Home / Narasi Islam / Sosial / Menyayangi Anak Yatim

Menyayangi Anak Yatim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com  ”Bila engkau ingin agar hati menjadi lembut dan damai serta mencapai yang diinginkan, sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah dia makanan seperti yang engkau makan. Bila itu engkau lakukan, niscaya hatimu akan menjadi tenang serta menjadi lembut…” (HR.Thabrani).

Rasulullah SAW adalah sosok panutan yang sudah selayaknya kita contoh dalam akhlak dan perbuatan yang beliau lakukan pada kehidupan kita sehari-hari. Salah satu yang perlu diteladani pada sosok yang satu ini adalah kecintaannya pada anak-anak yatim. Anak-anak yang tumbuh tanpa naungan dan kasih sayang seorang ayah, serta minus secara ekonomi karena menurunnya tingkat kesejahteraan saat ditinggalkan oleh tulang punggung keluarga.

Seperti di suatu ketika, saat hembusan angin pagi bertiup dengan lembutnya kala hari raya Idul Fitri itu tiba. Rasulullah SAW bersilaturahmi dan mengunjungi tiap rumah di sekeliling kota. Bertatap muka, saling bertegur sapa dan tak lupa pula mendoakan kebaikan untuk mereka selaku umatnya. Bahagia tentu amat mereka rasakan di hari yang indah tersebut, terutama anak-anak. Semuanya bergembira usai satu bulan mereka berpuasa. Namun di tengah suasana kegembiraan tersebut nampak seorang anak perempuan kecil nan kurus, berpakaian penuh tambalan serta bersepatu lusuh sedang bersedih di ujung jalan. Wajahnya tertunduk menangis pilu hingga kedua tangannya pun ditelungkupkan menutupi kesedihan paras mukanya.

Segera Rasulullah SAW menghampirinya dan membelai lembut kepala sang anak kecil tersebut. Rasul pun bertanya penuh perhatian padanya: “Wahai anakku, mengapa di hari raya ini engkau bersedih?”. Karena dalam rasa sedih yang ia rasakan, iapun masih enggan untuk sekadar melihat sosok yang bertanya padanya. Dengan terbata-bata sambil sesekali menahan isak tangis, iapun menjawab:
“Di hari raya ini, semua anak ingin bermain bersama orang tuanya dan bermain dengan riang gembira. Tentu setiap anak menginginkan itu. Akupun demikian. Namun hal tersebut tak dapat kulakukan. Ayahku telah tiada, meninggal dalam suatu peperangan bersama Rasulullah”.
“Dulu ayahku pernah membelikanku gaun hijau dan sepatu baru. Namun kini sudah tak bisa lagi. Aku menjadi yatim dan aku sangat sedih mengingat kepergiannya”.

Mendengar ceritanya, Rasulullah pun merasakan kesedihan yang sama. Iba melihat kepiluan sosok sekecil itu sudah ditinggalkan ayah tercinta untuk selama-lamanya. Sambil terus membelai kepala anak itu dengan penuh kasih sayang, Rasulullah pun berkata padanya:
“Wahai anakku, janganlah bersedih lagi dan hapuslah air matamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu, Fatimah menjadi kakak perempuanmu dan ‘Aisyah menjadi ibumu?”.

Pertanyaan yang tiba-tiba membuat anak kecil itu tersentak. Iapun segera mengangkat wajahnya dan memandang pada sosok yang bertanya padanya itu. Nampak wajah teduh penuh kasih sayang yang kini hadir di sisinya penuh kemuliaan. Rasulullah, ya, itu Rasulullah. Masya Allah. Betapa kagumnya ia sambil mengurai tetes air mata yang tersisa di wajahnya. Sosok panutan seorang ayah yang telah lama ia rindukan kini telah hadir. Kebahagiaan pun tiba-tiba merasuk dalam qalbu si anak kecil itu. Dalam hati kecilnya ia teramat bahagia dengan tawaran dari seorang nabi agar ia bisa menjadi ayah baginya. Anak kecil itupun tersenyum dan mengangguk. Gembiranya hati saat sosok yang amat dihormati seantero kota, kini menjadi peraduan lembut nan perhatian sebagai seorang ayah.

Kemudian mereka berduapun menuju rumah Rasulullah. Sesampainya di sana, iapun dibersihkan, disisir rambutnya, diberikan makanan terbaik, dikenakan pakaian terbaik dan diperlakukan layaknya anak terbaik yang ada di kota itu. Usai itu, iapun diantar keluar untuk bermain bersama anak-anak lain dan merasakan riuh riang gembira yang sama.

Kegembiraan sosok kecil yang tiba-tiba membuat banyak orang terperangah. Tidak hanya anak-anak, tapi juga orang tua yang ada di sekitar mereka. “Wahai anak kecil, mengapa kamu begitu bahagia di hari ini”, Tanya mereka. “Ayahku telah tiada, tapi kini aku memiliki ayah lagi. Aku sangat bahagia karena Rasulullah menjadi ayahku. Fatimah kini juga menjadi kakakku, ia yang menyisir rambutku dan mengenakanku pakaian yang indah ini”.

Kebahagiaan kini tak hanya menjadi milik anak-anak yang memiliki orang tua yang lengkap saja. Namun di hari nan fitri sang anak kecil yatim itu pun dapat merasakan hal serupa. Riuh riang gembira sebagai anak yang bahagia. Tak hanya pakaian bagus dan makanan enak yang ia dapatkan. Namun juga kebahagiaan karena telah menjadi anggota baru dalam kehidupan Rasulullah SAW sebagai seorang anak.
Inilah contoh terbaik yang langsung diajarkan oleh nabi akhir zaman kepada ummatnya. Menebar kebaikan dimanapun, kapanpun, serta menerima siapapun apa adanya. Ketulusan yang mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan dan cinta yang membuat manusia menjadi lebih istimewa. Itulah qudwah hasanah dari seorang Muhammad Rasulullah SAW. Menyayangi dan mencintai anak yatim sepenuh hati tanpa membedakan mereka dari anak lainnya. Semoga kita bisa menteladani sikap baik tersebut. Insya Allah.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Azies Rachman, S.E.I
Seorang hamba Allah yang sangat ingin menginjakan kaki di syurga tertinggi. S2 Magister Ekonomi Islam Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) DDII-BAZNAS. Sharia Financial Planner.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: rawmavy.deviantart.com)

Menyayangi Dengan Cara yang Berbeda