Home / Berita / Analisa / Peringatan 1 Tahun Tragedi Berdarah di Rabiah dan Nahdhah (Bagian ke-5)

Peringatan 1 Tahun Tragedi Berdarah di Rabiah dan Nahdhah (Bagian ke-5)

Ilustrasi. (Aljazeera)
Ilustrasi. (Aljazeera)

Gelombang Penculikan, Penahanan dan Penyiksaan Massal Terjadi…

dakwatuna.com Gelombang penangkapan massal terhadap para penentang kudeta militer terjadi sejak Presiden Mohamed Morsi diisolasi pada 3 Juli 2013. Morsi disembunyikan pasukan keamanan di sebuah tempat rahasia selama beberapa bulan. Gelombang penangkapan semakin membabi buta setelah tragedi pembantaian di Rabi’ah dan Nahdhah pada tanggal 14 Agustus 2013.

Menurut laporan “Wiki Tsaura” yang diluncurkan oleh Lembaga Pusat untuk Hak Ekonomi dan Sosial Mesir, pasukan keamanan menangkap lebih dari 41 ribu orang sejak kudeta atas Presiden Mursi hingga Juni 2013. Sementara menurut Organisasi Human Rights Watch, penangkapan terjadi karena aktifitas politik yang merupakan hak warga negara. Ditambahkan dengan kalimat “Memasung kebebasan dan melanggar HAM telah menjadi pola yang terus menerus dilakukan oleh pemerintah Mesir.”

Para aktifis jejaring sosial Mesir menyebarkan laporan berisi daftar yang bisa dipercaya terkait nama dan foto 57 orang perempuan yang ditangkap serta disembunyikan di penjara-penjara serta di ruang markas polisi Mesir. Mereka dinyatakan hilang selama rangkaian aksi unjuk rasa dan berbagai peristiwa politik di Mesir dan tidak dibebaskan sampai awal Agustus tahun ini.

Menurut daftar yang terus menerus diperbarui, dengan menyebutkan nama perempuan-perempuan yang dibebaskan dari daftar tersebut secara bertahap, disebutkan bahwa ada 36 orang tahanan perempuan di tahanan Qanather, 3 orang di pos polisi Kairo dan Giza, dan 15 orang tersebar di tahanan yang ada di seluruh propinsi Mesir. Sedangkan 3 orang masih dinyatakan hilang.

Lembaga Amnesty International mengatakan bahwa “operasi penangkapan dan penahanan, yang dimulai 3 Juli 2013 telah dilakukan secara intensif. Dan sebagian besar tahanan tinggal beberapa bulan di ruang tahanan tanpa ada tuduhan dan tidak dibawa ke pengadilan. Sebagian mereka ada yang dituduh dengan tuduhan yang sudah dipersiapkan dan mirip satu sama lain. Mereka juga tidak mendapat hak untuk didampingi dan tanpa proses hukum yang berlaku. ”

Organisasi Ikhwanul Muslimin yang merupakan organsasi oposisi paling utama di Mesir, dan menjadi afiliasi Presiden Morsi yang diisiolasi, adalah target penangkapan dan tuduhan yang paling besar. Ditambah, orang-orang pro Morsi yang juga seluruhnya menjadi target penangkapan dan penahanan.

Menurut Amnesty International, akibat penyiksaan dan tanpa bantuan medis yang dialami para tahanan, sekitar 80 orang tahanan akhirnya meninggal di sejumlah ruang tahanan di pos polisi maupun di penjara-penjara Mesir..

Salah satu pembantaian paling sadis yang terjadi di penjara Mesir, adalah saat dideportasinya sejumlah tahanan via kendaraan ke penjara Abu Zaabal pada 18 Agustus 2013. Para tahanan yang umumnya adalah pendukung Morsi terbunuh sebanyak 37 orang dalam kondisi tidak bisa bernafas akibat mati lemas setelah melempar gas air mata ke dalam mobil tahanan.

“Penyiksaan telah menjadi hal yang rutin di kantor polisi dan sejumlah tempat tahanan lainnya. Khususnya itu dilakukan terhadap anggota organisasi Ikhwanul Muslimin. Mereka disiksa dalam rangka diinterogasi untuk mencari informasi atau pengakuan dari mereka bahwa mereka telah melakukan kejahatan yang tidak mereka lakukan.” Demikian laporan Organisasi Mesir untuk Hak Asasi Manusia.

Akibat penyiksaan dan penistaan, para tahanan melakukan dari sejumlah besar tahanan melakukan mogok makan dalam aksi yang disebut, “pemberontakan penjara”. Mereka melakukan aksi itu antara bulan May dan Juli 2014, diikuti sekitar 23.000 orang tahanan politik di ratusan penjara di seluruh Mesir. Keluarga para tahanan mengatakan bahwa anggota keluarga mereka mendapat penyiksaan berupa pemukulan, sengatan listrik, membanjiri sel-sel penjara dengan air, dan dilucuti pakaiannya.

Organisasi Amnesty International mengungkapkan pada 26 Mei 2014 ada ratusan tahanan Mesir di penjara militer Aezzola di Ismailia yang disiksa secara fisik di dalam sel-sel pejara atau ketika mereka sedang diinterogasi.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
M. Lili Nur Aulia, S.Ag
Penulis, Penerjemah, Pengamat Masalah Timur Tengah. Mahasiswa Universitas Trisakti.

Lihat Juga

Ilustrasi. (blogspot.com)

Darah Yakjuj Makjuj Mei