Home / Berita / Nasional / Peringati HUT Kemerdekaan RI Ke 69, Komnas Kusta Gelar Deklarasi Merdeka dari Stigma dan Diskriminasi Kusta

Peringati HUT Kemerdekaan RI Ke 69, Komnas Kusta Gelar Deklarasi Merdeka dari Stigma dan Diskriminasi Kusta

Deklarasi “Merdeka dari Stigma dan Diskriminasi Kusta” oleh Komisi Nasional (Komnas) Kusta, Minggu, (24/8/14). ((GM/MJ)
Deklarasi “Merdeka dari Stigma dan Diskriminasi Kusta” oleh Komisi Nasional (Komnas) Kusta, Minggu, (24/8/14). ((GM/MJ)

dakwatuna.com – Jakarta. 

Merdeka… Merdeka… Merdeka…

Itu kata Pejuang, itu kata Pahlawan

Tapi Bukan Untuk saya tapi bukan juga untuk kami

Kutelusuri jalan ini yang penuh berliku

Aku melihat keindahan yang cerah

Mendengarkan kebahagiaan

Tetapi lagi-lagi kami tak bisa menikmati kebahagiaan itu.

 

Itulah sepenggal puisi yang dibacakan oleh Amri,S.Pd. salah satu orang yang pernah mengalami Kusta (OYPMK) saat mengisi acara peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69 di Halaman Gedung Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC)  Dompet Dhuafa Ciputat Tangerang Selatan pada Minggu, (24/8/14).

Peringatan HUT RI yang bertajuk “Merdeka dari Stigma dan Diskriminasi Kusta” ini diinisiasi oleh Komisi Nasional (Komnas) Kusta karena masih banyaknya diskriminasi dan stigma negatif  terhadap penderita Kusta dan mantan penderita Kusta.

Dalam acara tersebut sekaligus dibacakan Deklarasi “Merdeka dari Stigma dan Diskriminasi Kusta” yang dipimpin oleh Parni Hadi sebagai Dewan Pembina Dompet Dhuafa sekaligus sebagai pendiri Komnas Kusta.

Dalam sambutannya Parni Hadi mengatakan stigma dan diskriminasi terhadap mantan penderita Kusta merupakan anggapan yang harus dihilangkan di masyarakat. ”Mari kita membangun opini secara sehat bahwa  mantan penderita kusta tidak harus mendapatkan stigma dan diskriminasi masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut Parni menegaskan, peran Dompet Dhuafa sebagai lembaga Filantropi wajib berkontribusi memandirikan mantan penderita Kusta. ”Penyandang Kusta itu adalah termasuk kaum dhuafa plus..plus, yaitu orang yang kurang diuntungkan secara ekonomi serta plus mendapatkan diskriminasi di Masyarakat,” tandasnya.

Sambutan Plt Gubernur Banten yang diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten drg. Sigit Wardoyo menyampaikan, bahwa Provinsi Banten merupakan salah satu wilayah dengan jumlah penderita penyakit Kusta yang berada pada posisi peringkat ke 13 di Indonesia, dengan penyumbang terbesarnya yaitu dari wilayah Tangerang. “Ini menunjukkan Provinsi Banten masih memiliki beban kusta yang masih tinggi,” tuturnya.

Sementara itu dalam sambutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang diwakili oleh Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr.Slamet, MHP menyampaikan, bahwa dari tahun ketahun pengetahuan tentang informasi penyakit Kusta sudah semakin baik. Hal ini, kata Slamet melanjutkan, dikarenakan banyaknya pihak-pihak yang ikut serta menekan bertambahnya jumlah penderita kusta. ”Penderita Kusta perlu dorongan kita untuk membantu mendorong dan memfasilitasi penderita kusta untuk mau minum obat,” tuturnya.

Acara yang diselenggarakan oleh Komnas Kusta, LKC Dompet Dhuafa, dan  Yayasan Bina Kusta Mandiri serta didukung oleh jaringan media ternama Jawa Pos, Tangsel Pos dan Satelit News ini  dihadiri oleh 60 OYPMK dari Sintanala, Tangerang, Banten.

”Kami makan bersama dengan orang-orang hebat di forum ini merupakan kebanggaan terbesar dalam hidup kami, dan yang jelas kami punya harapan yang ingin sekali kami sampaikan kepada bapak-bapak yang ada disini baik dari pemerintah, kementerian dan pemerintah Provinsi atau Kota, harapannya adalah jangan pernah berhenti untuk terus dan tetap mendampingi kami sampai kami menuju sebuah titik kemandirian, sampai kami terbebas dari stigma dan diskriminasi, ” kata Andika salah satu peserta OYPMK yang hadir saat itu.

Turut hadir dalam acara tersebut Presiden Direktur Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini, Direktur LKC Dompet Dhuafa dr. Mohammad Ridlo MM, Walikota Tangerang Selatan yang diwakili oleh drg. Ida Lidia dan Kepala Dinas Kesehatan Tangsel dr. Rusmin serta Konsultan WHO dr. Zuarsih. (GM/MJ/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Muslim Inggris - Ilustrasi. (worldbulletin.net)

Kebijakan Luar Negeri yang Diskriminatif jadi Penyebab Muslim Tinggalkan Inggris