Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mau Sampai Kapan Kita Jauh dari Allah?

Mau Sampai Kapan Kita Jauh dari Allah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Tuhanmu berfirman, “Wahai anak Adam! Sempatkanlah beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi hatimu dengan rasa cukup dan Aku akan memenuhi tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah menjauh dari-Ku. Jika demikian, Aku akan memenuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku akan memenuhi tangan-Mu dengan kesibukan.” (HR. Hakim, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib)

Masih banyak di sekitar kita menemui orang-orang yang jauh dari Allah, hidup mereka dipenuhi dengan hal-hal tidak bermanfaat bahkan membuat hati semakin keras dan tidak bercahaya. Seperti yang ditemui di jalan raya menuju kampus.. Saya melihat segerombolan Bapak-Bapak yang berusia 40-60 Tahun dengan asyik menikmati domino, asyik menyabung ayam. Seharusnya usia menedekati detik-detik kehidupan dihabiskan dengan kebaikan. Tidak hanya itu, pernah pula menemui para wanita-wanita yang begitu seksi menjual kecantikan dengan berbagai dalil terkadang kecantikan dipergunakan sebagai modal untuk mengait mata laki-laki bermata keranjang atau atas nama kebebasan…#miris dan jauhkan kami dari hal-hal yang tidak Engkau cintai Rabbi.

Mungkin pertemuan dengan para Bapak-bapak dan cewek-cewek cantik adalah cara Allah mengiring kait untuk berpikir, berkontemplasi serta mengambil hikmah. Senada dengan ungkapan Ibnu Qayyim bahwa berbahagialah manusia yang dianugerahi Agama, pikiran dan akhlak yang selalu bertautan dengan Rabbi.

Bagi kita yang masih merasa jauh dari Allah (terutama bagi penulis sendiri), sampai kapan mau jauh dari Allah? Apakah sampai kaya, sampai sukses, sampai terkenal, sampai bahagia, sampai punya anak, sampai punya istri/suami, sampai bumi dan seisinya milik kita, sampai mendepat musibah, sampai tua, sampai dapat bencana, sampai ada waktu luang atau sampai titik akhir kehidupan?! Sesungguhnya kita tidak pernah puas dengan apa dicari maupun diperoleh. “Kebahagiaan yang paling bahagia ialah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah” (HR.Ad-Dailami dan Al Qodhoi).

Sejujurnya dengan dekat pada-Nya akan meraih posisi yang begitu indah, akan dipermudahkan segala urusan, disuguhi solusi yang tiada tara dan dicukupi persis seperti yang dialami Muhammad Alfatih menaklukkan kota Konstantinopel yang memukau khalayak ramai bahkan menjadi pondasi bagi siapapun untuk meraih kesuksesaan, itu harus didasari dengan mencintai aturan Rabbi dan menjalankan perintah-Nya penuh cinta serta istiqamah. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (QS. Ath Thalaq: 3). “Kalau sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.”(HR. Tirmidzi, ia mengatakan, “Hadits hasan shahih.”)

Atau kita merasa bahagia, merasa tenang, merasa gagah, merasa tercukupi dengan menjauhi Allah? Atau dengan menjauhi Allah kita diberkahi keberlimpahaan seperti realita yang sering dijumpai bahwa mereka yang jauh dari Allah, kok berkelimpahan kenikmatan bahkan penghormatan dari lingkungan sedangkan mereka yang dekat dengan Allah malah dicibir bahkan dianggap sok suci. Mungkin juga dengan menjauhi Allah merasa sebebasnya tanpa batas. Kenapa kita yang terus bersujud, berdoa, memperbaiki diri dan berdakwah sepertinya hidup begitu saja. Mungkin pernyataan tersebut terbesit di hati. Mari kita istighfar terus menerus agar bisa mengusir persepsi tersebut dalam pikiran.

Dari ‘Uqbah bin Amir, dari Rasulullah SAW: “Apabila engkau melihat Allah mengaruniakan dunia kepada seorang hamba sesuai dengan yang ia inginkan, sementara ia tenggelam dalam kemaksiatan, maka ketahuilah itu hanya istidraj darinya”, kemudian Rasulullah SAW bersabda: “ Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”.

Ibnu Abbas menjelaskan firman Allah ‘Azza wajalla: “Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dengan cara yang tidak mereka ketahui”, ia berkata: Setiap kali mereka melakukan satu kesalahan kami beri mereka nikmat yang baru dan kami lupakan mereka untuk beristighfar.

Sesungguhnya kita tahu bahwa kematian selalu mengintai. Sanggupkah kita bertemu Allah dalam keadaan berlumur dosa, sanggupkah kita bersua dengan Rabbi saat dipenuhi kerakusan dunia, sanggupkah kita berjumpa Ilahi ketika dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang tidak disinari cahaya Ilahi. Tentu tidak sanggup dan tidak berdaya? Tetapi kenapa kita masih tetap menjauhi-Nya baik dari sisi akhlak, iman, tujuan dan sisi lainnya?

Entah apa yang mendorong dan memotivasi mereka untuk menjauhi Allah pemilik segalanya serta menentukan kehidupan. Padahal segala kenikmatan sudah diberikan, hanya saja tidak pernah merasakan nikmat tersebut. Apakah tidak menyadari bahwa Allah itu selalu memantau? Apakah tidak butuh Allah? Apa kita berpikir bahwa hidup akan kekal selamanya, apaka kita berpikir bahwa Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban atas perilaku kita, apakah beranggapan Allah akan meyelamati kita api neraka meskipun penuh dengan dosa-dosa sehingga kita masih tetap menjauhi Allah.

Pada akhirnya, buka hati dan pikiran kita untuk merenung. Apa yang melatarbelakangi kita masih betah, bertahan untuk menjauhi Allah dan menikmati hidup tanpa aturan-Nya. Bukankah hidup tidak kekal dan sejauh-jauhnya berjalan akan ada akhirnya dan sebebas-bebasnya pasti akan rindu untuk mengadu pada-Nya? “Di antara Wahyu Allah kepada Nabi Dawud AS; “Tiada seorang hamba yang taat kepada-Ku melainkan Aku memberinya sebelum dia meminta, dan mengabulkan permohonannya sebelum dia berdoa, dan mengampuni dosanya sebelum dia mohon pengampunan (istighfara).” (HR.Ad-Dailami)

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Suasana pelantikan anggotan Dewan Perwakilan Rakyat RI periode 2009-2014, di Gedung MPR/DPR, Jakarta,

Fungsi Wakil Rakyat yang Terlupakan