Home / Berita / Opini / Malaria vs Suwanggi: Antara Dokter dan Dukun?

Malaria vs Suwanggi: Antara Dokter dan Dukun?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sepucuk surat datang dari salah seorang penumpang kapal kayu. Maklum, karena di pulau ini tarada (tidak ada) signal, maka kami pergunakan komunikasi lewat surat menyurat ketika ada urusan penting. Surat yang membuat kaget seketika di tengah-tengah acara Hajatan Umum yang sedang berlangsung di Dama, pusat kecamatan Loloda Kepulauan. Semua terdiam tatkala aku membacakan surat yang datang dari sahabatku, Sipat. Semua kaget, tersentak dan menunjukkan muka terkejut. Suasana yang tadinya meriah, berubah menjadi hening seketika.

“Menurut hasil analisa mantri (sebutan untuk bidan desa) setempat, aku positif terserang malaria! Tekanan darah hanya 60 / 90. Kemarin sudah dikasih infus sama mantri, tapi setelah dicek ternyata infus tersebut sudah kadaluarsa 2 bulan. Akhirnya infus tersebut terpaksa dilepas. Ternyata mantri di desa ini juga dikenal sebagai pemabuk” demikian pesan penting yang ada dalam surat tersebut. Tanpa berfikir panjang, dorang (kami) langsung memutuskan untuk menjemput saudari seperjuangan dorang yang ada di Dedeta. Kalau kondisinya seperti itu, mau gak mau dia harus dibawa ke puskesmas setempat untuk segera diobati lebih lanjut.

Sebuah katinting (motor laut) yang sudah menjadi langganan dorang, langsung bergegas menuju lokasi. Kecepatan katinting yang biasanya lambat, kini agak sedikit berjalan cukup kencang untuk menempuh perjalanan dari Pulau Doi menuju Dedeta, Pulau Panjang. Semua mata penumpang katinting ini terlihat berbinar-binar menandakan rasa was-was dan cemas. Desiran ombak yang bergelombang tak menyurutkan langkah kami melintasi lautan Loloda Kepulauan ini. Tiba-tiba aku jadi teringat dengan sebuah pesan Bung Hatta yang pernah disampaikan oleh Pak Agung, “Sesungguhnya yang mengancam hidupku bukanlah malaria, tapi kesepian”. Malaria dan kesepian memang menjadi ancaman ketika di daerah penempatan. Tapi, kini malaria telah benar-benar datang, maka jangan sampai kesepian itu datang menghampiri saudariku yang terserang malaria. Karena sebuah kehadiran dan kebersamaan dalam sebuah tim, pasti akan menjadi obat penawar kesepian dan mampu membangkitkan semangat perjuangan.

Sampai juga di tepi pantai Dedeta. Dorang langsung bergegas menuju tempat tinggal Sipat. Kondisinya sama seperti yang dia utarakan dalam surat yang dorang terima. Saat dorang datang, dia sedang berbaring istirahat sembari membaca buku. Ibu angkatnya lagi pergi ke kota. Bapak angkatnya juga sedang pergi ke kebun. Dia di rumah ditemani adik dan tetangga kampungnya. Aku dan Vauzi pergi ke rumah kepala desa untuk meminta izin membawa Sipat untuk diperiksa di puskesmas kecamatan atau rumah sakit kota yang ada di Ternate. Sementara teman-temanku yang lain berkoordinasi dengan keluarga dan tetangga yang ada di rumahnya Sipat. Tak lama kemudian, kepala desa dan guru SD setempat juga datang di kediamannya Sipat.

“Menurut analisa dukun desa, Ibu Sipat ini terkena Suwanggi (sejenis roh jahat), jadi harus diobati dulu dengan obat kampung oleh dukun desa tersebut” ujar Pak Kepala Desa Dedeta. Harusnya kalau orang baru, jangan bermain terlalu jauh di pantai yang ada di ujung desa, tambahnya. “Warga di desa ini ketika sakit, lebih percaya ke dukun dibandingkan ke dokter” ujar salah seorang warga. Terjadi diskusi yang cukup lama antara dorang, kepala desa dan warga desa setempat tentang maksud dorang untuk membawa Sipat berobat ke puskesmas yang harus menyeberangi pulau. Mereka bersikukuh untuk mengobati Sipat dengan dukun desa. Aku mencoba memberikan penjelasan ilmiah tentang penyakit malaria yang harus segera diobati oleh dokter atau bidan. Tapi mereka tetap pada pendiriannya. “Kita kan sama-sama ingin Ibu Sipat sembuh, tapi alangkah baiknya jika diobati di dukun dulu, baru esok dibawa ke rumah sakit atau puskesmas” tegas pak Kades.

Awalnya kami sempat menerima usulan mereka untuk mengheningkan suasana yang cukup pelik. Waktu sudah memasuki dzuhur, kami pun bergegas untuk shalat terlebih dahulu. Dorang selaku tim SGI Halut juga sempat berdiskusi, karena ini menyangkut aqidah dan keyakinan kita. Warga di sini memang masih percaya dengan dukun, tapi jangan sampai kita juga terbawa oleh kemauan mereka. Itulah masalah utamanya. Sebisa mungkin kita harus tetap membawa dia ke puskesmas atau rumah sakit. Terjadi diskusi lagi yang cukup lama antara dorang, kepala desa, kepala sekolah (ayah angkat Sipat) dan warga desa setempat. Keputusannya diserahkan ke saya (selaku ketua tim) dan Sipat sendiri. Hati masyarakat sudah lunak dan keputusannya Ibu Sipat boleh dibawa ke rumah sakit atau puskesmas. Pada prinsipnya “Katakanlah yang hak (benar), meski itu pahit”. Karena sebuah kebenaran harus dikatakan dengan sebenarnya dan perlu kesabaran untuk melunakkan hati masyarakat dalam memutuskan setiap perkara.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

In Amullah
Mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman dan saat ini sedang menjabat sebagai Sekretaris Umum UKKI Unsoed.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Sebuah Pilihan