Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Merancang Kematian

Merancang Kematian

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Sahabat badui itu menghadap Rasulullah, ditatapnya beliau penuh cinta sambil berkata “Duhai Rasulullah, bukan karena ini aku ikut berperang bersamamu. Demi Allah bukan karena ini. Akan tetapi, aku mengikutimu karena aku ingin agar suatu hari nanti aku terkena lemparan panah disini – sambil menunjuk lehernya- sehingga aku terbunuh dan masuk Jannah”.

Peristiwa tersebut saat para sahabat membagi-bagikan ghanimah yang memang berhak mereka terima usai sebuah peperangan. Yang lain menerima dengan suka cita, tapi tidak dengan sahabat badui ini. Ia malah menegaskan bahwa bukan itu yang menjadi orientasinya selama ini. Rasulullah kemudian bersabda “Jika engkau jujur kepada Allah, maka Allah akan membenarkan”

Tak lama sesudah itu, ia pun syahid dalam sebuah peperangan sesuai dengan kondisi yang ia cita-citakan: terkena anak panah di leher.
Rasanya sudah terlalu sering kita mendengar tentang strategi merancang kehidupan, bagaimana merencanakan hidup di dunia dengan berbagai macam target, usia sekian lulus kuliah, usia sekian menikah, usia sekian harus punya rumah. Too many dunya stuffs in our life. Tapi seberapa sering kita merencanakan kematian? Seberapa sering kita meminta pada Allah untuk kelak dimatikan dalam kondisi spesifik seperti yang diminta oleh sang sahabat badui?

Kematian, seperti halnya kehidupan, adalah rahasia Allah. tidak ada yang tahu kapan datangnya. Tapi bukankah kita bisa memohon pada Allah untuk kelak mematikan kita dengan cara yang paling kita inginkan. Lihatlah permintaan Syaikh Ar Rantisi “Kita semua akan mati, baik karena serangan jantung atau karena Apache -pesawat tempur Israel- , dan aku memilih untuk mati karena dirudal oleh apache”. Sejarah mencatat, tubuhnya memang akhirnya koyak, hancur lebur karena rudal Israel. Namun bibirnya tersenyum, karena memang itulah cita-citanya yang tertinggi.

Merancang kematian akan membuat kita semakin zuhud terhadap dunia, menyadari betapa fananya kenikmatan di sini, bahwa semua pada waktunya nanti akan berakhir. Merancang kematian akan membuat kita akan semakin bersemangat beramal shalei. sang sahabat badui begitu optimis menyambut seruan jihad karena memang ada yang ia kejar di tengah hunusan pedang dan gempuran anak panah, Syaikh Ar Rantisi dengan gigih, tak kenal henti mengobarkan perlawanan terhadap bangsa Israel karena ada yang ia inginkan dari rudal-rudal apache.

Sadarlah, bahwa kematian adalah satu-satunya hal yang pasti dalam kehidupan kita di dunia. Jadi, bagaimana engkau ingin dimatikan oleh-Nya?

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 7,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Bila Esok Meninggal