Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pembelajaran di Sela Waktu Lingkaran

Pembelajaran di Sela Waktu Lingkaran

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com Tarbiyah adalah hal yang kami rindukan di setiap waktu. Tarbiyah membawa kami menjadi sosok yang dibutuhkan, dulu kami adalah orang yang tidak penuh semangat dalam hidup ini, bahkan dulu prestasi kami tidak sehebat yang lain, nilai mata kuliah kami pun masih jauh dari ketentuan nilai baik sehingga mengendorkan semangat kami. Isi hati kami penuh dengan prasangka tidak baik terhadap Sang Pemilik Alam Semesta, bahkan sempat kami terjerumus dalam lubang hitam, kami bukan anak yang mampu berbuat banyak untuk orang lain, bahkan mengurusi diri sendiri pun kami tidak mampu. Ditambah lagi melihat teman seperjuangan sukses menggapai impiannya iri itu semakin membara, sekilas kami pun diam dan bertanya kepada diri, ada apa dengan diri ini? Apa yang membuat kami jatuh seolah-olah kami tidak pantas mendapatkan kesuksesan itu, padahal kami sudah belajar, bekerja keras dengan penuh semangat untuk meraih kesuksesan itu, tapi kenapa sukses itu rasanya masih jauh dari pandangan kami. Hal inilah yang memicu semangat jiwa kami, dan mampu mengelola jiwa-jiwa kami.

Akhirnya untuk melatih kemampuan kami dalam hal mengelola jiwa, kami mengikuti berbagai macam seminar motivasi di luar daerah dengan berbekal kemampuan kami. Alhamdulillah semangat kami timbul pada waktu itu bahkan ide-ide besar pun bermunculan dalam benak pikiran kami, tapi kenapa saat kami pulang ke kampus, kami tidak bisa merealisasikan ide-ide besar yang kemarin kami rencanakan? Padahal jelas kemarin kami langsung diskusikan dengan teman-teman terkait ide-ide besar itu. Tapi nyatanya semuanya tak membuat hasil apapun. Dan kembali pikiran kami seraya bertanya “Ada Apa Dengan Diri Ini?” dosa apa yang membuat kami ini tidak bisa mengembangkan ide-ide kami, bahkan tidak sedi kit kami dianggap kecil oleh orang lain.

Tak berhenti sampai di sini, perjalanan saya pun terus dilanjutkan dengan penuh semangat untuk menggapai impian kami, toh akhirnya Allah lah yang nanti akan memberikan reward yang luar biasa jika kita memang memintanya dan jika tidak, mungkin Allah mempunyai rencana lain yang lebih besar dari yang kita harapakan. Pada akhirnya saya dipertemukan dengan seseorang, beliau masih mahasiswa dari kampus di daerah kami, beliau memberikan selembar pamflet yang berisikan “DAURAH MARHALAH” dan seraya mencari tahu apa itu arti dari pamflet tersebut. Kami pun akhirnya mengikuti kegiatan tersebut. Dengan semangat yang tinggi kami dipertemukan mahasiswa dari daerah lain yang memiliki kompetensi yang luar biasa dibandingkan kami, kami merasa tidak ada nilai lebih di mata mereka. Dan selama 3 hari itu kami belajar bagaimana menggapai kesuksesan. Kita tak bisa menjadi seorang yang sukses jika perjalanan kami masih seperti orang biasa. Nah di sinilah awal kebangkitan semangat jiwa kami. Dari sinilah kami menemukan titik terang, agenda ini membuat kami memiliki kepribadian yang tangguh akan perjalanan yang penuh onak dan duri, perjalanan ini memang tak seindah apa yang kita bayangkan, Allah akan menilai sebuah proses bukan hasil. Subhanallah walau kami tidak saling mengenal tapi jiwa kami menyatu dalam persaudaraan ini, padahal kami hanya 3 hari berbagi pengalaman di sana.

Di sinilah awal dari lingkaran itu sahabat.

Saya dipertemukan lagi dengan seseorang, beliau alumni dari kampus ternama di Bandung. Dari dulu kami ingin masuk kuliah di sana tapi rencana Allah yang menentukan. Dan entah mengapa hati kami tidak berat untuk menolak tawarannya bahwa kami akan memiliki pembina pribadi. Keren kan?? Baru saja kemarin semangat kami dibangun, dan sekarang ditawari pembina pribadi. Subhanallah kembali lagi Allah lah yang menentukan hasil akhir. Dan di sinilah kami dipertemukan dengan orang-orang luar biasa yang memiliki masalah lebih besar dari pada kami, di sinilah pembinaan karakter dibentuk, kami disatukan dalam ikatan ukhuwah, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, kami menyatukan visi misi kami.

Di sinilah kami bisa mengikuti agenda-agenda luar biasa di luar daerah. Dan tak pernah terbayangkan mimpi ini terwujud. Mimpi-mimpi selama di bangku sekolah yang hanya ditulis di selembar kertas. Dan ada catatan mimpi saya salah satunya ketika saya masih di bangku sekolah yaitu ingin mengelilingi pulau Jawa dalam agenda kebaikan dan prinsip saya berubah ketika mengikuti pembinaan ini. Dan hasilnya membawa kami bisa mewujudkan mimpi-mimpi kami dulu yang hanya ditulis di selembar kertas putih, dan kami pun sekarang bisa mencoret-coret mimpi di kertas itu karena mimpi-mimpi itu sudah terwujud. Subhanallah… Inilah inti pembelajaran di sela waktu lingkaran.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Kiki Zakaria
Mahasiswa Manajemen Informatika STMIK Subang, Ketua LDK Mahisa STKIP-STMIK Subang, Sekjen KAMMI Daerah Subang

Lihat Juga

Membentuk Karakter Pemimpin yang Islami Sejak Dini