Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Sebelum Orang Tua Menangis

Sebelum Orang Tua Menangis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (123rf.com / Jasmin Merdan)
Ilustrasi. (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com Seorang pedagang mie ayam di dekat rumah saya belum lama ini bercerita bahwa dia hampir saja menjadi korban salah tangkap. Dia dituduh menculik anak di bawah umur. Ceritanya, suatu ketika ada seorang bapak yang datang ke warung mie ayam miliknya bersama seorang anak laki-laki sekitar usia SMP dengan sepeda motor. Setelah makan, bapak ini pergi dengan alasan hendak membeli bensin. Sekitar satu jam ditunggu, bapak ini belum juga datang. Anak laki-laki ini pun gelisah kebingungan karena laki-laki yang bersamanya tadi belum juga datang. Akhirnya, pedagang mie ayam ini pun mengantarkan anak tersebut pulang.

Anak tersebut pun menunjukkan arah ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ternyata keluarga sudah heboh karena si anak ini belum juga pulang. Sebab tadinya hanya pamit pergi sebentar dengan sepeda motornya. Melihat anak lelakinya pulang bersama orang tak dikenal, keluarga pun curiga dan lantas menuduh pedagang mie ayam yang mengantar anak tersebut pulang ini sebagai penculik. Beruntung ada warga setempat yang mengenal pedagang mie ayam ini dan meyakinkan keluarga si anak kalau pedagang tersebut bukanlah penculik.

Situasi pun mereda. Anak lelaki tersebut pun kemudian ditanyai bagaimana bisa dia bersama si pedagang mie ayam dan motor yang dikendarainya sudah tidak ada. Anak tersebut kemudian bertutur bahwa kala melintas di persawahan, dia dicegat seorang lelaki berpakaian ala petani. Lelaki ini minta diantarkan pulang ke rumah dengan perjanjian akan dibelikan mie ayam. Tanpa curiga, anak ini pun bersedia. Ending kisah ini seperti dijelaskan sebelumnya, dengan alasan hendak dibelikan bensin, motor si anak dipinjam, dan lelaki ini tak kembali lagi.

***

Kisah nyata ini memberi pelajaran pada kita bahwa berhati-hatilah dalam menuruti permintaan maupun memberi fasilitas pada anak. Seperti dalam kisah di atas, anak di bawah umur diberi fasilitas untuk diperbolehkan naik sepeda motor tanpa pengawasan. Padahal usianya belum memenuhi syarat untuk memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM).

Awalnya, jika anak minta sepeda motor atau ingin pergi dengan mengendarai sepeda motor, pasti semua orangtua akan menolak permintaan itu, baik dengan pertimbangan usia, kemanfaatan ataupun karena keterbatasan kemampuan ekonomi. Orangtua yang tegas dan konsisten, pasti akan tetap menolak permintaan tersebut meskipun harus membuat anak sampai menangis. Namun orangtua yang kurang tegas atau ‘tidak tega’ akhirnya mengabulkan permintaan tersebut meskipun dengan berat hati agar anak tidak kecewa atau berhenti menangis.

Sebuah sekolah SMP negeri, di dekat tempat tinggal saya bahkan sudah banyak muridnya yang naik sepeda motor. Saya tidak yakin kalau para guru tidak mengetahui hal ini sebab motor-motor murid tersebut terparkir di utara sekolah, di pekarangan rumah warga, meski tidak satu kompleks. Jangan bayangkan kalau anak-anak tersebut sopan kala naik motor, sebagian besar di antara mereka ‘pethakilan’ dan tidak mengindahkan sopan santun kala berada di jalan. Ini baru usia SMP. Saya tidak tahu mengapa ada kesan pembiaran dari sekolah terhadap murid-murid ini.

Teringat saya dengan ucapan mantan Presiden RI, Prof BJ Habibie. Saat masih menjabat sebagai Menristek, Prof. Habibie salah satunya bicara tentang pendidikan anak. Menurut beliau, dalam mendidik anak, kita harus menggunakan prinsip, “Lebih baik anak menangis sekarang, daripada di kemudian hari kita orang tua yang akan menangis, karena penyesalan”. Apa yang disampaikan beliau tersebut, saya kira juga tidak lepas dari peran ayah beliau yang seorang dokter dan sekaligus berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Ungkapan sederhana tersebut menyiratkan bahwa orangtua harus tahu batas-batas atau rambu-rambu, hal-hal apa yang dilarang dan diperbolehkan. Kita harus pandai-pandai mengetahui situasi kondisi si anak. Anak harus bisa diberi pengertian. Kalau terlalu dikekang ataupun dilarang, perkembangan anak tidak bisa optimal, tidak berani mengambil keputusan, bahkan keputusan untuk dirinya sendiri. Namun jika terlalu permisif (serba membolehkan), anak akan menjadi liberal, bebas tanpa aturan. Untuk itu, orangtua harus bijaksana, jangan emosional, segala sesuatunya harus diatur dan direncanakan.

Marilah kita terima amanah dari Allah Ta’ala ini dengan cara mendidik anak kita secara sungguh-sungguh. Jangan sampai kita orangtua akhirnya hanya bisa menangis. Menyesal, mengapa sewaktu kecil kita selalu berusaha untuk membuat anak tidak menangis. []

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Galih Setiawan
Lahir di Yogyakarta bulan September 1985. Alumnus Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini berprofesi sebagai Redaktur Majalah Parenting FAHMA. Selain itu juga menjabat sebagai Promotor Humas One Day One Juz DPA Yogyakarta.

Lihat Juga

Cara Bijak Menyikapi Anak yang Suka Bermain