Home / Pemuda / Cerpen / Cerita Tentang Kehidupan Dari Lelaki Separuh Baya

Cerita Tentang Kehidupan Dari Lelaki Separuh Baya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Membaca Al-Quran (ilustrasi).   (hasrulhassan.com)
Membaca Al-Quran (ilustrasi). (hasrulhassan.com)

dakwatuna.comMalam itu, disebuah sudut masjid. Kuamati lekat lekat sesosok laki laki separuh baya. Rambutnya sudah memutih, kulitnya sudah mulai berkeriput, tertampak jelas guratan keletihan di wajahmya.

Saya sudah mengenalnya beberapa hari yang lalu. Kami semuanya memanggilnya dengan sebutan pakdhe. Ia adalah laki-laki biasa sebagaimana laki-laki pada umumnya. Badannya kurus, berkulit sawo matang dan bersuara agak berat.

“Sudah berapa lama pakdhe belajarnya ?”. Tanyaku memecah keheningan.

“Alhamdulillah mas, sudah 5 tahun.”

“Mudah-mudahan 3 tahun lagi, saya sudah bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar. Saya ingin, ketika di depan ka’bah kelak sudah bisa melantunkan Al-Quran dan sunnah lainnya. Saya mensyukuri kebisaan membaca Al-Quran ini dengan pergi ke BAITULLAH, INSYAALLAH !”. Tuturnya dengan penuh semangat.

Matanya menerawang ke langit-langit. Ia selalu berbicara dengan mata berbinar dan hati berbunga bunga. Menandakan bahwa ia mempunyai semangat yang membuncah.

Saya melihatnya menggenggam buku saku kecil berwarna hijau tua. Duduk bersila disamping saya sambil bersabar menunggu antrian setoran QIROATI.

“Lima tahun belajar saya hanya bisa sampai juz 2 mas. hehe……”. Kata katanya membuyarkan lamunanku.

Jlebb…. Jlebb. Hati ini berdesir kencang. Lima tahun bukanlah waktu yang sedikit pikirku.

“Tapi yo alhamdulillah……. !, di usia yang mendekati 55 ini, saya masih diberikan taufiq mau belajar membaca Al-Quran”. Saya mengangguk-angguk tanda setuju.

“Sampeyan itu masih muda. Masih mempunyai banyak waktu. Jangan seperti saya mas, belajarnya sudah tua kayak begini”. Sambil tersenyum simpul.

Pundak saya mulai merasakan, memanggul sesuatu yang berat. Langit dan bumi seakan menghimpit tubuh ini. Jiwa ini mulai gemetar. Tumpuan mulai goyah. Tidak mampu menahan embun syahdu yang merangsup dingin ke dalam hati.

“Astaghfirullah!”, gumamku dalam hati. Pikiran saya melayang sembari melihat masa lalu yang bercebur dalam kesia-siaan. Ia mempunyai semangat yang begitu besar yang tak pernah saya rasakan dalam belajar Al-Quran.

Saya mendengar namanya mulai dipanggil kedepan. Ia pun maju sambil membungkukkan sedikit badannya. Kemudian duduk persis di depan sang Ustadz. Ia membaca dengan terbata-bata. Beberapa kali bacaannya harus dibetulkan sang ustadz.

Saya mulai tercenung. Hati mulai merunduk basah oleh kata-kata beliau yang begitu menyihir. Saya bisa merasakan kata-kata itu muncul dari relung hatinya terdalam. Ia menginginkan perbaikan dan kebaikan untuk dirinya sendiri. Sebelum ia bertemu dengan Tuhannya kelak.

Ia bukanlah motivator ulung, bukan pula sastrawan yang pandai menciptakan kata indah dan jelita. Namun perilakunya, tindak-tanduknya telah membanjiri hati ini dengan penuh semangat bergelora.

Saya mulai mengenang sabda baginda SAW “Perumpamaan orang yang membaca Al-Quran, sedang ia terus melakukannya walaupun terbata-bata atau kesulitan maka baginya dua pahala (Muttafaqun alaih).

Mudah-mudahan engkau mendapatkan syafaatnya pakdhe. Insya Allah. Barakallahu fiikum.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Hudan Ro’isyi
Praktisi manajemen, analis perusahaan manufaktur dan tambang. Mempunyai minat yang besar pada dunia menulis & Sastra

Lihat Juga

Ilustrasi. (twitter)

Ada Apa dengan Surat Al-Maidah?

Organization