Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tasbih Cinta

Tasbih Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.comAku sudah tidak sanggup lagi hidup dalam kesendirian. Mengikuti arus waktu yang terus berjalan, setiap detik selalu ada perubahan. Aku termenung dalam kamar kosong menikmati arus waktu yang kulalui dengan segala perubahan yang terjadi. Alangkah cepat waktu berjalan.

Kini, emosiku berjalan pelan dalam darah tubuh yang mulai kuyu. Kutengadahkan kedua tangan dalam dzikir malamku. Selalu kusebut asma-Nya dalam setiap denyut nadiku. “Jadi apa yang hendak Aku sampaikan padaMu, Rabbi?” tanyaku dalam kegalauan. Kebimbangan diri masih menghiasi sisa kehidupanku. Sesuatu yang selama ini aku inginkan kini telah pergi jauh dalam hidupku. Kekasih malam ini kurajut asa dalam kepiluan. Menanti harapmu kembali dalam penantian panjangku. Mengukir cerita di atas pasir. Menyaksikan alunan senja di tepi pantai Parangtritis. Masih ingatkah kau ketika bercengkerama dengan panorama senja yang kau goreskan kuas warna-warna pikiranmu pada selembar kain kanvas? Begitu indah pemandangan senja itu kau katakan padaku. Ibarat seindah wajah sayumu. Jilbab putihmu melambai mengikuti arah mata angin yang begitu sejuk kurasakan serasa kumemandangmu. Masih kuingat dulu kau selalu bilang bahwa cinta yang kita rajut ini suci, yang akan menghantarkan kita dalam mahligai pernikahan. Tapi apa yang aku saksikan tak semanis yang aku rasa, aku kecewa. Kini kau bersanding dengan lelaki pilihan Ayahmu. Ketika cinta telah mekar dalam jiwa.

Malam itu masih teringat jelas apa yang kau katakan padaku ”Ren.. sampai kapan aku harus menunggu kepastian darimu? Ayah dan Ibuku selalu menanyakan kapan kau akan melamarku. Mereka malu mempunyai anak gadis semata wayang yang usianya kini sudah berkepala tiga. Setiap kali aku pulang dari kerja selalu menanyakan tentang dirimu.” Kata Apri sambil menyeka air matanya. Malam itu aku hanya terdiam. Nyaliku sebagai seorang laki-laki hilang untuk mengungkapkan kata ‘ya, aku akan melamarmu’. Sejak malam itu di serambi Masjid Agung Solo cinta kita kandas karna ketidakberanianku untuk meminangmu.

“Pri, aku pun tak mau hubungan ini berakhir begitu saja. Aku sudah melakukan apa yang aku bisa untuk mengikat mahligai cinta kita. Namun keluargaku sudah tidak mau memberikan restunya pada kita. Mungkin sudah jalan-Nya kita harus mengakhiri kisah perjalanan cinta kita. Ingatlah takdir cinta bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar.” ucapku padanya.

Penyesalan kini datang ketika takdir cinta sudah tak berpihak padaku. Hanya air mata dan kebisuan diri yang selalu menghiasi hari-hariku. Bukannya aku tidak ingin meminangmu, tapi ragaku sebagai lelaki yang tak mampu menjadikanmu pendamping hidupku. Meskipun aku menyesal telah melepaskanmu untuk selamanya, tapi rasa cinta ini masih ada untukmu. Aku tahu perjalanan dirimu untuk menjadi seorang muslimah. Kau wanita yang luar biasa berani menghijabkan diri untuk meraih cinta yang hakiki dari-Nya.

***

Hari Senin, 8 Mei 2013 aku menyaksikan dirimu bersanding dengan seorang lelaki gagah, tampan dan kaya. Aku melihat rona wajahmu yang penuh dengan kebahagiaan. Sempat aku membayangkan jika yang kau genggam jari jemarinya itu adalah Aku betapa bahagianya diriku. Nuansa putih nan suci menjadi hiasan di acara pernikahanmu. Lagu-lagu nasyid mengalun merdu dengan syair-syair cintanya. Begitu banyak tamu undangan dari keluarga besarmu dan teman sejawatmu turut bersuka cita di hari yang bahagia ini. Kuperhatikan setiap gerak gerik dirimu dan arah matamu berharap kau akan mencariku di antara ribuan tamu yang hadir. Setiap aku perhatikan seakan tak tersirat sedikitpun tentang diriku. Apakah mungkin engkau telah melupakan aku. Berat memang menerima kenyataan yang sangat pahit ini.

Aku coba langkahkan kaki untuk sekadar mengucapkan selamat kepadamu, tapi kakiku terasa berat dan dadaku terasa sesak. Air mataku pun jatuh tak terasa di hari bahagiamu. Sulit bagiku melepaskan jeratan cinta yang telah kita rajut dulu, Apri. Aku pejamkan mata di antara ribuan tamu undangan yang hadir. Nafas yang tinggal separuh kucoba hempaskan secara perlahan-lahan. Kuatkan diriku ya Allah.. Ikhlaskan hati ini untuk melepasnya. Meskipun hati terasa membeku dan sekujur tubuhku terasa mati rasa, air mataku jatuh tiada henti dan pikiranku hanya teringat tentang penyesalan-penyesalan yang hinggap dibenakku. Aku langsung berlari meninggalkan gedung mewah ini. Tak sanggup melihat dirimu bersanding dengan orang lain. Aku yakin kau masih mencintaiku. Tapi apa daya, diriku ternyata lemah untukmu.

Kubasuh wajahku dengan air wudhu dan kusujudkan diri yang lemah ini dihadapan-Mu. Inginku ucap rasa syukur atas apa yang telah terjadi pada kisah cintaku. Tapi bibir ini terasa kelu. Hanya suara isakan tangis menghiasi sepertiga malam ini. Aku ternyata belum dapat menjadi hamba yang ikhlas menerima takdir cinta-Mu, ya Allah. Aku mohon pada-Mu ikhlaskanlah diri ini untuk melepasnya dari kisah hidupku. Jangan kau penjarakan hati ini. Kuambil tasbihku. Kusebut nama-Mu tiada henti. Tasbih ini menjadi saksi bisu untuk melepas bidadari surgamu yang tak hinggap di jiwaku.

Tiga bulan semenjak kepergiannya dari sisiku, aku benar-benar menderita. Aku seperti orang gila. Air mataku tak pernah berhenti mengalir di setiap sujudku. Jari jemariku selalu bertasbih menyebut asma-Nya. Biar tenang jiwa ini. Aku tak bisa melupakannya sama sekali dari kehidupanku, bagaimanapun juga Apri pernah mengisi relung-relung hatiku. Hatiku juga tidak bisa berpindah ke perempuan lain. Aku masih mencintainya. Cintaku kepadanya menghapus semua kisah cinta yang pernah aku jalani. Begitu sulit diriku memunculkan cinta yang baru. Keindahan-keindahan saat bersama telah mematikan kenangan-kenangan yang tidak mudah untuk aku lupakan. Kepribadianmu memberikan warna tersendiri dalam kehidupanku. Seterang cahaya yang menyejukan mata setiap orang yang memandangmu. Cintamu telah membutakan mata batinku. Dan semua perempuan tak dapat aku beri ruang di setiap relung-relung jiwaku. Kala kau pergi dari jiwaku, aku tak putus dirundung kesedihan. Butiran-butiran tasbih selalu menguatkan hatiku, dalam setiap dzikir malamku.

 

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Agus Yulianto
Agus Yulianto, S.Pd.I kelahiran Karanganyar, 27 juli 1987. Alamat desa Suruh Ngemplak RT 02, RW 02, Suruh, Tasikmadu, Karanganyar Surakarta Jawa Tengah. Memiliki hobi membaca, menulis dan Jalan-jalan di tempat yang menginspirasi. Lulusan Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam IAIN Surakarta tahun 2014 ini aktif menulis di media massa. Beberapa karyanya pernah di publikasikan di media local seperti Essay/artikel judu lPendidikan Gerakan Literasi Lokal Suara Mahasiswa Harian Umum Solopos, Essay/artikel judul Ironis Mahasiswa Tidak Berorganisasi suara mahasiswa Harian Umum Solopos ,Opini Harmonisasi Perpustakaan, Pustakawan dan Masyarakat Mimbar Mahasiswa Majalah Respon , Opini Kegiatan Ekstrakurikuler Anti Terorisme Mimbar Mahasiswa Majalah Respon, OpiniIronis Mahasiswa Apatis Mimbar Mahasiswa Majalah Respon, Opini Dinamika Prodi Kependidikan & Keguruan (Kebijakan PPG) Majalah Hadila Yayasan Solopeduli, Gagasan Pendidikan Anti Kekerasan Berbasis Sekolah Ramah Anak majalah Respon, Kumpulan Antologi puisi bersama Jagad Abjad diterbitkan oleh Teater IAIN Surakarta, Kumpulan Antologi Cerita Pendek diterbitkan oleh ISIS IAIN Surakarta, Antologi Cerpen Kisah Inspiratif FLP Solo Raya, beberapa karya sastra cerpen dan sajak pernah dimuat di Majalah Marah, Majalah EMBUN Lazis Jateng, Majalah Remaja Smartten Solopeduli, Harian Umum Joglosemar, Harian Umum Solopos dan lain sebagainya. Prestasi yang pernah raih; Juara 1 Lomba Baca Puitisasi Quran Se-MTsN Kabupaten Karanganyar tahun 2003, Finalis Lomba Baca Puitisasi Quran Pekan Olah Raga &Seni (PORSENI) MTs Se-Jawa Tengah tahun 2003, Finalis Lomba KaryaTulis Ilmiah & Resensi Buku Tingkat SLTA Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) tahun 2004, Finalis Debat Mahasiswa BEM STAIN Surakarta tahun 2010, Juara 3 Lomba Baca Puisi Islamic Book Fair Solo Raya tahun 2011, Juara 3 Lomba Baca Puisi Islamic Book Fair Solo Raya tahun 2012, Juara 2 Debat Mahasiswa BEM Jurusan Tarbiyah STAIN Surakarta tahun 2011, Penghargaan sebagai Pembaca Terbaik dari Perpustakaan Kabupaten Karanganyar & TASCAKRA Award 2010. Sekarang bergiat di FLP Soloraya & Komunitas Sastra Pakagula Karanganyar.

Lihat Juga

Ilustrasi - Muslim AS saat melakukan shalat tarawih. (VOA/ROL)

Para Pencuri Shalat

Organization