Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hari Terakhir di Bekasi

Hari Terakhir di Bekasi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)

dakwatuna.comDi suatu senja, sudah sebulan lebih rasanya mendiami tempat bersejarah itu, mulai dari tanggal 12 Juli hingga 21 Agustus. Berbagai macam rasa dan emosi tertumpah ruah pada rentang waktu itu, segudang pengalaman meluber pada interval waktu tersebut. 41 hari yang berkualitas dan tentu terkenang.

Mulai ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional itu, sudah disambut hangat oleh kedua orang tua, dilanjut dengan makan malam bersama yang sederhana. Lalu hari-hari setengah bulan Ramadhan dilewati dengan khidmat dan luar biasa.

Bekasi Sinergi adalah awalan dari petualangan itu, mengagumkan melihat indahnya harmonisasi gerak di antara organisasi di Bekasi itu. Selang itu menghadiri solidaritas peduli Palestina yang digagas oleh ODOJ Indonesia di bundaran HI, Jakarta. Ditemani rintik-rintik hujan menyuarakan kepedulian terhadap saudara kita di Gaza sana. Tak sempat berlama-lama, tiba-tiba harus kembali lagi ke Gedung Patriot Bekasi, untuk melanjutkan acara Sinergi itu.

Ketika perjalanan, terdengar kabar duka, telpon dari ujung sana mengatakan bahwa tante dari keluarga saya meninggal, “Innalillahi wa innailaihi rajiun..” Terucap refleks dari bibir ini, sejenak diam dan merenung memikirkan hal yang pasti itu. Kemudian selepas ifthar dan maghrib berjamaah, saya melaju menuju rumah duka tersebut. Esok harinya ketika selesai pemakaman, saya pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak.

Hari-hari selanjutnya saya seolah bagai penyusup. Menerima undangan terkait pesantren kilat oleh salah satu LDK di Jakarta untuk siswa SMA, tiba-tiba terpikir untuk kita ‘menyusup’ ke dalamnya dan mencuri ilmunya. Berangkat bersama tiga orang teman, melaju menggunakan commuter line menuju Depok. Selesai acara d lanjut dengan buka bersama dengan organisasi mahasiswa dari Malang di salah satu warung daerah Margonda. Selepas itu, kami pulang kembali dengan menggunakan kereta. Rasa-rasanya hari yang mendebarkan itu telah kita lewati. Saatnya untuk memulai i’tikaf di sepuluh malam terakhir.

Keesokannya, mendapat tugas untuk mengambil dana untuk acara Bedug Festival di kantor Indosat, Jakarta. Perjalanan siang itu ditemani oleh terik matahari, macetnya perjalanan, dan lika-liku jalan Jakarta, tetapi alhamdulillah sampai juga di sana. Melihat bagaimana perusahaan yang cukup besar seperti Indosat menjalankan sistemnya, dan yang paling menarik, mereka mempunyai ruang khusus untuk Sie Kerohanian, dan saya lihat orang-orangnya sudah terlihat syar’i semua. Alhamdulillah..

Lalu hari-hari setelahnya dilakukan dengan menjalin silaturahim kepada teman-teman SMA. Dan seperti biasa setiap tahunnya, profesi menjadi amil zakat tetap tersandang, kali ini lebih banyak panitia dari tahun-tahun sebelumnya. Jadi teringat 5 tahun silam, ketika pulang sekolah sewaktu SMP langsung ke masjid dan membuka stand zakat, waktu itu hanya sendiri, kadang berdua, tetapi alhamdulillah, sekarang sudah ramai.

Terakhir, ketika malam takbiran, GBH (Gema Bedug Harmoni) menutup kisah ramadhan ketika itu, melihat gebyar dan semarak malam takbiran dengan jalur yang positif, menyaksikan para alumni-alumni dari kampus ramadhan di wisuda, penampilan nasyid, dll. Rasanya baru kemarin menjadi pelopor acara ini, tetapi bersyukur sekali acara ini menjadi acara rutin tahunan ARMADA.

Esoknya, hari Idul Fitri adalah hari kemenangan. Setelah dengan khidmat melaksanakan shalat dan mendengarkan khutbah, kami melakukan silaturahim, dan halal bihalal, momen yang indah untuk saling bermaaf-maafan.

Awal sampai pertengahan syawal itu digunakan kebanyakan untuk silaturahim. Open House dengan gubernur Jawa Barat – kang Aher, open house dengan Master Hipno Terapi – kak Awin, yang di sini kita juga diajarkan cara menghipno orang, dan lain-lain.

Pernah juga di suatu kesempatan, kami mendatangi seminar-seminar seperti Japan Foundation, Kultum Supermentor, dll. Dan tak lupa, kami juga berlatih menjadi trainer yang dibimbing langsung oleh pakarnya, dan dalam waktu dekat insya Allah kami akan melaunching lembaganya. Semua rangkaian itu menjadi bumbu penyedap di 41 hari tersebut.

Tiba-tiba aku terbangun, lalu tersadar, aku sedang berada di masjid peradaban itu. Jam dinding digital menunjukkan pukul 10.50. Aku terduduk, tertegun, rupanya sudah 41 hari aku di sini, dan ternyata itu adalah hari terakhirku di Bekasi.

Enggan juga rasanya ingin meninggalkan kampung halaman ini, tetapi sore ini aku harus berangkat ke stasiun, mungkin tidak akan ada lagi rapat-rapat malam hari, rombongan motor yang berangkat ke seminar, selasar masjid tempat mengobrol, atau sekadar canda dari teman-teman.

Ya Allah, izinkan ukhuwah kami terus terjaga, dan jadikan kampung itu sebagai lahan untuk kita terus berdakwah di sana. Insya Allah

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Elmo Juanara
Mahasiswa semester awal, sedang mempelajari disiplin ilmu teknik industri disalah satu perguruan tinggi negeri di kota Malang. Aktif di LDK, UKM, dan di kampus.

Lihat Juga

Menghidupkan Sunnah Dalam Berhari Raya