Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Melestarikan Generasi Qurani

Melestarikan Generasi Qurani

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kaskus.us)
Ilustrasi. (kaskus.us)

dakwatuna.com –  Di saat sudah terlalu marak kemunduran moral masyarakat muda bangsa ini, saya masih bisa tersenyum. Setidaknya setelah angan saya mundur untuk beberapa tahun lalu. Saya teringat akan sebuah kolom yang selalu tercantum di biodata para remaja, hobi. Ketika beberapa anak disuruh untuk menuliskan hobi mereka. Apa yang mereka tulis? Membaca Al-Quran. Satu yang membuat saya ketika itu merasa kagum, optimis akan generasi emas bangsa.

Entah masih ada untuk tahun 2014 ini yang mencantumkan ‘membaca Al-Quran’ sebagai hobi mereka. Jika ada, yakinlah generasi yang selama ini ditunggu-tunggu telah datang.

Pada kitab suci penuntun hidup setiap muslim ini, membaca, mempelajari, dan mengamalkannya menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang mengaku muslim. Tentu sangat jelas, sebagai persinggahan asing, dunia menyimpan segala misteri hidup yang sewaktu-waktu dapat menggelincirkan kita dari visi utama, akhirat. Maka pedoman arah menjadi kebutuhan. Begitulah, dengan segala keadilan-Nya, Sang Khalik menurunkan kalam-Nya dalam Al-Quran dan menyempurnakan sifat utusan-Nya, Muhammad saw, dalam perangai sempurna, akhlak Qurani.

Maka sudah seharusnya kita berlomba-lomba mencetak generasi yang mampu meniti jalan gelap dunia dengan pedoman yang terang-benderang menuju ridha-Nya. Maka Al-Quran telah disempurnakan oleh-Nya sebagai pedoman tersebut. Karenanya, mengejar dan mendalaminya adalah benar dan tepat. Berlomba mencetak tunas muda dengan Al-Quran sebagai akhlak mereka, sebagai ideologi mereka, sebagai shiraat (jalan) yang harus ditempuh adalah kebutuhan dan tanggung jawab. Tak hanya tanggung jawab mereka sebagai insan, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Itulah generasi yang kita sebut Generasi Qurani. Tuturnya lebih banyak bersenandung ayat, bacaannya fasih mengikuti kaidah tajwid. Tak sekadar baca, tapi banyak serta rutin. Harinya berlalu tanpa luput dari tilawah.

Mengkajinya adalah ilmu yang begitu ia cintai. Pada catatannya banyak memuat pelajaran dan hikmah dari Al-Quran. Faham menjadi cita-citanya terhadap Al-Quran.

Akhlak dan tingkah laku hidupnya menjadi cerminan ilmu Al-Quran berupa perintah, larangan, dan hikmah.

Sungguh bahagia terlahir dan tumbuh bersama Al-Quran. Tidakkah kita rindu dengan generasi tersebut? Bangsa ini rindu lahirnya mereka. Seluruh kekayaan bumi dan keberkahan di negeri ini menanti untuk mereka Generasi Qurani. Sampai nanti, sampai berjumpa kembali dengan hobi para remaja yang senang membaca Al-Quran. Adakah kita mau menyiapkan generasi tersebut? Mari, selagi hayat masih dikandung badan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Raji Luqya Maulah
Mahasiswa LIPIA Jakarta. Lahir di Makassar tahun 1994, menyelesaikan pendidikan jenjang SMP dan SMA di Pesantren Terpadu Al-Kahfi Bogor. Anak ketiga dari empat bersaudara. Aktif di kegiatan dakwah kampus. Ketua Ikatan Silaturrahim Alumni Pesantren Terpadu Al-Kahfi (KASAHF.org).