Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Agar Guru Tak Menjadi Traumatic Maker Bagi Anak

Agar Guru Tak Menjadi Traumatic Maker Bagi Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Oknum Guru sedang menghukum seorang siswa (inet)
Oknum Guru sedang menghukum seorang siswa (inet)

dakwatuna.com Ini bukan cerita rekaan tapi sebuah kenyataan di mana perlakuan seorang guru yang kurang tepat kepada anak didiknya bisa berdampak negatif dan tak jarang berakibat trauma jangka panjang bagi anak.

Seorang teman sangat takut dengan pelajaran bahasa Inggris karena sewaktu duduk di bangku SLTP ia selalu diledek, dikatakan bodoh oleh gurunya bahkan dipukul jika dia salah dalam mengerjakan tugasnya. Hal tersebut pada membuatnya sangat benci kepada gurunya dan juga kepada pelajaran bahasa Inggris. Sampai menjadi mahasiswa, dia sangat tak suka dengan pelajaran bahasa inggris. Ia menyandang gelar sarjana dengan nilai bahasa inggris yang pas-pasan.

Cerita lain, seorang teman sangat benci dengan pelajaran matematika karena guru yang mengajarkan matematika sangat “killer” dan selalu memasang muka sangar saat berada di dalam kelas. Cara mengajar sang guru sangat monoton dan ketika murid tak banyak yang mengerti, mereka harus kena hukuman dari sang guru. Barangkali perilaku sangar guru seringkali karena mereka menuntut penghormatan dari murid-muridnya. Berharap disegani oleh siswa. Namun apa hendak dikata, justru cibiran yang didapat. Penghormatan yang mereka harapkan justru berakibat anak-anak makin tak hormat dan tak jarang melahirkan trauma tersendiri bagi murid. Baik trauma terhadap diri pribadi sang guru juga kepada mata pelajaran yang diampu oleh sang guru.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan trauma sebagai keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani.

Menurut hemat penulis, hal-hal yang bisa berakibat trauma bagi anak di antaranya yaitu:

Pertama, pemberian label kepada anak (labelling). Teori labelling sangat ampuh untuk membuat anak trauma. Kata “bodoh” yang kadang disematkan oleh guru karena anak agak lambat memahami suatu mata pelajaran misalnya akan membuat anak terus-terusan menganggap dirinya bodoh dan melemahkan mereka karena dalam otak anak sudah terekam label diri sebagai “anak bodoh”.

Kedua, penerapan hukuman. Hukuman sangat baik untuk memberikan efek jera bagi pelanggaran yang dilakukan anak. Namun dalam pemberian hukuman guru harus benar-benar jeli mempertimbangkan jenis hukuman yang akan diberikan ke anak. Agar efek jera yang diharapkan muncul bukan malah menjadikan hukuman sebagai pelampiasan emosi guru yang bisa berdampak memunculkan trauma bagi anak. Guru harus jeli dan sebisa mungkin menghindari hukuman fisik bagi anak apalagi jika diberikan di depan umum. Hukuman semestinya menjadi pilihan terakhir setelah guru mendalami karakter dan kebiasaan anak melalui pengamatan dan juga kerja sama dengan orang tua siswa. Seperti disampaikan Dr. Abdullah Nashih Ulwan, seorang pakar pendidikan anak. Ada lima tahap dalam mendidik anak yaitu keteladanan, adat, nasihat, perhatian dan hukuman. Hukuman dalam pendidikan memang ada namun menjadi pilihan terakhir setelah berbagai macam langkah ditempuh. Itupun dengan kadar yang sesuai dengan umur dan tingkat perkembangan psikologis maupun fisik anak. Seperti kisah di awal tulisan ini. seorang anak bisa menjadi sangat trauma dengan pelajaran bahasa Inggris karena ia selalu mendapat hukuman dan juga labelling “bodoh” di saat yang bersamaan.

Ketiga, cara mengajar guru. Sebagai contoh, anak usia SD jika ditinjau dari psikologi perkembangan masih berada pada tahap perkembangan operasional kogkret di mana anak akan sulit memahami hal-hal yang bersifat abstrak. Segala hal harus ditunjukkan bendanya langsung. Nah, Jika mereka langsung diajarkan dengan hal-hal yang abstrak tanpa didahului hal-hal konkret tak jarang membuat anak jenuh, sulit paham dan berakhir trauma. Apalagi ditambah dengan durasi pembelajaran yang lama dan model kegiatan yang monoton. Saya jadi teringat keluhan dan ungkapan kejenuhan anak-anak di suatu sekolah yang diasebabkan oleh guru yang hampir selama seminggu hanya mengajarkan matematika kepada mereka. Durasi yang panjang ditambah pembelajaran yang tak menarik membuat mereka menjadi malas, jenuh dan tak berminat belajar matematika.

Malasnya guru menggunakan alat peraga apalagi untuk anak-anak usia SD juga ikut menjadi penyumbang stres bagi anak. Anak jadi sulit memahami pelajaran dan tak jarang berujung trauma. Jika kita menengok hasil survey semisal TIMMS untuk tingkat kemampuan anak di bidang matematika dan sains yang selalu menempatkan siswa Indonesia di posisi rendah rendah maka guru harus banyak mengevaluasi cara mengajarnya. Jangan-jangan cara mengajar bukan menciptakan kemudahan belajar (facilitate of learning) bagi anak didik tapi malah menciptakan trauma bagi anak.

Hal yang perlu disadari oleh guru adalah jangankan soal pelajaran, dalam soal makan pun anak bisa mengalami trauma. Mengutip pendapat seorang psikolog, anak balita yang dipaksa makan apalagi dengan ditakut-takuti dengan hal-hal yang menyeramkan bagi anak justru akan membuat anak menjadi trauma. Ketakutan menjadi penyebab terbesar trauma pada anak.

Teori Brofenbrenner (1980) mengatakan bahwa perilaku orang tidak berdiri sendiri melainkan merupakan dampak dari interaksi orang yang bersangkutan dengan lingkungan luarnya. Dan, lingkungan lapis pertama yang paling dekat untuk anak usia sekolah adalah lingkungan yang sehari-hari ditemui oleh anak. Dalam hal ini, keluarga dan guru serta sekolah termasuk di antaranya. Pun soal trauma anak, lingkungan lapis pertama ini yang paling berpotensi melahirkan trauma bagi anak.

Maka, orang tua dan juga guru harus selalu mengevaluasi diri apakah selama ini telah benar-benar mendidik anak atau justru malah menjadi traumatic maker bagi anak.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Asyari, S.Pd.
Guru Muda Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa Angkatan V.

Lihat Juga

gadget

Anak-Anak di Era Digital dan Media Sosial