalau kesehatan masih dijamin oleh PLN, masuk RS jatah kelas III. Nabung naik haji, semenjak kerja di PLN nabung, sisihkan 10 persen, niatnya untuk dana tak terduga, lalu bayar pertama kali untuk haji setor Rp25 juta, tabungan saya sudah ada. Disetor ke kementerian agama. Sisanya ditabung tiap bulan sampai Rp40 juta,” kata pria yang lahir tahun 30 April 1942 ini.

Sadino adalah sosok yang sederhana. Ia mengaku tak pernah menggunakan sepeda motor ataupun mobil, bahkan tak menggunakan telepon genggam.

Istri Sadino sudah meninggal dunia sejak 2005. Sadino kini tinggal dengan seorang anaknya yang masih hidup dari tiga bersaudara, serta tiga cucu. “Saya ini orang jadul, naik sepeda ke mana-mana, HP saja belum punya. Pernah punya HP, tapi pernah pulsanya kesedot sebelum dipakai, malah jadi boros,” ungkapnya.

Ia berharap setelah pulang berhaji dapat menjadi haji yang mabrur. “Mudah-mudahan saya haji mabrur, dan mudah-mudahan pulang dari sana bisa menolong orang yang perlu ditolong. Berat ya berat, kalau niat, niatnya dibuktikan,” tegasnya.

Sadino tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Habib Idrus Algadri di Pancoranmas, Depok. Menurut Idrus, Sadino masuk kloter pertama yang akan berangkat dari Depok pada 10 September 2014.

“Pak Sadino masa tunggunya empat tahun, berangkat 10 September, kloter 26 JKS, Jakarta Saudi. Dulu ada juga jamaah saya tukang dodol bisa naik haji, sampai sekarang pun masih keliling jualan dodol. Ini yang unik, ada orang hartanya kaya tapi susah berangkat,” tutup Idrus. (ugo/okezone/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.