Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perpaduan Ilmu Agama dan Ilmu Negara

Perpaduan Ilmu Agama dan Ilmu Negara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Kata yang pertama terlintas, jika ada pemisahan antara hubungan ilmu agama dan ilmu negara; ialah kata sekularisme. Pemisahan antara ilmu agama dan ilmu negara, pada dasarnya berdampak pada dekadensi moral sebuah negara. Karena nilai inti dari adanya peran agama dalam negara ialah:
1. Menciptakan negara bermoral, yang berakar dari kemantapan akhlak,
2. Menciptakan negara harmonis, yang berakar dari kepahaman hak & kewajiban tiap individu maupun kelompok dalam berinteraksi,
3. Menciptakan negara yang beretos kerja tinggi, yang berawal dari keikhlasan dalam beramal,
4. Menciptakan negara bahagia, yang berakar dari kebersyukuran dalam berproses.

Ulama islam mengatakan “Almulku bid dini yabqo..”. Yang artinya, kekuasaan (negara) akan lebih kekal jika berlandaskan agama. Karena memang asas kebutuhan lah yang membuat negara membutuhkan agama. Bukan sebaliknya.

Negara yang selalu menggunakan power dalam menjalankan roda pemerintahan, membutuhkan elemen penggerak yang kuat. Dan sejarah peradaban membuktikkan, bahwa belum ada elemen penggerak yang lebih kuat daripada agama dalam menjalankan roda pemerintahan. Hal ini wajar, jika mau menyadari sejauh mana agama mengatur gerak hidup pemeluknya. Adanya pemahaman kehidupan dunia & kehidupan akhirat dalam Islam, tentu men-drive para pemeluknya untuk mengejar cita akhirat dibandingkan cita dunia.

Dari penjelasan singkat tersebut, sangat jelas bahwa setiap muslim harus mempelajari ilmu agama dan ilmu mengelola negara. Karena ilmu agama itu bagaikan pondasi dasar bangunan, sedangkan ilmu negara ialah temboknya. Dan atap yang kokoh akan tercipta, ketika agama dan negara sudah bersinergi. Serta berjalan beriringan.

Dikarenakan ilmu agama ‘berperan’ sebagai pondasi dasar. Tentunya ilmu agama harus didahulukan dibanding ilmu mengelola negara. Karena akan terlihat lucu jika; “ada tembok bangunan yang terlihat kokoh nan megah, tapi dapat rubuh karena diterpa angin sepoi-sepoi”. Intinya, semua perpaduan antara ilmu agama dan ilmu negara mutlak dikuasai dalam kepemimpinan.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Pembelajar Sejati