Home / Pemuda / Cerpen / Sepenggal Takdir yang Tertunda

Sepenggal Takdir yang Tertunda

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut)
Ilustrasi. (kawanimut)

dakwatuna.com

Hijrah cintaku menguatkan alasanku
Untuk menjadi manusia lebih baik
Namun saat sinarnya datang menjemputku
Mana mungkin aku berlari
(Rossa – Hijrah Cinta)

Ponorogo, 24 Januari 2007
“…” Helaan nafasku kaku. Dadaku mulai sesak. Aku tak mungkin menyiratkan kegamangan hatiku kala itu. Laki-laki itu terus melontarkan berbagai alasan dan harapannya padaku. Ia yang telah kembali dari perginya, ia yang seketika muncul dari tenggelamnya setelah sekian lama. Hatiku hancur, andai ia dapat merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Apapun yang terjadi bukan saatnya lagi bagiku untuk menyembunyikannya, meski kurasa sedikit getir untuk melugaskannya. Jujur dalam hati, aku masih menantinya. Namun takdir telah membawaku pada sebuah dimensi hidup yang baru. Sebuah dimensi hidup yang telah Allah gariskan sebagai skenario perjalanan hidup yang harus aku mainkan.

“Maaf… Aku ndak bisa, Mas…” Sepotong kalimat penegasan yang begitu saja keluar dari mulutku. Hanya kata-kata itu yang mampu aku ucapkan padanya usai runutan kalimat panjang bernada penyesalan yang ia lontarkan.
“Apa yang membuatmu berkata seperti itu, Rahma? Apa…” kalimatnya terputus. Terdengar hembusan nafas yang berat dari gagang telepon di ujung sana. “Apa kau sudah menikah?” Lanjut ucapnya lirih hingga seakan mengundang rasa itu untuk hadir kembali. Andai ia datang pada hari di mana semua itu belum dimulai.
“Aku akan menikah minggu lusa, Mas,” Aku tak menyangka aku mampu mengatakan itu kepadanya. Kepada ia, orang yang selama ini aku cintai. Orang yang kehadirannya senantiasa aku nanti. Orang yang bertahun-tahun lamanya menghiasi kehidupan asmaraku, namun pergi tak kunjung kembali. Tapi kini aku seolah mencampakkannya, hanya untuk seorang duda nyaris kepala tiga yang baru kukenal dan meminangku beberapa waktu lalu. Di usiaku yang masih seusia lulusan anak kuliahan, kuakui ia terlalu tua untukku. Sungguh, bodohnya kurasa aku kala itu. Kulampiaskan apa yang dapat aku katakan di gagang telepon saat itu juga. Ia hanya diam, tanpa kata. Kuungkapkan apa yang menjadi jutaan pertanyaanku selama ini tentangnya. Ia menghilang, nyaris tiga tahun lamanya, tanpa kabar berita. Tak ada satupun yang tahu tentang keberadaannya. Di saat aku putus asa, laki-laki itu datang mempersembahkan harapan baru, meski untuknya kala itu belum ada cinta.

***

Ponorogo, 23 Mei 2004
Malam itu hujan turun begitu derasnya. Kerumunan butiran menyejukkan itu membasahi apapun yang terpampang di hamparan bumi milik-Nya. Bagiku, ini anugerah dari langit. Tapi tidak untuk saat ini. Hujan ini begitu membelenggu. Membelenggu aku dan Farhan yang malam itu terisolir di halte bis kota. Jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 7 malam. Hari yang buruk, kurasa. Aku dan Farhan hanya berniat membeli buku bersama di toko buku sepulang sekolah di pusat kota. Namun, hujan terpaksa menahan aku dan dia di sini. Kutatapi ia yang berdiri, mengambil jarak agak berjauhan denganku. Ya, kami sama-sama berdiri mematung, namun tidak berhadapan. Kemudian ia menyodorkan padaku jaket berwarna abu-abu yang ia kenakan, tanpa melihat ke arahku. Sedikit kulayangkan pandangan ke arahnya, bajunya mulai basah. Setelan celana abu-abunya sudah menampakkan warna menua, tanda tertimpa air hujan sejak beberapa waktu lalu menunggu hujan reda. Aku mengambil jaket itu, lalu mengenakannya. Hingga tiba saatnya, jemputanku datang.

***

“Praaak!” Suasana pecah. Ayah membanting sebuah helm yang baru saja ia lepas dari kepalanya. Ia yang baru saja kembali dari kota selepas seharian berjihad mencari nafkah. Tak dapat aku pungkiri, mungkin malam itu adalah puncak amarahnya yang telah terakumulasi sejak lama. Aku terdiam, membisu, berdiri di tengah ruang tamu. Semua mata menatapku dengan tatapan seolah aku adalah orang paling berdosa. Ibu, Ayah, Paman. Semuanya sama saja.
“Mau jadi apa kamu? Berduaan dengan anak laki-laki hingga malam begini!” Gertak Ayah dengan nada suara tak begitu tinggi, namun begitu memekakkan telinga. Wajah Ayah merah padam. Suaranya gemetar, desah nafasnya tak beraturan. Aku tak sanggup menatapnya. Aku merunduk, bola mataku memanas, hingga akhirnya keluarlah tetes-tetes tanda penyesalan itu.

***

Pagi itu, pengumuman hasil ujian masuk ke perguruan tinggi telah keluar. Kuperhatikan urutan nama yang terpampang di mading sekolah. Ya, namanya tertulis di sana. Sebuah universitas ternama yang terbentang nun jauh di sana. Ia akan meninggalkanku dengan sejuta tanda tanya. Kuberanikan diri hari itu juga untuk menemuinya. Tepat di bawah pohon rindang, di taman sekolah.

“Aku ingin bertanya padamu, Han..” Ucapku perlahan.
“Ya, tanyalah…” Ucapnya seraya memainkan layar telepon genggam miliknya. Sambil membenarkan letak kaca matanya, kutahu tatapannya kosong seolah menantiku untuk berbicara.
“Apa yang ingin kamu wujudkan beberapa waktu ke depan?” Ucapku spontan. Kuperhatikan matanya mencari-cari jawaban dengan sesekali menggerakkan bola mata ke sana dan kemari.
“Aku ingin fokus kuliah, Ma…” Tukasnya singkat.
“Setelah itu?”
“Aku ingin melanjutkan hafalanku di pondok Ayah…” Ucapnya dengan pola irama yang sama. “Setelah itu?”
“Aku…” Dia terdiam. Kali ini ia nampak setengah ragu sembari menatap ke arahku sejenak, lalu kembali melempar pandangannya ke layar berukuran beberapa centimeter itu. “Aku tak bisa janjikan apa-apa padamu, Rahma. Beasiswaku diterima. Aku akan singgah ke Jakarta dan fokus untuk kuliah dulu.”

Sungguh bukan itu jawaban yang aku inginkan. Ada hal lain, hal sakral antara seorang laki-laki dan perempuan. Di desaku, menikah dini itu sudah biasa dengan banyak alasan yang melandasinya. Namun, kini memang antara kami hanya memiliki cinta. Tapi apa itu tidak cukup? Pikirku. Pertemuan itu adalah kali terakhir aku melihat wajahnya.

Namanya Farhan, ia adalah teman sepermainanku sejak kecil. Ia adalah orang yang baik. Ia selalu menepati janji. Ia seorang juara kelas, teman-teman begitu simpati padanya. Bahasa arabnya lancar, ilmu agamanya jangan ditanya. Kedua orangtuanya adalah orang ternama, tokoh agama terkenal di daerah tempat tinggalku. Namun, aku tak pernah mengerti apa sebab Ibu tidak menyukainya. Mungkin karena Ibu dan Ayah juga orang terpandang di tempat tinggalku, hingga berat jika membiarkan anak perempuannya bermain-main dengan anak laki-laki yang bukan mahramnya. Aku ingat sekali saat Ibu pernah mengatakan, “Laki-laki baik mana yang mengajak wanita yang dimuliakannya untuk berjalan-jalan, bermain-main berdua, meski tidak melakukan apa-apa?” Ibu terlalu kolot, pikirku waktu itu. Anak sebaya di sekitarku banyak yang bertingkah lebih parah dari itu. Ada yang berpegangan tangan, bergandengan tangan, mengendarai sepeda berdua, namun Ibu tidak pernah menggubrisnya. Begitu pula Ayah. Meski ia sosok yang penyayang, pendiam, namun ia tetap tegas untuk hal semacam ini.

Pernah suatu waktu, aku berjanji bertemu dengannya di kios Pak De Ahmad, pamanku, untuk sekedar mengembalikan buku catatan miliknya yang kupinjam saat aku tak berangkat sekolah. Namun, Ayah mengawalku dari awal perjalanan hingga ia pergi dari pandangan. Aku tak mengerti apa yang ditakutkan oleh orang tuaku. Mungkin engkau berpikir bahwa aku menjalin hubungan dengannya? Benarkah begitu? Kujawab, tidak juga. Tapi antara aku dan Farhan memang ada sesuatu yang berbeda. Kami pernah berbicara satu arah hingga tercetuslah sepenggal kalimat satu muara bahwa saat itu kami memang saling memiliki rasa. Namun aku bingung rasa ini harus dibawa ke mana. Kami tahu bahwa menjalin hubungan itu bukanlah pilihan yang tepat karena aku dan dia sama-sama tahu bahwa itu sesuatu yang tidak pantas dan belum saatnya. Kuakui, kala itu kami hanya bingung tentang bagaimana dua dimensi rasa berbalas ini harus bermuara.
Aku ingat saat satu tahun menjelang kelulusanku, Ibu bermaksud menjodohkan aku dengan seorang pemuda, anak dari teman karibnya. Ia mengatakan bahwa pemuda itu adalah pemuda baik dan taat agama. Saat itu ia tengah menyelesaikan studi S1 di negeri Jiran Malaysia. Namun aku menolak mentah-mentah karena trauma dengan legenda Siti Nurbaya. Mana mungkin di jaman ini masih ada orang tua yang tega mencampuri urusan hati anaknya?

***

Ponorogo, 28 Mei 2006
Dua tahun berlalu, hari-hari yang berat tanpa kabar apa-apa. Kuhabiskan sepanjang waktuku di taman pendidikan Al Quran di desa sebelah tempat tinggalku. Menjelang siang, aku mengajar kembali di SD Islam yang berada dalam satu naungan yayasan dengan taman kanak-kanak tempatku mengajar. Jauh dalam lubuk hatiku, aku masih mengharapkannya. Tapi kesibukanku kala itu lumayan mengikis ingatanku tentangnya.

Puncak penantianku berakhir di sini. Aku tak mampu lagi menahan gejolak rindu untuk sekadar tahu sedang apa ia di sana. Kukerahkan semua usaha yang mampu kulakukan saat itu. Namun nihil. Beberapa temannya tidak banyak tahu perihal kabar tentangnya. Hingga akhirnya Rangga, teman seperjuangannya kuliah di kota memberiku akun media sosial miliknya. Di hari libur, aku melesat menuju warung penjaja jasa internet, lalu spontan kularikan kursor komputer ke arah akun yang kutuju. Dan benar saja, ia adalah Farhan-ku yang lama menghilang. Ia nampak lebih gagah dengan setelan almamater biru redup yang ia kenakan. Kucoba beranikan diri menghubunginya lewat pesan pribadi, sembari mencoba peruntungan nasib cintaku kala itu. Ya, tak bisa kupungkiri bahwa aku masih menantinya. Dua jam lamanya, usahaku sia-sia. Tak ada respon apa-apa darinya. Aku memutuskan untuk pergi dan datang kembali di lain waktu.
Hanya berselang beberapa kali pergantian siang dan malam, aku kembali ke tempat itu. Dengan degup tak tentu aku larikan kursor komputer ke akun yang sama, seperti yang kubuka beberapa waktu lalu. Namun lagi-lagi nihil, tak ada tanggapan. Kubuka profil akunnya, ia baru saja meng-update kirimannya, tepat dua jam yang lalu. Tapi ia sama sekali tak menggubris pesanku. Apa kini ia telah melupakanku?

***

Pagi itu, Ibu memintaku untuk ikut ke yayasan tempatku mengajar. Aku tak tahu ada angin apa Ibu yang biasanya hanya menyibukkan diri di dapur dan halaman rumah, kini memintaku untuk mengajaknya ke sekolah. Ia hanya mengatakan ada orang penting yang akan ia temui hari itu. Setiba di sana, ada sebuah mobil mewah terparkir rapi di halaman yayasan. Tiba-tiba Ibu menunjuk ke sebuah arah. Kulayangkan pandanganku ke arah Ibu memantapkan ibu jarinya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi berbalut setelan kemeja biru muda dan celana bahan, lengkap dengan sepatu hitam mengkilatnya. Ia nampak berwibawa dengan jenggot seremasan jemari melekat di dagunya. Kuterka, usianya mungkin sekitar 30 tahun. “Ia Rudi, anak almarhum Pak Hartoyo. Ia yang akan menggantikan Ayahnya untuk mengurus yayasan ini,” Tukas Ibu memecah lamunanku.

Ibu banyak bercerita tentangnya. Laki-laki itu adalah lulusan terhormat di desanya, karena pemuda berpredikat lulusan sarjana di desa pada saat itu masih jarang. Ia anak yang berbakti, patuh kepada orang tua, pandai mengaji, dan rajin beribadah. Yang kudengar dari Ibu, ia adalah sosok pemuda idaman setiap gadis di desanya. Tapi kurasa itu hanya opini Ibu-Ibu dan sebagian teman perempuan sebayanya. Tentu tidak termasuk aku, karena masanya sudah berbeda.

Siang itu, laki-laki itu memintaku ke ruangannya. Kuberanikan diri untuk memasuki ruang kerjanya yang tak tertutup. Namun yang kutemui hanya ruang kerja rapi tertata, tak berpenghuni. Kutunggu sejenak, sembari kupandangi meja kantor yang tersusun rapi. Kulemparkan pandanganku pada sebuah bingkai foto pernikahan yang menghiasi mejanya. Ia terlihat lebih muda di foto itu. Wanita yang bersamanya begitu cantik. “Laki-laki yang beruntung mendapat wanita seanggun itu,” gumamku dalam hati.
Tak berapa lama, ia datang. Ia tak memandang wajahku sama sekali.

“Aku tidak memintamu menemuiku di ruangan, Rahma.” Ucapnya singkat, dengan warna suara rendah, sambil berlalu meninggalkanku. Spontan aku terkaget, dan mengikuti langkahnya menuju luar ruangan. “Sejak tadi aku ada di luar,”. Menurutku, ia adalah orang yang paling tidak sopan yang baru kukenal. Tidak ada salam, tidak ada basa-basi. Aku tak membayangkan kini aku akan menjadi bawahannya. Selama aku menjabat sejak dua tahun lalu, Pak Hartoyo tidak pernah memperlakukan aku sedingin itu. Sejak tadi, aku sudah memikirkan alasan-alasan konyol dalam pikiranku jika nanti kemungkinan aku tidak betah lalu harus mengundurkan diri dari jabatanku sebagai bagian administrasi di yayasan itu.

Setiba di luar, ia menjelaskan sedikit tentang kondisi yayasan sejauh yang ia tahu. Sesekali ia bertanya padaku, kusambut dengan jawaban seadanya. Omongnya sedikit, ia hanya bicara seperlunya. Hingga tiba saat Pak Kades memanggilnya, obrolan itu pun terhenti di sana.

***

Ponorogo, 08 Januari 2007
Akhirnya, aku berhasil melalui hari-hari yang tidak terlalu buruk. Kebiasaannya yang bolak-balik ke luar kota menjadikan aku jarang bertemu dan berurusan dengan makhluk dingin itu. Memang akan banyak hal yang diurusi untuk laki-laki sesibuk dia. Menjaga hubungan dengan relasi, menjenguk istrinya di kampung halaman, dan lainnya yang tidak aku ketahui satu per satu. Namun, harus aku akui memang Mas Rudi adalah orang yang baik. Masyarakat sekitar banyak sekali yang mengaguminya. Bahkan tak ayal ada orangtua yang menawarkan anaknya kepada Mas Rudi untuk dinikahi. Tapi mereka kurang beruntung karena Mas Rudi sudah memiliki istri yang begitu rupawan di kampungnya.

Sore itu, hujan turun dengan derasnya. Gelegar petir bersahut-sahutan menandakan nikmat karunia alam-Nya. Ya, alam tengah memuji-Nya. Namun aku harus lekas pulang karena Ibu memintaku untuk segera ke rumah selepas pulang kerja. Setiba di depan rumah, Ibu duduk di beranda sembari melengkungkan bibirnya dari kejauhan. Seberkas senyuman yang tak dapat kupungkiri, menghapus semua lelah yang seakan bergelantungan di kedua pundakku. Terlebih lagi hawa dingin yang mulai menjalari pakaianku yang basah terkena siraman air langit.

“Ibu ingin mengatakan sesuatu padamu,” Ucapnya sambil tersenyum. Ia menggenggam jemariku dan memintaku untuk duduk di sampingnya. Senyumnya seakan menyiratkan sebuah harapan. Sesekali ia melayangkan pandangannya ke halaman rumah sembari menceritakan nostalgia kebersamaan kami sejak aku masih kecil dan berlari-larian di taman, hingga kini aku sudah dewasa seperti ini.
“Ibu bahagia memilikimu hingga saat ini, Nak,” Ucapnya penuh haru, namun membuat aku semakin penasaran.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba Ibu bicara seperti itu?”
“Tapi Rahma janji, tidak akan marah ya?”
“Hmm, Rahma janji sama Ibu…” Ucapku sedikit ragu.
“Rahma, pagi tadi Rudi menyatakan bahwa ia ingin menikahimu,”
“Ibu tahu mungkin ini terdengar aneh. Akhir-akhir ini Ibu tahu kamu sedang merasakan kerinduan mendalam perihal masa lalumu. Ibu hanya tidak ingin engkau terus merenungi kepergiannya, Rahma. Ibu ingin engkau bahagia…”

***

Sore itu juga, kudatangi kembali kantor kerjanya. Bersama Pak De Ahmad, aku menyusul ke kantornya. Dan tepat saja, kulihat dari kejauhan ia masih bersantai di bangku ruang kerjanya, mungkin menunggu hujan reda. Petir dan kilat yang sesekali menyambar menambah sensasi lain dalam benakku kala itu.
“Apa maksud Mas Rudi melakukan ini semua?” Mataku nanar, suaraku parau. Entah perasaan apa yang ada di benakku saat ini. Haru, bimbang, aneh, serta beribu perasaan lain bercampur aduk menjadi satu.
“Adabnya itu salam dulu sebelum bertamu, Rahma…” Ucapnya lembut.
“Mas tahu apa sebab aku ke sini. Apa yang Mas sampaikan kepada Ibu hingga Mas berani mengambil keputusan itu? Apa Ibu yang meminta itu?” ucapku setelah menuturkan salam. Namun ia hanya duduk terdiam, tidak menggubrisku sama sekali. Mulutnya kelu, tak satupun kata keluar hingga beberapa lama. Matanya menerawang, seolah mencari jawaban yang mungkin terselip di atap kantornya. Tak lama, ia bangkit dari duduk, lalu membalikkan tubuhnya.
“Mas tega. Aku tahu Mas titipkan istri Mas di kampung. Sesekali Mas jenguk ia jika Mas sedang tidak tugas di sini. Lalu kini Mas ingin menikahi aku dengan alasan untuk menjaga aku dan diri Mas. Atas dasar kesucian, Mas menuruti ego dan nafsu Mas sendiri untuk mendua,” Ucapku sedikit marah. Pak De Ahmad yang setia mengantarku ke tempat itu dengan sepeda motornya sesekali memberi isyarat padaku untuk tetap tenang dan tidak mencampuri ucapanku dengan emosi.
“Aku tidak apa-apa, Mas! Mas tidak usah hiraukan ucapan Ibu tentang aku. Aku tidak masalah dengan segala kondisi yang tengah aku hadapi. Aku tahu benar apa yang aku lakukan, Mas,” Tukasku sekali lagi. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Nafasku mulai tak beraturan. Mulutku kelu, seperti ada batu besar menyumpal kerongkonganku. Ia berbalik, sekilas menatapku, kulihat kilatan di tepi matanya. Ia menatapku kembali sejenak, lalu berjalan ke luar ruangan.
“Kini, boleh aku sedikit menjelaskan?” Ucapnya meminta izin untuk memotong pembicaraanku yang sejak tadi mengalir deras seperti derai arakan air hujan. “Istriku sudah meninggal, tepat 8 bulan lalu, sejak kedatanganku ke sini…” Lontaran kata yang membuat aku terbelalak, kaget, setengah tak percaya, perihal kabar yang ternyata baru aku ketahui sejak 8 bulan lalu aku mengenalnya.
“Mengenai lamaran itu, tak masalah jika kau menolaknya. Namun sungguh niatku adalah untuk menjagamu dan menjaga diriku tentunya.” Ucapnya lirih. “Ibumu selalu berucap bahwa engkau adalah anak satu-satunya. Ia tidak ingin engkau kecewa. Ibumu juga tidak ingin engkau terus mengharapkannya. Entah, mengharapkan siapa, aku tak mengerti. Yang pasti, kulakukan itu karena Allah. Tak masalah bagiku jika memang engkau punya jalan pikiran lain, Rahma…”
Aku terdiam. Pikiran itu terus berkecamuk. Kuraih kursi terdekat yang bisa aku jangkau. Kupandangi suasana luar, kulihat Pak De Ahmad masih berdiri di sisi sepeda motornya, menantiku sejak tadi. Ia menatap santun ke arahku, tersenyum, dan mengisyaratkan aku untuk menenangkan diri.
“Kenapa Mas tidak pernah bilang?” Ucapku menyela.
“Apa kau pernah bertanya?” Tandasnya tegas. Sekutip pengakuan yang seolah membuka mataku saat itu juga. Sekutip kalimat yang menggambarkan keegoisan, sifat kekanak-kanakan seorang anak manusia. Entah selama ini seberapa sering aku terlalu egois memikirkan kepentingan diriku sendiri dibandingkan sekadar meluangkan waktu untuk memikirkan kepentingan orang lain.

Kutarik nafas sedalam-dalamnya, lalu meninggalkannya setelah sebelum itu menyalaminya. Dengan kondisi payah, aku meninggalkan tempat itu. Kususuri perjalanan menuju rumah dengan perasaan lebih kalut dari sebelumnya. Kini kusadari, Mas Rudi begitu baik. Selama ini mungkin aku yang salah. Ya, aku yang terlalu mengikuti emosi dan egoku. Aku tak pernah menyangka Allah sisipkan orang-orang istimewa di sekelilingku. Namun bodohnya, lama sekali impuls kesadaranku membangunkan aku akan keajaiban-keajaiban itu.

Allah titipkan banyak hal di tengah misteri hidup yang seringkali menyita rasa penasaranku. Buatku, Farhan mungkin memang pernah menjadi orang terbaik dalam hidupku, tapi bukan yang terbaik yang disediakan Tuhan untuk menjadi pendampingku. Mungkin ia hanya penguji perasaanku, penguji rasa setiaku, hingga aku sadar, dahulu sekali aku pernah mengkhianati cinta-Nya. Ah, tentang Ayah dan Ibu. Entah seluas telagakah, atau sedalam samudera, banyaknya limpahan kekecewaan hati mereka padaku. Aku yang selalu mempertanyakan setiap nikmat kebaikan yang mereka limpahkan padaku, aku yang selalu mengeluhkan setiap opsi kesempatan untuk memilih jalan terbaik yang harusnya aku tempuh. Tapi mereka tidak pernah bosan untuk selalu memberikan apapun yang terbaik semampu mereka, hanya saja aku yang tidak kunjung peka untuk merasakannya. Kutanggapi itu dengan busungan dada, karena untuk setiap gumaman mereka di masa sebelumnya, seakan bagai selingkar tari jerat dalam kehidupanku yang begitu menyulitkan langkah. Sungguh, rasanya terlambat sekali aku baru menyadarinya.

***

Ponorogo, 30 Januari 2007
Pagi itu, aku duduk bersantai seraya menimang buku dan alat tulis, memainkan hobi yang sudah lama sekali tidak aku geluti, yaitu mengarang puisi cinta yang dulu sering kulakukan bersama Farhan. Ya, Farhan. Teman masa kecilku dulu, tidak lebih. Tak berapa lama, Ibu datang dari balik pintu lalu menghampiriku.
“Kau tidak berangkat ke kantor?” Ucap Ibu.
“Tidak, Mas Rudi memintaku berbelanja sesuatu untuk keperluan minggu depan,” Ucapku singkat seraya tersenyum malu. Hari yang membahagiakan bagi setiap wanita, khususnya aku, bertepatan seminggu ke depan sejak saat itu.
“Boleh Ibu bercerita tentang sesuatu, Rahma?” Tukas Ibu lagi sembari mengeluarkan sebuah foto masa lalu. Sebuah fotoku saat masih dalam buaian yang tengah digendong oleh seorang pria kecil yang tampan.
“Ini aku dengan siapa, Bu?” Ucapku penasaran.
“Ini engkau bersama pria yang dulu hendak Ibu jodohkan denganmu. Anak dari karib yang Ibu maksud dulu.” Ucapnya seakan mengenang masa lalunya.
“Kenapa Ibu menunjukkan foto ini padaku?” Ucapku bernada sedikit heran. “Kau tahu…, laki-laki itu adalah Rudi.”

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (42 votes, average: 8,52 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Anita Nurrahmah
Mahasiswi S1 Departemen Biologi Institut Pertanian Bogor 2011 asal Kota Patriot, Bekasi.

Lihat Juga

Rumus Fisika Raja, Kejutan Terindah