Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kebahagiaan Berada di Hati Kita

Kebahagiaan Berada di Hati Kita

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Bismillah… “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Setiap orang memandang kebahagiaan berbeda-beda, ada yang mengatakan kebahagiaan jika memiliki harta berlimpah ruah, ada pula mengatakan kebahagiaan bila meraih status atau jabatan tertentu bahkan ada pula mengungkapkan bahwa kebahagiaan mampu meraih istri cantik, dikenal banyak orang (Famous) dan masih banyak lagi indikator kebahagiaan dalam hidup manusia tergantung level keimanan seseorang melihat dunia seperti apa.

Jika melihat peristiwa mengharu biru dari kalangan artis internasional maupun nasional yang mengakhir hidup dengan tragis seperti Robbin Williams, Adolf Merckle, Michael Jakson, G Vargas dan orang terkenal lainnya, bila dikaji secara logika sesungguhnya tidak mungkin mengakhiri kehidupan seperti itu karena secara materi diberi keberkahaan financial yang sangat fantastis bahkan bisa membeli rumah termahal bak istana. Ingin jalan-jalan kemanapun tidak ada masalah dengan keuangan ibarat kata harta yang dimiliki mampu menghidupkan tujuh keturunan. Kemudian masalah keterkenalan, siapa yang tidak mengenal mereka yang telah menoreh prestasi yang sangat diagung-agungkan oleh setiap orang?

Tentu kita bertanya-tanya mengapa mereka mengakhiri hidup begitu tragis, apa yang tidak mereka peroleh? Apa yang tidak mereka nikmati? Kebahagiaan apalagi yang tidak bisa mereka raih? Benarkah meraka tidak mensyukuri nikmat Allah berikan? Atau bisa jadi iman yang begitu hampa? Atau mereka tidak merasa bahagia atas harta, tahta dan wanita diperoleh? Sehingga tidak bisa tersenyum, tidak bisa berekspresi dengan bebas karena takut citra mereka ternodai atau mungkin hidup dihabiskan dengan mengejar aksesoris dunia sehingga waktu untuk mendekati diri pada-Nya sangat minim bahkan untuk menikmati harta tidak sempat, disebabkan hari-hari dipenuhi aktivitas kerja untuk menumpuk harta!!! Sungguh begitu sedikit kita mensyukuri hidup, “Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur” (QS. Al Mulk: 23).

Lihat pula di sekitar kita, mereka yang hidup pas-pasan, makan apa adanya, hidup jauh dari kesejahteraan tetapi begitu jarang kita menemui mereka mengakhir hidup tragis. Padahal kehidupan mereka sungguh begitu sempit, sungguh sangat memperhatikan, dan siapapun menatap akan menetes air mata. Apakah mereka mensyukuri hidup? Bisa jadi itu indikasi bahwa mereka menikmati hidup dengan syukur serta terus berusaha. Walaupun ikhtiar diupayakan tetap stagnan atau tanpa perubahan namun mereka bisa tersenyum dengan lega, bisa merasa kebebasan tanpa ada rasa pengekangan, bisa bersujud dengan tenang di hadapan Allah secara ikhlas. Kenapa bisa tersenyum??? Seharusnya yang hidup dengan pas-pasan atau hidup kemiskinan yang mengakhiri hidupnya dengan tragis, tapi jarang ditemui hal tersebut. Bahkan menikmati skenario Allah dengan banyak mensyukuri nikmat dengan selalu mendekati diri pada-Nya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Kisah tersebut, membuat kita berpikir dan mengambil hikmah bahwa kebahagiaan tidak selamanya diukur dari uang, harta, jabatan dan wanita. Kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika bisa mensyukuri setiap kejadian, maupun peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Seperti artikel yang pernah dibaca bahwa kebahagiaan itu milik mereka-mereka yang bersyukur. Jadi mereka yang tidak mensyukuri nikmat Allah tentu akan mengalami gejolak jiwa, terserang penyakit yang bisa menimbulkan penyakit kronis bahkan mengakhiri hidup dengan tak terduga. “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 66). Insya Allah syukur mengantarkan kita pada kebahagiaan yang hakiki, dan syukur pula membuat kita semakin rindu untuk sujud pada-Nya, syukur jualah yang menjadikan kita untuk memandang hidup tidak selalu ke atas tetapi juga melihat di bawah sehingga mampu berbagi dengan sesama.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sholiat Alhanin
Alumni Unpad dan UGM. Berprofesi sebagai Dosen, Penulis Lepas dan Penyiar

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Hatiku Hanya Terpaut Untuk-Mu

Organization