Home / Narasi Islam / Sosial / Berbagi Selezat Coklat

Berbagi Selezat Coklat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)
Ilustrasi. (multnomahathleticfoundation.com)

dakwatuna.com Berbagi itu seperti coklat. Manis, lezat, dan menenangkan. Merubah bad mood menjadi good mood. Mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan, seperti coklat yang melelehkan kejenuhan dan kegalauan.

“Iya kalau kita lagi banyak rezeki. Kalau lagi ‘bokek’? Apa yang mau kita bagi? Cukupin dulu kebutuhan pribadi.”

Ah, siapa bilang? Tak ada aturan seperti itu. Berbagi ya berbagi saja. Tak perlu menunggu sekaya Abu Bakar, atau sekaya Abdurahman bin Auf. Berbagi dalam bentuk apapun, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun, akan menghadirkan sensasi yang berbeda pada diri kita.

Diriwayatkan dari Adi bin Hatim r.a, ia berkata: Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan api neraka, lalu beliau berpaling, kemudian beliau bersabda, “Hindarilah api neraka!” Lalu beliau berpaling lagi, sehingga kami mengira bahwa beliau seolah-olah melihat api neraka itu. Lalu beliau bersabda lagi, “Hindarilah api neraka, meskipun hanya dengan menyedekahkan satu belah butir kurma. Barangsiapa tidak bisa itu, maka dengan kalimah thayyibah (ucapan/tutur kata yang baik).” (Al Bukhari, no.1413)

Suatu ketika seorang teman saya sedang dirundung masalah. Di perjalanan sepulang kuliah, ia bertemu seorang pengemis tua. Hatinya terketuk, namun na’as hanya tersisa Rp 500 di dalam tasnya. Ia pun memberikan satu keping uang yang ia miliki tersebut. Berbagi memang selezat coklat. Katanya, “Andaikan aku punya lebih dari itu.” Senyum dari pengemis tua seolah memberikan setetes kesejukan dalam kalbunya. Sebab, sekeping Rp 500 dapat membuat orang lain tersenyum.

Senyummu pun adalah sedekah. Apapun itu, uang, senyum, ilmu, atau benda yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Berbagi tak pernah rugi. Sebab, Allah melihat setiap inci kebaikan yang kita lakukan. Sekalipun sebesar zarrah.

Wallahua’lam bisshowwab.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
College student of S1 Accounting Education, State University of Malang

Lihat Juga

Zionis Mulai Terapkan Pembagian Waktu Ibadah, Selamatkan Al-Aqsha!