Home / Berita / Opini / Menang atau Kalah, Skenario Allah Akan Terus Berjalan

Menang atau Kalah, Skenario Allah Akan Terus Berjalan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kemenangan (inet) - jawaban.com
Kemenangan (inet) – jawaban.com

dakwatuna.comKegaduhan politik terkait suksesi kepemimpinan nasional telah berakhir di ujung palu Ketua Mahkamah Konstitusi. Kehendak Allah telah tersingkap. Dua keadaan nasib yang bertolak belakang kini mengemuka, ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang senang dan ada juga yang kecewa. Semua harus ridha dengan kehendak Yang Maha Kuasa, namun selangkah pun tak boleh mundur untuk berjuang melawan ketidakjujuran dan ketidakadilan. Siapapun presidennya tak menjadi soal, yang penting negeri tetap damai dan kita dapat beraktivitas dengan aman. Inilah hajatan nasional yang paling banyak melibatkan dua poros kepentingan-kepentingan yang berbeda dan paling banyak memenuhi langit dengan pertarungan doa-doa yang saling bertentangan dan berakhir dengan satu kehendak Allah yang harus diterima oleh setiap hamba.

Bagi yang menang, maka jangan terlampau senang. Bagi yang kalah, maka jangan terlampau sedih karena setiap ujian dan cobaan selalu menjadi kabar pengantar tentang akan datangnya plot kehidupan berikutnya, yakni skenario yang menyedihkan dan skenario yang membahagiakan. Keduanya akan silih berganti. Itulah dinamika kehidupan manusia yang sudah menjadi sunnatullah.

Telah berakhirkah skenario Allah atas perkara ini? Wallahu a’lam.

Ketika Fir’aun menduduki tahta kekuasaannya, apakah kisah tentangnya berakhir sampai di situ?

Ketika Namrudz sukses berakrobat menunjukkan kesombongannya dengan menebas leher-leher para budaknya, apakah ceritanya selesai sampai di situ?

Ketika Tancredo Nevez berhasil memuncaki perolehan suara pilpres Brazil pada era 80-an, apakah dia sempat menikmati kekuasaan yang dia idam-idamkan itu?

Sungguh sangat dramatis ketika menyimak episode terakhir kehidupan mereka. Mereka bertiga berakhir dalam kehinaan.

Sungguh cerita-cerita tentang mereka mengandung hikmah dan pelajaran bagi kehidupan kita di zaman sekarang. Terlebih lagi bagi mereka yang diuji dengan kenikmatan demi kenikmatan. Tersimpan pesan-pesan maknawi di balik setiap ujian kenikmatan yang dianugerahkan Allah kepada setiap hambanya. Patutlah kiranya kita bermuhasabah tentang sikap diri selama ini ketika nikmat itu tercurah kepada kita. Berapa banyak kita saksikan mereka yang diulur oleh Allah dengan dunia berupa harta dan kedudukan, namun ternyata itulah cara Allah membuat kehinaan dan kebinasaan bagi siapa yang Dia kehendaki tanpa mereka sadari.

Maka serahkanlah (Ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh” (QS. Al Qalam : 44-45).

Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin ‘Aamir RA, “Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj“.

Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat 44 dari QS. Al An’aam, yang artinya “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa” (HR Ahmad no. 17349 dan dishahihkan Al Albani di As Silsilah Ash Shahihah no. 414).

Apa artinya kemenangan dan kekalahan?

Kemenangan bagi seseorang atau bagi sekelompok orang kerap dianggap sebagai sebuah kehormatan dan jalan menuju sebuah kemuliaan. Bila standar moralnya adalah ukuran-ukuran yang bersifat duniawi maka tampaknya memang demikian. Namun ada makna yang tak terjangkau oleh sisi batin kita dalam perkara itu. Seorang pejabat yang berhasil meraih jabatan yang dikejarnya, ternyata justru jabatan itu menjadi awal dari malapetaka yang mengantarkannya ke penjara. Seorang alim yang menjadi kaya dan terkenal ternyata di puncak ketenarannya justru menjadi pengantar pada kehidupanya yang penuh fitnah. Kemenangan di dunia terkadang atau bahkan selalu membuat pemiliknya menjadi buta batinnya, lemah ruhaninya, dan goyah imannya karena terpedaya oleh kesenangan. Itulah kejamnya dunia bagi mereka yang terhempas dari jalan Tuhannya. Karena kemurkaan Tuhan boleh saja menghendaki kehancuran hamba-Nya pada kekalahan yang pahit dan boleh jadi juga Dia menghendaki kehancuran itu dengan kesenangan-kesenangan sebagai awal dari kehancuran jangka panjang.

Seorang pemenang juga sebenarnya sedang merepresentasikan keadaan orang-orang yang memenangkannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, Rasulullah menyatakan bahwa  kondisi pemimpinmu mencerminkan kondisi rakyat yang dipimpinnya.  ( Kamaa Takunu Yuwalla ‘alaikum). Jadi, bila karakter pemimpinnya buruk maka itulah kondisi dominan rakyat yang memilihnya. Kita hanya bisa bersabar atas keburukan pemimpin dalam ketaatan kita kepadanya dan tetap mendoakan kebaikannya.

Kekalahan bagi setiap orang sering kali dianggap sebagai sebuah bentuk kehinaan, padahal boleh jadi Allah sedang menyelamatkannya dari bencana yang lebih besar dari musibah kekalahan yang dideritanya. Nasib kekalahan yang menimpa orang beriman seharusnya tidak mengundang prasangka buruk kepada Allah. Kesabaran menjadi jalan utama untuk menjemput kabar gembira dari Allah SWT.

Pesan maknawiyah dibalik kemenangan dan kekalahan begitu sulit untuk ditebak. Kita tidak berhak untuk menentukan apakah suatu kemenangan menjadi bab awal dari kemuliaan atau justru kehinaan seseorang. Begitu pula dengan suatu kekalahan yang tak dapat divonis sebagai sebuah kehinaan, karena boleh jadi kekalahan itulah yang menjadi sumber kemuliaannya di sisi Tuhannya. Kita hanya dapat mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu serta mengambil hikmah dari setiap skenario Allah dalam rangkaian dinamika kehidupan yang kita jalani. Husnudzan adalah sikap batin yang paling baik dilakukan agar Allah senantiasa memberikan taufik-Nya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 7,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nanang Masaudi, S.Pd
Guru Madrasah

Lihat Juga

Beginilah Seorang Muslim Memaknai Kemenangan