Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menyibak Jenggala Kesemuan

Menyibak Jenggala Kesemuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Langit yang cukup cerah mengawali hari itu. Bermula dari pesona langit shubuh, aku terperanjat bangkit dari peraduan, segera menjawab panggilan-Nya. Aku sadari panggilan di shubuh hari itu tak semua orang sanggup untuk segera menjawab dan bergerak memenuhi panggilannya. Hanya orang-orang terpilih yang kemudian mampu menjawab panggilan dan bergerak memenuhi panggilan tersebut. Terkadang rasa malas lebih mendominasi sehingga bunyi alarm sekeras apapun tak jua membuat segera bangkit, mungkin karena ulah setan yang betah bersemayam di setiap lekuk tubuh. Berat rasanya menggerakkan tubuh untuk segera bangkit, dan memang menjadi pejuang shubuh itu bukanlah tugas yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Perlu upaya yang terus menerus, perlu stimulus yang memiliki hentakan dahsyat untuk menggugah, agar bisa menjadi pejuang shubuh sejati. Terkadang, kutengok akun twitter pejuang shubuh untuk melihat kicauan-kicauan inspiratif tentang keutamaan-keutamaan melaksanakan shalat shubuh secara berjamaah di masjid dan tepat waktu. Kicauan-kicauan para pejuang shubuh seluruh nusantara juga turut menambah semangat agar mampu melaksanakan kewajiban ini dengan penuh kesadaran dan pemahaman. Karena terkadang orang yang paham pun belum tentu bisa melaksanakan apa yang dipahaminya kalaulah tidak didukung oleh lingkungan dan sarana. Sehingga, memang terasa beratlah sebuah jargon yang berbunyi “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Tetapi kewajiban ini adalah harga mati, mau tidak mau, suka tidak suka harus dilaksanakan dengan sepenuh hati meskipun diawali dengan pemaksaan. Berbahagialah para pejuang shubuh yang senantiasa istiqamah, namanya disorakkan dan dicintai para penduduk langit dan bumi.

Hari itu hampir sama seperti biasanya. Energi-energi positif terus mengalir dalam raga yang meregang nyawa. Dalam pikirku, tiada hari tanpa dakwah. Tiba-tiba muncul sebuah renungan konspiratif yang mengguncang batinku. Sangat kontradiksi dengan nuraniku. Beruntung Allah memberiku alarm yang bernama ‘Hati’. Muncul pikiran-pikiran untuk menggadaikan akhirat, acuh tak acuh dengan keutamaan amal agar selamat dunia akhirat. Ini sebuah pemikiran yang muncul karena seringnya berinteraksi dengan lingkungan yang hedonis. Utamakanlah akhirat, tetapi dunia juga harus tengok. Memanglah benar apabila kita mengutamakan akhirat, tetapi ingatlah bahwa tempat untuk mengumpulkan bekal akhirat ada di dunia. Sehingga sungguh indah doa ‘Umar bin Khaththab ra : “Ya Allah, jadikan Dunia dalam genggamanku, bukan dalam hatiku.”

Bayang semu itu terus menggayuti setiap imajinasiku. Asa akan memiliki dan merangkul tidak memuluskan taubatku. Padahal, potensi yang diberikan Allah seharusnya digunakan untuk memenuhi target yang jauh lebih besar di ujung sana, ekspektasi yang lebih menjanjikan, tak kan habis di dunia saja. Begitulah manusia, mempunyai potensi untuk berbuat kerusakan, berbuat yang merugikan. Dalam kondisi ini, banyak orang-orang yang mudah terbakar rindu, kerinduan yang sesungguhnya adalah kesemuan dan tak berujung. Apakah kesemuan ini yang akan kalian kejar, padahal kita sama-sama telah mengetahui dan memahami bahwa umur kita terbatas, amalan kita sangat sedikit, dan dosa kita terlanjur banyak. Kesemua ini terus dikejar, seperti orang yang tak waras, tengah melakukan pengorbanan untuk kesemuanya ini. Bukankah lebih indah pengorbanan itu lebih bermanfaat dan dilakukan di jalan Allah?

Muraja’ah belum juga menenangkanku, dalam telaahku ada mindset yang harus diubah. Niat harus kembali diluruskan, karena dakwah ini terlalu mulia untuk tercoreng hal-hal yang kelihatannya sepele padahal tidak seperti itu. Maka kuingat kembali kejadian di alam kubur dan alam akhirat, semoga segera membelokkanku menuju jalur semula. Dan memang, semakin dalam telaahku, semakin aku menyadari tentang keberanian yang harus hadir dalam jiwa. Bukannya aku tak pernah takut, hanya saja takut di dalam hati itu harus segera ditebas dengan keyakinan tanpa batas, sehingga ketakutan berpindah ruang karena ditekan oleh keberanian. Ibarat air di dalam gelas, butuh air yang bertekanan tinggi lebih dari udara yang ada di dalam gelas agar air bisa mulus memenuhi gelas. Begitulah cara kerja keberanian menekan ketakutan, begitu pula proses bagaimana kebaikan mendorong keburukan. Kebaikan harus mempunyai energi dan tekanan yang lebih besar agar keburukan tersingkirkan.

Adalah Abdullah Ibnu Mas’ud ra, seorang tokoh pemuda di zaman Rasulullah SAW yang begitu semangat menerima Islam sebagai agamanya dan sebagai ideologi yang mengatur tindak tanduknya. Pemuda yang energik, berani, dan berapi-api, serta memiliki kesabaran yang melebihi kerinduan burung pungguk akan bulan. Taat dan patuh pada Rasulullah SAW, satu hal yang kukagumi dari pemuda bernama Abdullah Ibnu Mas’ud ra ini. Ketika Allah SWT belum menurunkan perintah dakwah secara terang-terangan di kota Makkah, ia langsung menjawabnya dengan ketaatan. Akan tetapi, jiwa muda Abdullah Ibnu Mas’ud ra begitu bergelora hingga ia begitu berani membacakan Surah Ar-Rahman dengan suara lantang di depan para petinggi kaum Quraisy di depan Ka’bah. Ia sudah menyadari konsekuensi yang akan diterimanya dari para petinggi Quraisy yang memang tidak senang dengan ajaran yang dibawa Muhammad SAW. Dan ia pun harus babak belur karena kejadian itu, mengingat saat itu belum pernah ada yang berani membacakan ayat-ayat Al-Quran di depan umum, apalagi pada saat itu Ka’bah merupakan pusat keramaian di kota Makkah. Setelah kejadian itu, Abdullah Ibnu Mas’ud dengan keberaniannya yang sudah terasah bagai mata pedang meminta lagi untuk mengumandangkan ayat-ayat Al-Quran di depan Ka’bah, di hadapan para petinggi Quraisy, hanya saja permintaannya ini tidak diperbolehkan oleh para sahabat karena khawatir akan keselamatannya. Sungguh berani engkau wahai Abdullah Ibnu Mas’ud ra.

Adalah Ali bin Abi Thalib ra yang mulia dengan keberaniannya. Keberanian untuk menggantikan posisi Rasulullah SAW di tempat tidur ketika Rasulullah SAW akan hijrah ke Yastrib yang kelak akan berganti nama Madinah Al-Munawarah. Para petinggi Quraisy bersepakat untuk memberikan hadiah yang besar bagi yang berhasil menghadang Rasulullah SAW dalam proses hijrah dan menemukan beliau. Ali bin Abi Thalib pemuda yang begitu mulia karena kedekatan hubungan keluarga dengan Rasulullah SAW juga menjadi mulia karena iman dan keberaniannya. Pemuda mana yang sanggup seperti itu selain engkau wahai Ali bin Abi Thalib. Sungguh mulia engkau karena keberanianmu menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidurnya.

Bahkan beberapa tahun setelah Islam berjaya, kita takkan pernah kehabisan kisah-kisah heroik para pemuda pemberani. Kita ingat bersama peristiwa yang menjadi kunci penaklukkan Persia di Qaddisiyah. Adalah Qa’qa ibn At-Tamimi yang begitu berani dengan keberaniannya. Di saat Sa’ad bin Abi Waqash mempercayakan Qa’qa ibn At-Tamimi untuk memimpin garis terdepan pertempuran di Qaddisiyah, ia menyanggupi dan menjawab perintah itu dengan keberaniannya. Seperti biasanya sebelum peperangan dimulai, masing-masing tentara terbaik dari kedua pasukan bertarung terlebih terlebih dahulu. Dengan keberaniannya, Qa’qa ibn At-Tamimi tak gentar menantang salah satu panglima perang terbaik Persia, Bahman Jazawiyah. Qa’qa ibn At-Tamimi pun memenangkan pertarungan yang menjadi kunci penaklukkan Persia ini, sungguh berani engkau wahai Qa’qa ibn At-Tamimi.

Mendengar dan merenungi kisah para pemuda tersebut, kucoba tenangkan diri, mohon pertolongan kepada-Nya untuk menerobos jenggala kesemuan ini. Mereka adalah para pemuda yang dengan keberaniannya mampu menyibak jenggala kesemuan. Mereka adalah para pemuda yang patut diteladani setiap jengkal keberaniannya. Sangat kontradiktif dengan para pemuda di zaman sekarang yang cenderung melankolis dan tak mempunyai semangat untuk berjuang. Sehingga wajar saja mereka akan tersesat dalam jenggala kesemuan. Tugas kita sebagai pemuda yang akan menyibak jenggala kesemuan ini adalah mengajak mereka untuk bersama-sama menyibak jenggala kesemuan, meninggalkan segala keraguan sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW : “Tinggalkanlah apa yang meragukan…”.

Wahai para pemuda, sibaklah jenggala kesemuan yang ada di hadapanmu! Yakinlah bahwa di depan sana ada mereka yang siap membersamaimu! Ada janji yang harus engkau tepati kepada bangsamu, kepada Rabbmu.

Wahai para pemuda, sibaklah jenggala kesemuan yang akan senantiasa menggelayutimu! Yakinlah bahwa Allah SWT akan menepati Janji-Nya. Di sana ada Kemenangan, Kesucian, Kemakmuran, Keabadian, Kesejahteraan, tempat yang sangat paripurna untuk kami para pejuang keidealan, pejuang keadilan.

Wahai para pemuda, sibaklah jenggala kesemuan yang akan terus menghantuimu! Mulai dari sekarang, engkau harus mengambil langkah konkret, menjadi sumber cahaya di tengah kelamnya jenggala kesemuan, menjadi pemimpin perubahan, menjadi penunjuk arah menyibak jenggala kesemuan.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Diklatnas Kader Dakwah BKPRMI di Hotel Sahid Jaya, Jakarta (4-6 Maret 2016). (BKPRMI)

Dibekali Pejabat Publik dan Para Menteri, BKPRMI Optimis Lahirkan Pemimpin Nasional

Organization