Home / Narasi Islam / Sosial / Memupuk Cinta, Mencium Wangi Surga

Memupuk Cinta, Mencium Wangi Surga

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Cinta, sebuah kata pendek tapi memiliki banyak makna dalam kehidupan manusia. Sebagaimana Rasulullah ajarkan, cinta adalah ketika engkau mencintai saudaramu, sehingga imanmu sempurna. Dan ditegaskan, saling mencintai dapat dimulai dengan menebarkan salam di antara sesama muslim. Tapi apakah sebatas itu makna cinta? Sebab faktanya, sinyal cinta dapat ditangkap ketika seorang membaktikan darmanya kepada orang tua yang melahirkan, mengasuh dan membesarkannya. Seindah pula, ketika seorang ibu melahirkan seorang anak dan sang ayah siang malam mencari nafkahnya dengan rezeki yang halal dan berkah, maka itulah cinta.

Dan cinta adalah air kehidupan, nutrisi mental dan sumber makanan jiwa. Dengan cinta, unta berjalan dalam rotasinya, bayi menyusu kepada ibunya, burung membangun sangkarnya, seluruh wajah menjadi ceria, bibir mengukir senyuman dan mata menjadi berbinar.

Begitulah sang sastrawan sekaligus ulama, Aidh Al Qarni melukiskan cinta. Dan cinta pula yang hadir dalam kesendirian seorang hamba dalam memuja dan memuji keagungan Rabb-Nya ketika malam sunyi, sepi dan hanya bermandikan cahaya bintang di langit. Dengan cinta, sang hamba diajak merefleksikan diri agar mampu menyendiri dan mengirimkan pesan agung secara langsung kepada Rabb-Nya, di kala setiap insan ditidurkan dalam lelapnya malam.

Cinta pula yang mengajak seorang Ibrahim melepas penuh air mata kesabaran, ketika Allah memintanya memenuhi apa yang ada dalam mimpinya, yakni menyembelih putranya Ismail. Berbekal cinta, sang anak yang shalih, Ismail menerima dengan lapang dada keputusan Allah yang menginginkan dirinya sebagai qurban. Sungguh pula, cinta yang membawa keduanya mentaati perintah Allah. Maka sempurna dan penuhlah langit dengan kalimat pujian kepada Allah, ketika Ismail digantikan sebuah hewan qurban. Manusia sesudahnya akhirnya menerima dengan cinta keagungan peristiwa itu dengan menyembelih hewan qurban setiap kedatangan Hari Raya Idul Adha yang agung.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana seorang muslim menyebarkan cinta yang kadang sulit dilukiskan setiap sastrawan itu dengan kata? Allah mengabarkan sebuah berita gembira, bahwa ada enam etika yang harus dipupuk seorang muslim agar cinta mampu berujung wanginya harum surga.

Pertama, mengucapkan salam ketika bertemu kepada saudaranya yang se-aqidah. Rasulullah bersabda, “ Jika salah satu dari kalian bertemu dengan saudaranya, maka ucapkan salam untuknya.” Dalam Islam, salam adalah ucapan penghormatan dan kebiasaan indah para penghuni surga. Menebarkan salam mampu menghapus kebencian, kedengkian, memupuk persaudaraan/ukhuwah dan tanda cinta seorang yang beriman.

Kedua, memenuhi undangan sebagai jembatan emas membentuk tali silaturahmi dan merekatkan cinta sebagaimana sabda Rasulullah, “Apabila salah satu dari kalian diundang saudaranya, maka datanglah, baik acara pernikahan maupun yang lainnya.” (HR. Bukhari). Dengan datang ke sebuah acara ketika diundang, seorang muslim sedang menebarkan cinta dan salam penghormatan, lambang apresiasi kepada si pengundang, sekaligus ajang mendoakan pengundang atas kebaikan budi pekertinya. Dan Islam mengajarkan, tak ada larangan datang ketika diundang selama tak dalam rangka bermaksiat kepada Allah.

Ketiga, memberikan nasihat kepada saudaranya sebagai ajang saling mengingatkan dalam kebenaran, kesabaran dan ketakwaan kepada Allah SWT. Rasulullah pun menegaskan, memberikan nasehat adalah bagian dari ajaran agama, tak dibatasi apakah diberikan untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat secara luas. Dalam pemaknaan cinta, sebuah nasehat bagaikan mata air yang sejuk dalam menghindarkan dan melindungi saudaranya dari kesalahan. Maka, berilah nasehat dengan etika yang baik, yakni datangi saudaramu, bicaralah dengan empat mata, bersikap dan bicaralah dengan penuh kelembutan serta kasih sayang, sehingga ia mau menerima nasehat dengan hati lapang dan kembali ke jalan yang lurus.

Keempat, mendoakan orang yang bersin dengan perkataan hamdalah, sedangkan yang mendengarkan ucapan itu, mengucapkan yarhamukallah. Jika itu mampu dilakukan, insya Allah kebaikan pun hadir dalam bersin yang keluar dari mulutnya. Sebab bersin itu rahmat Allah, sedangkan menguap itu datang dari setan. Rasullullah mengajarkan, “Jika salah satu dari kalian bersin, maka ucapkan Alhamdulillah dan berdoalah kalian kepada-Nya. Kemudian jika dia (orang yang bersin-pen) tak mengucapkan Alhamdulillah, kalian tak perlu mendoakannya.” (HR. Muslim). Sekarang bayangkan, apakah bukan cinta terbaik dan penuh hikmah, di mana seorang yang bersin mendapatkan doa dari saudaranya agar mendapatkan rahmat dari apa yang keluar dari tubuhnya.

Kelima, menjenguk dan mendoakan orang yang sakit. Rasanya, kalimat cinta dan berbalas taman surga, pantas diberikan kepada seorang muslim yang berempati untuk saudaranya yang terkena musibah berupa sakit. Rasulullah yang agung pernah menjenguk Sa’ad bin Abi Waqqash lalu mendoakannya, di kesempatan lain menjenguk Jabir ra. yang pingsan, beliau berwudhu dan menyiram air ke tubuhnya sehingga sahabatnya tersebut siuman. Sebab dalam sakit, ada makna empati, doa penuh ketulusan dan keikhlasan dan silaturahmi yang dapat menggugurkan dosa.

Keenam sekaligus yang terakhir, mengantar jenazah bagi yang meninggal. Setiap manusia pasti akan menemui kematian, sebab itu sebuah kepastian dan mutlak. Dan, sebuah piagam keimanan akan diberikan kepada seorang muslim yang bersedia memenuhi hak jenazah seperti menyalati, mengantar, mengasihi dan mengiringinya dengan doa. Duhai para pencinta, betapa mudahnya peluang amal dalam Islam, sebab Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghadiri jenazah dan menyalatinya, maka ia mendapatkan satu qirath. Jika hadir hingga jenazah di kuburkan, maka dia memperoleh dua qirath.” (HR. Bukhari dan Muslim).

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi. (addinie.wordpress.com)

Surga untuk Ibu