Home / Berita / Opini / Menanamkan Kembali Nasionalisme Pada Generasi Muda

Menanamkan Kembali Nasionalisme Pada Generasi Muda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.comHari Minggu tanggal 17 Agustus 2014 merupakan hari penting dan spesial bagi bangsa Indonesia. Pada hari itu rakyat Indonesia memperingati dan merayakan HUT RI yang ke 69. Hal ini berarti bahwa 69 tahun yang lalu negeri ini telah memproklamirkan kemerdekaan pada dunia, dan menyatakan terbebas dari belenggu penjajahan yang menghinakan. Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari bangsa penjajah  atau pemberian cuma-cuma dari bangsa penjarah namun merupakan buah manis dari perjuangan yang maksimal dan pengorbanan yang tulus para pejuang dan segenap rakyat Indonesia. Genangan darah dan linangan air mata sebagai bukti rasa nasionalisme yang bersemayam dalam dada para pejuang untuk membela dan membebaskan negeri dari segala bentuk perbudakan atau penindasan.

Dengan semangat “ jihad fisabillillah” dan “teriakan takbir” mereka mengangkat senjata tanpa gentar menghadapi penjajah agar hengkang dari penjuru nusantara. Alhasil berkat rahmat Tuhan Yang Esa, Soekarno dan Hatta mengucapakan proklamasi yang membahana di negeri yang tercinta ini. Sebagai tanda dimulainya era baru bagi bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa terikat dari Negara lain. Yang lebih membahagiakan lagi… hari kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan yang penuh berkah. Hal ini memberi makna bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan karunia dari Allah Swt yang harus kita syukuri.

Serangkaian acara dalam memperingati dan merayakan hari kemerdekaan, digelar di negeri ini seperti upacara bendera, ziarah ke makam pahlawan, karnaval atau pawai alegoris, hiburan rakyat dan perlombaan bahkan ada yang menyelenggarakan acara “Tabligh Akbar” dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan dan mendoakan arwah para syuhada agar tenang di sisi Yang Maha Kuasa. Selama tiga hari bendera merah putih dikibarkan di rumah-rumah, di kantor pemerintahan dan kantor swasta menghiasi suasana indah menyambut hari kemerdekaan yang penuh bahagia. Umbul-umbul berwarna-warni berdiri sepanjang jalan turut serta memeriahkan dirgahayu kemerdekaan Indonesia. Pokoknya suasana yang hadir selama memperingati HUT RI adalah suasana patriotik yang mempesona.

Namun demikian, apakah dengan peringatan hari kemerdekaan selama ini sudah meningkatkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia terutama generasi mudanya? Atau justru peringatan itu hanya sebatas seremonial belaka yang tidak memberi makna dan pengaruh yang kuat pada generasi muda (pelajar dan mahasiswa) kita? Yang jelas dalam kehidupan nyata, nilai-nilai nasionalisme sudah mulai memudar di kalangan generasi muda, tergerus oleh kemajuan zaman yang memperdaya. Contohnya mereka tidak tertib dalam upacara bendera, tidak semangat dalam menyanyikan lagu perjuangan, meremehkan bendera merah putih, lebih mencintai produk luar negeri dan tidak siap berkorban jiwa raga untuk membela negara tercinta. Hal ini merupakan masalah kebangsaan yang mendasar yang harus segera dicarikan solusinya agar Indonesia tetap utuh sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Untuk itu perlu adanya usaha maksimal dalam menanamkan kembali nilai-nilai nasionalisme pada generasi muda sehingga mereka siap melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan .

Harapan pada Generasi Muda

Sejarah mencatat dengan tinta emas tentang kepeloporan dan peran aktif pemuda atau generasi muda dalam menghadapi setiap penjajahan dan penindasan. Pikiran yang jernih, tekad yang kuat dan semangat yang membara menjadikan pemuda berada pada front terdepan dalam setiap aksi menentang kezaliman dan penindasan. Ketika Rasulullah Saw mengemban risalah dakwah, “memerdekakan” umat dari belenggu kesesatan dan rantai kebodohan, beliau juga dalam usia muda. Sahabat setia (Assabiqunal Awalun) yang turut dalam gerakan pembaharuan (reformasi) yang dipimpin Rasulullah Saw, juga berusia muda bahkan Ali Bin Abi Thalib pada waktu itu berusia belasan tahun.

Demikian juga halnya, Bung Karno dan Bung Hatta yang dalam usia muda, mampu memproklamirkan kemerdekaan atas nama seluruh Rakyat Indonesia. Mereka menggelorakan semangat anak muda untuk berada dalam barisan terdepan menentang penjajah demi mendapatkan kemerdekaan yang hakiki. Begitulah peran pemuda dalam setiap kurun waktu dalam perjalanan panjang kehidupan manusia. Masa depan negeri sangat ditentukan oleh kualitas pemuda atau generasi muda saat ini. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan “the young today the leader tomorrow“, demikianlah ungkapan penting yang menggambarkan peran pemuda di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan generasi muda untuk dapat memimpin negeri ini dengan amanah, yaitu generasi muda yang cinta pada tanah air dan setia setiap saat dalam membela negerinya. Menghormati para pejuang dan menghargai jasa-jasanya. Bangga sebagai orang Indonesia dan berusaha membanggakan negaranya dengan prestasi yang gilang gemilang. Berusaha memberikan yang terbaik pada negaranya dengan belajar sungguh-sungguh dan selalu berkarya untuk nusa dan bangsa. Memiliki sikap patriotik, disiplin, siap berjuang dan rela berkorban. Itulah di antara nilai-nilai nasionalisme yang harus dimiliki generasi muda sehingga mereka berhak memikul amanah dalam memimpin bangsa yang besar ini.

Usaha Menanamkan Nilai-nilai Nasionalisme

Menanamkan dan memelihara nilai-nilai nasionalisme sebagaimana yang dikemukakan di atas, pada diri generasi muda tidaklah mudah karena keadaan psikologinya yang masih labil dan pengaruh negatif yang amat dahsyat. Namun demikian kita harus bekerja keras dan saling bahu membahu untuk mewujudkan niat mulia ini. Di sinilah, peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan sekali untuk kembali menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada generasi muda.

Sebagai orang tua, kita harus menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada anak sejak usia dini dan tetap memeliharanya sampai mereka menjadi anak muda. Semenjak kecil memang sudah ditanamkan pada dirinya sikap disiplin, rasa tanggung jawab, membela kebenaran dan rela berkorban. Sikap dan sifat ini merupakan fondasi kuat dalam menanamkan nilai-nilai nasionalisme dalam artian yang luas lagi.

Guru juga sangat berperan dalam menanamkan dan memelihara nilai-nilai nasionalisme pada anak didiknya. Melalui pelajaran KWN dan PAI, guru dapat menyakinkan anak didik akan pentingnya jiwa nasionalisme dalam membangun bangsa dan negara. Upacara bendera yang diadakan setiap hari Senin hendaknya mampu menanamkan nilai-nilai nasionalisme. Seluruh guru harus dapat menjadikan wadah ini semaksimal mungkin untuk mendidik dan melatih anak didiknya agar menghargai jasa-jasa pejuang yang telah mengorbankan jiwa raganya dalam merebut kemerdekaan. Nah, kedisiplinan dan keseriusan dalam mengikuti upacara bendera merupakan hal yang mendasar untuk terwujudnya nasionalisme yang lebih luas pada diri anak didiknya. Selamat berjuang.. merdeka!!

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 4,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Drs. Dedi Irwan
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Refleksi Sumpah Pemuda: Empat Modal yang Harus Dimiliki Pemuda