Home / Berita / Opini / Sosok Pemimpin Idaman

Sosok Pemimpin Idaman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Pemilu presiden dan wakil presiden telah dilalui 9 Juli. Konstelasi politik yang terjadi tahun ini sungguh menyedot emosi ekstra rakyat Indonesia. Selain karena hanya ada dua pilihan calon presiden, manuver-manuver partai politik yang mengusung pun turut ambil peran. Di mana kontras antara koalisi partai yang mengusung kedua calon cukup mencitrakan idealisme masing-masing yang kuat. Ada partai yang berbasis Islam nasionalis, pragmatis oportunis hingga demokratis.

Kini, presiden Indonesia yang ke-7 telah terpilih secara resmi. Gelombang ke-tujuh ini digadang-gadang menjadi pemerintahan yang lebih baik. Terlepas dari presiden baru Indonesia, ajang Pemilu 2014 yang lalu, sejatinya bisa juga dimaknai sebagai sarana bertafakkur bagi umat muslim. Jangan sampai, orientasi mereka yang akan menjadi pemimpin di era pemerintahan 2014/2019 semata untuk kekuasaan dan jabatan dunia.

Katakanlah : wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan pada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imran:26)

Belajar dari Kisah klasik seorang Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima. Beliau terkenal dengan pribadi yang sungguh sederhana, diberi kemewahan dunia, tapi ia tinggalkan. Saat dirinya ditunjuk sebagai pemimpin kaumnya saat itu, ia justru secara tegas menolaknya dan menyuruh orang lain saja menggantikan. Akan tetapi umat muslim semua sepakat bahwa Umar bin Abdul Aziz untuk menjadi pemimpinnya. Suatu Ketika Maslamah bin Abdul Malik menjenguk Umar, Nampak baju beliau lusuh dan tidak baru. Ketika ia kembali datang lagi, Umar bin Abdul Aziz masih memakai baju yang sama. Selain terkenal karena kezuhudannya, ia juga memiliki sifat wara’. Beliau tidak mau menggunakn fasilitas yang diberikan Negara, karena bukan haknya. Beliau sosok negarawan sejati beberapa kejayaan di masanya di antaranya :

  1. Mementingkan Ukhuwah Islamiyah daripada golongan.
  2. Baitul maal penuh dengan harta zakat. Tidak mau menerima zakat karena semua sudah makmur. Tidak ada lagi mustahiq. Semua hajat orang banyak terpenuhi.
  3. Menghapuskan pajak terhadap orang muslim.
  4. Penertiban aparatur pemerintah (birokrasi yang tidak berbelit-belit)
  5. Memperkecil belanja negara yang tidak penting dan melarang hidup bermewah-mewahan
  6. Membasmi koruptor, kerajaan umayah semakin kuat tak ada pemberontakan. Armada kuat dan semakin adil.
  7. Memecat orang yang tidak punya loyalitas terhadap negara.
  8. Menaikkan gaji buruh hampir menyamai pegawai kerajaan.

Sejatinya, calon pemimpin tidak boleh dari orang yang memiliki ambisi dan keinginan untuk memperoleh suatu jabatan. Mulia atau tidak seorang manusia, tidak bisa dinilai dari pangkat dan kedudukannya di dunia. Bisa saja sebaliknya, seseorang bisa ditinggikan derajat iman dengan diambil dunianya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ludiana Septi Susanti
Seorang pembelajar, aktiv di organisasi kepemudaan Fkapmepi DIY dan dunia kepenulisan di FLP wil. DIY. Tertarik dunia kependidikan, sosial-empowering dan praktisi ilmu biologi. Suka analisis, silent reader, more action.

Lihat Juga

Dibekali Pejabat Publik dan Para Menteri, BKPRMI Optimis Lahirkan Pemimpin Nasional