Home / Berita / Nasional / Tiga Organisasi Silaturahim Membahas Maraknya Propaganda LGBT

Tiga Organisasi Silaturahim Membahas Maraknya Propaganda LGBT

Silaturahim AILA Indonesia, ITJ, dan GENAM di Rumah Damai Indonesia (RDI), Selasa (19/8/2014), yang membahas tentang maraknya propaganda LGBT. (ist)
Silaturahim AILA Indonesia, ITJ, dan GENAM di Rumah Damai Indonesia (RDI), Selasa (19/8/2014), yang membahas tentang maraknya propaganda LGBT. (ist)

dakwatuna.com Tiga organisasi masing-masing Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, #IndonesiaTanpaJIL (ITJ), dan Gerakan Anti Miras (GENAM) yang didirikan oleh Fahira Idris, mengadakan acara silaturahim, Selasa, (19/8/2014) di Rumah Damai Indonesia (RDI), Jakarta. Silaturahim ini digalang untuk menanggapi propaganda LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transenden) yang kian marak dan berkembang di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Fahira berpendapat bahwa propaganda LGBT sangat meresahkan, sebab selalu mengatasnamakan HAM atau kemanusiaan dengan landasan ideologi sekularisme. “Sejak dahulu Indonesia adalah negeri yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan atau HAM juga harus ditafsirkan berdasarkan nilai-nilai agama, bukan dengan ideologi sekularisme,” kata Fahira.

Namun Fahira menegaskan bahwa dirinya bukan menolak LGBT dan menganggapnya sebagai musuh, dia hanya menolak propaganda LGBT. “Banyak yang merasa saya memusuhi kaum LGBT ini. Sebenarnya tidak. Pada kenyataannya, mereka ada di antara kita, dan kita tidak menganggapnya sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Akan tetapi propagandanya harus dicegah, dan kita semua berkepentingan untuk melindungi keluarga kita masing-masing,” ungkapnya.

Sikap Fahira yang menolak kekerasan dalam bentuk apa pun kepada kaum LGBT didukung oleh Rita Soebagio peneliti bidang psikologi yang juga aktif di AILA. Rita mengatakan bahwa memojokkan kaum LGBT bukan pilihan yang baik. “Permasalahan seksualitas ini adalah masalah yang sensitif dan kompleks bagi siapa saja. Jika kita menekan kaum LGBT ini, mereka justru akan bersikap defensif dan mencari pembenaran,” ungkap Rita.

Peggiat AILA lainnya, Tetraswari, menambahkan, sikap defensif ini dilakukan karena kaum LGBT tidak mau mengakui bahwa kecenderungan seksualnya adalah sebuah penyakit yang bisa disembuhkan, dan mereka senantiasa merasa akan diserang. Oleh karena itu, menurutnya strategi dakwah yang lebih halus harus digunakan. “Kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa mereka bisa sembuh dari kecenderungan ini, dan kita ingin mereka sembuh justru karena kita menyayangi mereka,” ujar Tetraswari.

Menurut Dr. Dinar D Kania, peneliti yang juga giat di AILA, kecenderungan untuk bersikap defensif di kalangan LGBT ini juga tidak terlepas dari pengaruh politik dan media. Dinar mengingatkan bahwa ada masalah besar yang dikenal dengan sebutan ‘gay politics’. Secara sederhana, gay politics adalah langkah-langkah politis yang dilakukan untuk melegitimasi perilaku LGBT dan menekan siapa saja yang menentangnya.

Sementara itu Sabriati Aziz, pengelola Ponpes Hidayatullah, Depok, yang juga aktif di AILA, berpandangan bahwa edukasi terhadap seluruh elemen masyarakat adalah kunci permasalahannya. “Banyak di antara mereka yang tidak terjebak dalam LGBT namun membelanya karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai, baik dalam hal agama maupun yang lainnya,” ujar Sabriati.

Menyambut seluruh masukan tersebut, ITJ menyatakan siap melakukan mengedukasi kepada masyarakat. “Selama bulan September hingga November tahun ini, insya Allah ITJ akan menggelar Sekolah Pemikiran Islam. Pesertanya diambil dari para aktivis dakwah kampus di wilayah Jabodetabek. Salah satu materi yang diberikan adalah seputar konsep gender, yang merupakan pangkal permasalahan wacana LGBT ini,” ungkap M. Irfan Nail, ketua penyelenggara Sekolah Pemikiran Islam (SPI) ITJ.

Sementara itu Akmal Sjafril Ketua Divisi Litbang ITJ mengatakan, “Pendidikan di sekolah-sekolah tidak membiasakan kita untuk menulis. Akibatnya, Indonesia mengalami krisis literasi,”

“Kultur semacam itulah yang ingin kita ubah di SPI ITJ. Seluruh peserta, selain wajib mengikuti perkuliahan, juga akan mendapatkan tugas menulis yang banyak. Setelah menyelesaikan rangkaian perkuliahan, diharapkan kita akan mendapatkan sejumlah mujahid dakwah yang bukan hanya mempunyai ilmu yang cukup, namun juga siap melawan propaganda dengan media lisan maupun tulisan,” tambah Akmal.

AILA Indonesia yang merupakan aliansi yang beranggotakan lebih dari tiga puluh ormas ini beranggapan bahwa problem LGBT telah merusak tatanan keluarga di Indonesia. Senada dengannya, ITJ juga memandang bahwa propaganda LGBT dilakukan atas dasar ideologi sekularisme dan liberalisme yang sepenuhnya bertentangan dengan pribadi bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, telah beredar sebuah buku komik anak-anak yang menghalalkan hubungan sesama jenis. Buku yang berjudul “Why? Puberty” tersebut akhirnya ditarik kembali oleh Elex Media Komputindo yang menerbitkannya, setelah ramai penolakan dari masyarakat. Penolakan tersebut memuncak di media sosial pada hari Rabu (6/8/2014). Masyarakat mengecam buku tersebut karena berpontensi merusak moral anak-anak Indonesia. (dakwatuna/hdn)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

LGBT, Humanisme, dan Penjerumusan Umat Manusia