Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Berjilbab Demi Meraih Sesuatu

Berjilbab Demi Meraih Sesuatu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Perempuan berkerudung. (flickr.com / Zarfique Blindgraphique)
Ilustrasi – Perempuan berkerudung. (flickr.com / Zarfique Blindgraphique)

dakwatuna.com “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Pada era tahun 80-an, para muslimah yang menggunakan jilbab masih dianggap aneh, untuk menemui muslimah yang berjilbab juga begitu susah karena waktu itu pemerintah melarang penggunaan simbolis agama. Namun lihat sekarang, dimanapun, profesi apapun, usia apapun jilbab telah menjadi fashion bahkan Indonesia menjadi role model perkembangan jilbab di dunia seperti pernah dirilis oleh media. Seakan-akan penggunaan jilbab mengikuti trend bukan atas pehamahan dari ayat Al-Quran. Tidak heran banyak muslimah yang telah berjilbab namun tetap memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh dan menunjukkan bagian tubuh yang seharusnya disembunyikan. Kemudian lahir pula komunitas-komunitas berbasis jilbab seperti Komunitas Jilboobs dan lainnya.

Pelarangan muslimah berjilbab masih ditemui di era demokrasi, seperti baru-baru ini dihebohkan pelarangan penggunan jilbab bagi pelajar perempuan yang sekolah di Bali. Hal itu juga diikuti oleh supermarket yang melarang karyawannya berjilbab. Meskipun ada yang menjelaskan bahwa pelarangan tersebut tidak sinkron dengan adat Bali. Seharusnya yang dilarang adalah pemakaian bikini, namun hal tersebut sepertinya bukan hal yang mengganggu adat orang sana.

Menariknya lagi, penggunaan jilbab sekarang dipergunakan untuk mencari simpati, sebagai media pencitraan dan cara meraih kemenangan. Apakah bisa dikatakan menggunakan jilbab atas dasar keterpaksaan dan ketidakikhlasan? Sudah menjadi rahasia umum, tiba-tiba segelintir atau sekelompok orang menggunakan jilbab padahal sebelumnya sangat anti dengan Islam, sebelumnya selalu memprovokasi bahwa penggunaan jilbab tidaklah wajib dan sebelumnya begitu santai membuka aurat. Mereka berubah lantaran momentum pemilihan legislatif atau Pilpres dengan menggunakan simbolis agama. Mungkin juga akan terjadi pada Pemilihan Kepala Desa, Pemilihan Kepala Daerah dan Pemilihan Gubenur.

Bukan negative thinking dengan mereka-mereka yang mendadak Islami. Malah senang, bahagia dan berdoa semoga dengan proses yang mendadak tersebut, benar-benar mangantarkan mereka untuk tetap menggunakan jilbab hingga akhir kehidupan. Namun sayang, harapan tersebut sia-sia karena perubahan tersebut hanya dipergunakan sebagai momentum untuk meraih kemenangan saja. Setelah meraih kemenangan, jilbab dilepas. Apakah ini bisa dikategorikan sebagai bentuk permainan terhadap aturan-Nya? Apakah ini bentuk penghinaan terhadap syariat? Entahlah.. tanya pada mereka. Apakah mereka tidak takut dengan makar Allah ketika mempermainkan syariat-Nya? “Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Barangsiapa takut kepada Allah, maka Allah menjadikanya takut kepada segala sesuatu. (HR.Al-Baihaqi).

Jujur, wanita yang menggunakan jilbab akan terlihat lebih manis, lebih cantik, lebih rapi dan insya Allah akan menjadikannya shalihah. Pribadi yang mencintai aturan-Nya.

Semoga pembaca dan penulis tidak termasuk pada orang-orang yang menggunakan jilbab demi meraih sesusatu. Malainkan memakai jilbab atas dasar cinta pada-Nya, atas dasar memahami konsep bukan atas dasar trend maupun mengikuti fashion. “Apa yang aku larang jauhilah dan apa yang aku perintahkan kerjakanlah sampai batas kemampuanmu. Sesungguhnya Allah telah membinasakan orang-orang sebelum kumu disebabkan terlalu banyak menuntut dan menentang nabi-nabinya” (HR.Bukhari).

Seandainya dalam hati kita pernah terbersit niatan seperti itu –mengenakan jilbab demi meraih sesuatu– mari kita beristighfar dan segara bertaubat bahwa jilbab bukan hanya sebatas mengikuti trend maupun asal pakai melainkan ada makna filosofis yang terkandung di dalamnya, selain membuat terlihat lebih cantik juga membuat kita semakin dekat dengan Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Terinspirasi Dari Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel Ketika Cinta Bertasbih)