Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Harta Bukanlah Segalanya!

Harta Bukanlah Segalanya!

ilustrasi, ujian dan fitnah (inet)
ilustrasi, ujian dan fitnah (inet)

dakwatuna.com Berbicara soal harta, sungguh takkan ada habisnya kita mengumpulkan harta. Meski sudah bekerja siang dan malam, banting tulang kesana – kemari, pasti masih saja kita merasa kekurangan dengan jumlah materi yang telah didapat. Padahal meski sudah mati-matian mencari materi, dan memiliki kepuasan saat melihat harta semakin menggunung, barangkali kita malah tak sempat menikmati hasil jerih payah kita sendiri. Lalu untuk apa, ketika materi berlimpah namun tidak dinikmati?

Teringat pula dengan seseorang yang pernah bertemu dengan saya kemudian berkata “Untuk apa buka usaha kalau gak kelihatan hasilnya. Lihat nih saya, meski usaha saya cuma tahunan, tapi omsetnya bisa ratusan juta.” Hmm… Sebenarnya, banyak yang masih beranggapan bahwa ukuran kesuksesan seseorang terlihat dari jumlah materi yang dimiliki. Seberapa banyak tanah yang dimiliki? Seberapa banyak emas, logam mulia, dinar yang menjadi investasi? Juga uang dan saham yang ditanam? Justru semua harta yang dimiliki tersebut malah menjadi beban ‘yang harus dijaga’ dengan sebaik-baiknya.

Okelah.. Kalau memang seseorang yang pernah menemui saya dan berkata demikian memiliki harta yang berlimpah berkat usaha yang digelutinya, namun yang saya ketahui bahwa banyak harta justru membuatnya merasa tidak tenang dengan kepemilikannya, hatinya selalu saja gelisah dan  takut kalau-kalau hal terburuk menimpa hartanya. Lalu, ini kah yang dinamakan kekayaan yang memudahkan segala urusan? Ini kah yang namanya sumber kebahagiaan yang selama ini diburu dengan begitu susah payah? Sayang sekali, ketika apa yang kita perjuangkan dengan segala daya dan upaya justru membebani hidup kita. Apalagi, jika harta banyak yang kita miliki malah membuat kita enggan untuk berbagi. Bukankah pada harta kita ada hak milik orang lain?

Lalu… apa yang menjadi motivasi kita dalam mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya? Coba lihat jalan hidup kita ke depan. Akan berhenti di manakah langkah serta kerja keras kita ini? Dan pada akhirnya semua meyakini, bahwa kehidupan yang dijalani bukanlah akhir melainkan sebuah proses menuju akhir yang abadi, yaitu kematian sebagai gerbang menuju kehidupan kedua yang lebih abadi.

Kalau sudah begini, akan di kemanakan segala materi yang telah ditumpuk sepanjang usia kita? Akankah semuanya berarti untuk kehidupan kedua kita? Padahal kesemuanya itu akan ditinggalkan, dan yang melekat hanyalah lembaran kain kafan yang menempel di tubuh kita.

Sungguh, kekayaan sejatinya adalah yang dibawa sebagai bekal untuk hidup yang lebih abadi. Ialah apa yang kita infaqkan, sedekahkan, serta dermakan di jalan kebaikan semata-mata ingin mendapat ridha Allah Swt. Coba kita renungkan, apakah harta maupun materi yang selama ini kita perjuangkan dengan penuh kepayahan, membuat kita semakin banyak beramal? Ibarat kita sedang menabung dengan konsisten, maka tabungan yang kelak kita miliki akan semakin banyak. Sementara apa yang ada di genggaman kita kapan saja bisa jadi hilang, raib dan musnah. Betul khan?

Lantas, apa salah jika kita memiliki keberlimpahan dalam materi maupun harta benda? Tidak ada yang salah jika memang Allah menakdirkan kita memiliki itu semuanya, namun janganlah lupa, bahwa harta hanya titipan sementara. Justru dengan harta berlebih itulah, yang harus membuat kita lebih banyak berbuat kebaikan dan memberi manfaat bagi sesama. Sama halnya ketika kita baru terlahir ke dunia ini; telanjang dan tanpa sehelai kain pun maka kelak ketika kita pulang ke Sang Pemilik, kita pun dalam keadaan telanjang hanya berbalut selembar kain kafan.

Dan yang perlu diperhatikan juga, apakah harta yang kita miliki itu merupakan dari sumber yang halal dan terpuji atau melalui cara yang salah dan haram? Banyak orang yang memimpikan untuk mendapatkan harta dan kekayaan secara instan. Segala macam cara dilakukan, sikat kiri-hantam kanan, tak peduli saudara dan tak menghiraukan teman, tendang bawahan-jilat atasan, yang penting harta cepat berpindah tangan. Padahal semakin banyak harta yang dikumpulkan, maka semakin banyak pula kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi untuk menjaga hartanya. Ibarat sebuah pepatah, menikmati harta bagaikan orang yang minum air laut, semakin banyak air laut diminum maka rasanya semakin haus saja.

Maka dari itu, sebagai manusia sudah sepantasnya untuk bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki selama ini. Harta hanyalah satu dari sekian juta nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Masih banyak nikmat-nikmat lain yang tak kalah pentingnya daripada sebuah harta. Yaitu nikmat sehat, nikmat yang tak bisa dibandingkan dengan apapun. Apalah artinya rumah megah kalau badan kita sendiri dalam keadaan sakit? Kaya harta tidaklah lebih mulia bila miskin hatinya, tetapi miskin harta adalah lebih baik asalkan kaya akan hati.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Baju Hijau Lumut Anakku