Home / Narasi Islam / Dakwah / Dakwah di Era Layar

Dakwah di Era Layar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

“Nothing Impossible, Its Possible if you know How.”

(Soundtrack Zokkomon, Walt Disney Production)

dakwatuna.com Tak ada yang tidak mungkin jika engkau mengetahui caranya, sebuah penggalan lirik yang menarik menggambarkan tentang keoptimisan seseorang dalam berusaha menerobos belantara ketidakmungkinan. Soundtrack dari Film Zokkomon, produksi Walt Disney. Bercerita tentang anak Superhero yang melawan tirani di daerahnya, negeri India. Sebuah tirani yang masih sangat mempercayai hal-hal yang bersifat takhayul dan masih mengkultuskan salah seorang tokoh yang dipercayai memberi keberkahan dan rezeki bagi masyarakat di suatu daerah, desa terpencil di India. Tokoh ini kemudian diagung-agungkan, disanjung secara berlebihan, bahkan mendapat iuran-iuran dana dari masyarakat setempat. Sehingga, hanya segelintir orang di desa itu saja yang menikmati kemewahan. Di satu sisi film ini memiliki maksud tertentu untuk mensosialisasikan budaya-budaya tradisional India di mana Agama merupakan produk dari kebudayaan, sesuai dengan pemikiran para kaum penganut liberalisme. Dan secara tidak langsung, film ini juga mempromosikan nilai-nilai Liberalisme.

Lanjut kisah, rupa-rupanya ayah dari Pemeran utama Zokkomon ini adalah korban karena ingin membongkar kedok orang-orang yang menikmati kemewahan karena membodohi masyarakat setempat yang masih percaya akan takhayul. Yang apabila tidak memberikan sesajian dan rutin membayar iuran kepada sang tokoh, akan terkena kutukan dan kemarahan dewa. Ayah Zokkomon terbunuh dengan tragis karena sudah mengetahui modus sebenarnya dari sang tokoh yang diagung-agungkan masyarakat ini. Dan Zokkomon yang dalam kisah ini sebagai Super Hero tampil untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Perubahan yang terjadi begitu cepat dan instan dengan beberapa konflik penghias, yang pada intinya adalah balas dendam. Begitupun dengan Kisah Superhero lainnya.

Alkisah seorang anak muda bernama Thor hidup di Negeri Asgard, negeri yang katanya negeri para dewa. Putra dari Raja di Negeri Asgard dan memiliki saudara bernama Loki yang sesungguhnya tidak berasal dari Asgard. Loki lahir dari Negeri Jotenheim, negeri tempat bersemayam para iblis es. Yang konon dimasa lalu para iblis es pernah ingin menjajah dan mengeksploitasi planet bumi namun kemudian di gagalkan oleh para tentara Asgard dengan keadilan dan keberanian mereka. Sehingga raja Asgard dan para prajuritnya pernah mendapat tempat di hati masyarakat planet bumi sebagai pahlawan yang membela mereka di masa lalu. Sejatinya film ini juga ingin mensosialisasikan budaya bangsa Viking di abad pertengahan yang merupakan zaman yang sering di sebut Dark Age. Zaman dimana peradaban Islam berjaya dan daratan Eropa tengah diselimuti oleh kegelapan dan kehinaan atas kebodohan mereka. Thor pemuda agresif dan temperamen berbuat kesalahan dengan melanggar larangan ayahnya untuk menyerang Jotenheim sehingga ia diasingkan ke bumi. Loki yang sejak dari kecil merasa di anak tirikan mengambil kesempatan ini dan meyakinkan Thor agar tak kembali ke Asgard agar ia kemudian menjadi pewaris tunggal tahta kerajaan Asgard. Yang pada akhirnya, kisah ini diakhiri dengan pertarungan antar Thor dan Loki, bukannya Super Hero pembela kebenaran dan keadilan yang digambarkan dalam promosi film. Pertarungan Thor dan Loki yang penuh intrik soal kekerasan, bukan tentang serial kepahlawanan.

Pada dasarnya, film-film yang beredar di layar kita adalah media untuk mentransfer ideologi. Tergantung siapa pembuat dan inisiator film tersebut, kalau yang bersangkutan menyenangi paham-paham sekulerisme, maka nilai-nilai sekuler-lah yang ingin disampaikan melalui film. Begitupun bila sang pembuat film menganut paham liberalisme, maka nilai-nilai liberal-lah yang ingin ditransfer melalui film yang dibuatnya. Di luar konteks durasi penayangan film yang dibatasi, ternyata film-film superhero yang beredar di layar kita, menyajikan perubahan-perubahan yang terlalu cepat. Balas dendam sepertinya menjadi suatu hal yang wajar, sangat kontradiktif dengan konsep kepahlawanan. Begitu banyak keburukan yang diperbuat oleh Sang Superhero, tenggelam dalam aksi-aksi heroik dengan kekuatan yang luar biasa yang juga mengakibatkan dampak kerusakkan yang luar biasa. Menurut penulis pribadi, ini lah medan ghazwul fiqr. Pertarungan ideologi di era layar, pertarungan ideologi di era terbuka, pertarungan ideologi di era Gelombang Ketiga Indonesia. Maka siapa yang tak segera menjadi penganut ideologi tertentu, bersiap-siaplah menjadi mangsa para pejuang ideologi. Dari hati yang terdalam, kami bangga bisa memperjuangkan ideologi Islam dalam setiap tulisan, tindak tanduk, dan dalam kehidupan kami.

Dalam kaidah dakwah, bila kita terlalu buru-buru dalam menghendaki perubahan, perubahan yang terjadi memang bisa cepat, tetapi kebanyakan perubahan yang cepat terjadi malah menghasilkan perubahan yang rapuh. Para pejuang dakwah hendaknya memahami kaidah ini, dan senantiasa merujuk pada manhaj dakwah yang ada bila menghendaki perubahan. Dan yang sering kita dengar dan baca dalam berbagai sumber, bahwa karakteristik dakwah ini ada 3 yaitu: Thulut thariq (panjang jalannya), katsirul aqabat (banyak timpaannya), qilaturrijaal (sedikit orangnya).

Sebenarnya sangat banyak kisah-kisah inspiratif di dalam Al-Qur’an tentang perubahan apabila kita mau rajin untuk membaca, mentadabburi, memahami, dan mempraktekannya. Salah satunya adalah kisah tentang Ashabul Kahfi yang memberi pelajaran pada kita tentang perubahan yang bertahap dan tidak instan. Allah SWT kemudian menidurkan dan menjaga para pemuda ashabul kahfi selama kurang lebih 300 tahun. Dan pada saat mereka terbangun, kondisinya berbeda jauh saat sebelum mereka ditidurkan oleh Allah SWT di dalam gua. Sebelum para pemuda ashabul kahfi ditidurkan oleh Allah SWT, kondisi negerinya pada saat itu tengah dipimpin oleh tirani kezoliman. Kondisi negeri setelah para pemuda ashabul kahfi dibangunkan, negerinya dipimpin oleh pemimpin yang bertakwa kepada Allah SWT, adil dan bijaksana dalam memimpin negerinya. Perubahan drastis yang tidak terjadi dalam waktu yang singkat. Maka berlakulah karakteristik dakwah yang pertama, thulut thariq (panjang jalannya).

Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan para pejuang dakwah tentunya tidak mulus-mulus dan adem-adem saja. Pastinya akan mendapatkan banyak halang dan rintang yang siap menghadang, Para Nabi dan Rasul saja tetap diuji dengan begitu banyak tindakan zhalim, kemalangan, intimidasi, pengusiran, pengasingan, pembunuhan, dan timpaan-timpaan lainnya. Untuk menguji di antara mereka siapakah yang benar-benar sabar dan berjuang di jalan Allah, sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan sungguh, kami benar-benar menguji kamu sehingga Kami Mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu” (QS.Muhammad: 31).”

Ujian adalah sebuah keniscayaan bagi yang tengah berjuang dan menisbatkan diri sebagai pejuang dakwah, menyibak jenggala kebodohan dan semak belukar keterbelakangan masyarakat dalam memahami agama yang mulia ini, Islam Rahmatan lil’aalamiin. Maka seharusnya para pejuang dakwah menyiapkan diri dengan persiapan yang benar-benar matang. Banyaknya timpaan harus siap dihadapi, maka berlakulah karakteristik dakwah yang kedua, katsirul aqabat (banyak timpaannya).

Para pejuang dakwah juga harus memahami bahwa bisa jadi dari begitu banyak orang-orang yang diserunya untuk menjalankan agama ini sebagaimana mestinya, tidak sedikit penolakan yang diterima. Sehingga para pejuang dakwah hendaknya memahami karakteristik dakwah yang ketiga, qilaturrijaal (sedikit orangnya). Tapi, bukan berarti orang-orang yang menjadi pejuang agama ini akan terus-terusan berjumlah sedikit. Mari kita pahami realitas sesungguhnya bahwa bila ingin dakwah ini tersebar ke seluruh penjuru dunia, membutuhkan banyak orang. Belajar dari Sirah Rasulullah SAW, ketika jumlah kaum Muslimin yang terus meningkat pasca peristiwa fathul makkah bahkan sampai pada ekspansi ke Persia, Syria, Mesir, Damaskus, yang memberikan pelajaran pada kita bahwa kaum muslimin terus meningkat karena perjuangan yang tulus dan sungguh-sungguh mengharap ridha Allah SWT.

Dari ketiga karakteristik dakwah tersebut, hendaknya memberi pemahaman yang menyeluruh kita akan keniscayaan kemenangan dakwah ini. Sekalipun para pembuat makar sedang berjuang di layar-layar kita, memenuhi tayangan-tayangan televisi kita dengan ghazwul fiqr bukan berarti kita berdiam diri saja.

Satu kisah lagi dari Sirah Rasulullah SAW tentang kisah kepahlawanan yang benar-benar nyata, ketika di zaman kekhalifahan Amirul Mu’minin, ‘Umar bin Khaththab ra. Kaum muslimin menyadari peta kekuatan mereka yang semakin besar dan merasa perlu untuk menguasai Persia agar agama ini tersebar di seluruh penjuru bumi Allah. Kisah kepahlawanan Qa’qa Ibn Amr At-Tamimi yang memimpin pertempuran di Qaddisiyah selama beberapa hari. Sa’ad bin Abi Waqash yang diamanahkan sebagai panglima perang sedang sakit keras, ia kemudian mengatur strategi perang dan memberikan instruksi dari tempat pembaringannya. Sambil menunggu kedatangan bantuan pasukan Islam yang dipimpin oleh Hisyam Ibn Utbah, Qa’qa Ibn Amr At-Tamimi mengatur pola kedatangan tentaranya yang berjumlah ribuan untuk datang secara bertahap 100 orang dan tiap rombongan 100 orang pasukan Muslim yang tiba di Qaddisiyah agar menjaga jarak, dimaksudkan agar pasukan musuh kemudian menjadi gentar karena mengira bantuan untuk pasukan Muslim terus berdatangan. Dan terbukti, pasukan Persia yang diunggulkan oleh kehadiran beberapa gajah menjadi gentar. Diawali dengan pertempuran satu lawan satu, Qa’qa Ibn Amr At-Tamimi melawan Bahman Jazawiyah dan dimenangkan oleh Qa’qa Ibn Amr At-Tamimi. Musuh sudah gentar duluan dalam alam pikirannya sebelum peperangan fisik yang sesungguhnya. Kaum Muslimin pun berhasil menaklukkan tentara Persia dengan jatuhnya beberapa panglima perang ternama dari Persia, Rustum dan Al-Fairuzan.

Kisah-kisah heroik Islami ini hendaknya disebarkan kepada seluruh orang-orang bahwa memang ada pahlawan yang nyata dan pernah membuktikan keberhasilan serial kepahlawanannya. Bukan para pahlawan fiktif di tayangan kita yang begitu banyak disusupi nilai-nilai sekuler dan liberal. Marilah para pejuang dakwah, turut berjuang di Era Layar ini. Dimulai dengan mencerdaskan diri dalam mengambil setiap hikmah dan ibrah dari kisah-kisah di tayangan televisi kita. Semoga kita termasuk orang yang diberi hidayah oleh Allah untuk senantiasa bersabar terhadap panjangnya jalan ini. Selamat datang di Era Layar!

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.