Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Aku Mencintaimu

Ketika Aku Mencintaimu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Lena Setiastri)
Ilustrasi. (Lena Setiastri)

dakwatuna.com Rindu dengan serindu-rindunya. Sayang dengan sesayang-sayangnya. Teringat kapan pun dimana pun, walaupun interaksi nyata “boleh jadi” tak ada. Bergetar hati saat disebut namanya. Tak perlu kata, sebuah tatap kilasan mata sudah cukup kiranya sekadar membuncahkan berkas kerinduan yang tertata dalam dada. Sajak jiwa yang tertanam dalam hati manusia yang dijabarkan dalam keindahan rasa yang indah lagi penuh pesona. Diksi pelangi yang jika dibentuk dalam susunan kosakata penuh makna, kita akan mengatakanya dengan sebutan cinta. Sebuah kosakata ucapan yang berarti harapan akan fitrah kepemilikan, fitrah kerinduan dan fitrah yang membuat sepasang anak adam rela tanpa paksaan menyatukan kepingan hati yang mereka miliki, meski bisa saja ada perbedaan yang sedang menanti.

“Dijadikan indah pada pandangan manusia (laki-laki) keinginan terhadap wanita…”

Allah SWT Dzat yang Maha Memberi cinta, telah menciptakan fitrah ini ke dalam jiwa manusia. Benih dari sifat dasar yang bersih nan suci. Anugerah keberkahan dan kebaikan yang membuat manusia bertahan hingga hari ini.

Darinya bisa lahirlah ketaatan. Bentuk keindahan yang menyatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Padu padan yang dalam bahasa Ad-Din ini bermaknakan Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Bingkai ini terpaut atas nama Sang Pencipta. Cinta yang berpadu atas nama Allah SWT. Hanya karena-Nya, hanya mengharap keridhaan-Nya dan tak hendak mendurhakai-Nya melalui jalan yang tak direstui-Nya.

Namun darinya pula bisa lahir bencana. Awal retak yang berarti noda iman yang kan berujung pada pecahnya takwa. Bentuk kerusakan pada tingkat ini yang paling minim terhasut bujuan setan dengan skala dosa yang kecil, namun membuat candu sehingga di kemudian hari menumpuklah dosa-dosa kecil tersebut hingga menjadi dosa yang teramat besar. Dan bahaya yang terwujud serta sangat memungkinkan pada tingkat kerusakan maksimal adalah hilangnya aqidah yang mengakibatkan terjebaknya ia pada pusaran neraka selama-lamanya. Berpindah agama karena cinta, namun menuju pada agama yang bukan menjadi bagian dari syariat manusia. Na’udzubillahi mindzalik.

Adalah Qabil dan Habil. Keturunan pertama dari manusia pertama. Dikarenakan salah satu dari keduanya merasa iri, penuh dengki dan berlumur ketidakikhlasan, maka jadilah Qabil penghuni pertama neraka dari Bani Adam karena membunuh Habil. Generasi dan orang pertama yang terjun ke neraka karena dibutakan salah satunya oleh cinta.

Pasca itu jauh dari generasi setelahnya, kita dapati pula kisah Yusuf dan Imroah Al-Aziz, Dzulaikha yang menggoda Yusuf dengan kecantikan dan kedudukanya. Yusuf menolak dan fitnah pun menerjangnya yang pada akhirnya mestilah ia terhukum karena tiadak bersalah dengan timpalan penjara. Meski setelah waktu berlalu, tersadarlah hukum tentang siapa benar dan siapa yang salah. Dan setelah zaman itu berlalu, masih kita dapati lagi kisah Laila Majnun, cinta yang berakhir nestapa. Sang bidadari dunia terpaksa tidak dibersamakan dengannya dan maut merenggut dirinya dalam waktu dekat. Sementara sang lelaki berubah frustasi. Ia tak terima dengan nasib yang melanda dirinya. Ia menjadi gila dikarenakan kepergiannya. Hingga di kemudian hari ia pun berujung sama dengan kekasih yang ia cintai. Mati, namun sebelum gilanya tersembuhkan. Ironi, sisi gelap dari cinta yang berakhir dengan derita dan air mata.

Namun pada sisi indah lainnya, kita dapati pula keindahan merekah abadi pada pada cinta tingkat ini. Adalah sayyidah Khadijah dengan Rasulllah SAW. Meski pautan beda usia cukup panjang di antara keduanya, namun kemesraan itu terus abadi hingga syurga nanti. Khadijah yang membersamai Rasulullah SAW dalam suka dan duka. Yang menyelimuti suaminya kala datang rasa takut dan mengigil dari pertemuan dengan jibril, yang mendonasikan hartanya di jalan Allah SWT untuk sang suami tercinta dan hingga Rasulullah pun dibuat sedih karena kepergiannya yang berujung pada pengangkatan beliau hingga langit ke tujuh di malam isra’ wa mi’raj. The True Love Story yang tidak sekedar hadir dalam dunia sinetron, namun kisah kasih sayang terbaik yang pernah ada di muka bumi hingga hari ini.

Cinta saat ini boleh jadi bagaikan pisau yang tajam. Jika ia digunakan untuk kebaikan, maka jadilah ia bermanfaat. Penuh kebaikan yang sama dan amat bergunalah ia bagi sesama. Namun jika ia digunakan untuk keburukan, maka hanya bayang-bayang gelap dan semu yang kan dihasilkan darinya. Tak boleh ada kata tidak, mestilah ia dipandu dengan aturan khusus, aturan dari yang Maha Menciptakan. Aturan sang Al-Khaliq, yang tentunya akan menentramkan bagi yang memiliki dan mengelolanya dengan baik pula.

Kaitkan Allah sekuat mungkin dalam hati kala cinta itu ingin didatangkan, ataupun kala ia akan segera berlabuh pada hati yang terpilih. Segala yang ditujukan bersama asma Allah, dilakukan dengan cara yang paling baik dan benar serta tetap menjaga kesucian perasaan. Jika Allah SWT sudah berkehendak. Kun Fayakun. tidak ada kata tidak mungkin bagi Allah SWT untuk memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.

Maka, jika ia kini telah hadir dalam dada. Ketika diksi “aku” sangat ingin berujar pada diksi “mencintaimu”. Katakanlah penuh kelembutan melalui doa-doa yang dipanjatkan demi meraih keridhaan-Nya. Sampaikanlah ia di penghujung malam, di tiap bait doa dalam tiap shalat dan saat waktu mustajab lain untuk berdoa diperkenankan. Jika pun ia tak berujung pada sosok yang dinanti, Insya Allah, niscaya, doa itu akan menyatu dan bertemu dengan doa lain pula yang menyatakan dengan sepenuh hati pada tingkat ketulusan yang sama.

Doa yang saling bertemu meski raga tak pernah saling tahu. Kebaikan dari sisi lain yang bernama jodoh terkadang datang melalui jalan yang tidak diduga-duga. Unik dan manis karena umumnya berakhir istimewa. Dan kala waktu yang syahdu dan halal itu tiba, di menit dan detik yang hanya diri dan dirinya yang ada. Katakanlah sepenuh jiwa; “Ketika aku mencintaimu, akan kulabuhkan segala suka dan rinduku bersamamu, di bawah naungan Allah SWT”. Semoga.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,43 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Azies Rachman, S.E.I
Seorang hamba Allah yang sangat ingin menginjakan kaki di syurga tertinggi. S2 Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) DDII-BAZNAS. Sharia Financial Planner.
  • Sri Fatimah

    menarik.
    Nice :)

Lihat Juga

Menjadi Setegar Yusuf AS