Home / Berita / Opini / Ambiguitas ISIS

Ambiguitas ISIS

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Foto ini diposting pada sebuah situs militan pada hari Selasa (7/1/2014), menunjukkan konvoi kendaraan dan pejuang yang diduga dari Islamic State in Iraq and Syam (ISIS), di Anbar Province, Irak. (AP)
Foto ini diposting pada sebuah situs militan pada hari Selasa (7/1/2014), menunjukkan konvoi kendaraan dan pejuang yang diduga dari Islamic State in Iraq and Syam (ISIS), di Anbar Province, Irak. (AP)

dakwatuna.com Di tengah gempita tentang berita ISIS, wujud organisasi yang mengusung “Negara Islam” ini bermetamorfosa dari sekadar opini tentang komunitas kecil yang berjuang dengan idealisme ‘keliru’ yang mereka yakini, selanjutnya menjadi kabar tentang sebuah kekuatan ideologi yang seram dan sangat menakutkan. Akhirnya, hampir sulit dipisahkan, antara pemberitaan ISIS sebagai pembelajaran tentang “salah-kaprah”nya pemahaman keagamaan Islam yang rahmatan lil alamin dengan menjual ISIS sebagai komuditas penyempurna dari proyek Islamphobia, seperti yang selama ini memang sedang digencarkan. Ujungnya, opini ISIS bersinergi dengan berbagai kekuatan anti Islam yang memang memiliki agenda jangka panjang sesuai arahan Samuel Huntington dalam proyek “Benturan Peradaban” (Class of Civilization) yang telah digagasnya.

Lantas, siapa dan apa sebenarnya ISIS tersebut? Agak tidak mudah untuk ‘menguliti’, apalagi dengan spontan mengkategorikannya sebagai organisasi Islam yang ‘sesat’. Mengingat, identitas ISIS terasa masih tergolong “misteri”, karena dalam beberapa rujukan yang merangkum tentang organisasi dan gerakan keislaman yang pernah ada di dunia dekade ini, nama dan entitas ISIS justru tidak ditemukan. Dalam beberapa maraji’ (sumber) yang banyak mengupas tentang organisasi dan gerakan Islam di dunia, misalnya buku al-Muwsu’ah al-Muyassarah fi al-Adyan wa al-Mazahib al-Mu’ashirah (Ensiklopedi Ringkas Tentang Agama dan Mazhab Modern) terbitan organisasi Pemuda Muslim dunia (WAMY), bahasan ISIS atau embrionya tidak terungkap. Di buku ini, gerakan yang mengusung terma khilafah hanya Hizbut Tahrir (HT), sebuah organisasi pergerakan Islam yang digagas oleh Taqiyuddin al-Nabhani pada tahun 1952. Gerakan ini berpandangan, bahwa kembalinya tegaknya khilafah merupakan sebuah keniscayaan bagi umat Islam. Namun, hingga sekarang, Hizbut Tahrir masih hanya berkutat dalam ‘nasyrul fikrah’ (penyebaran opini) dan belum mengumumkan siapa yang didaulat untuk menjadi khalifah.

Kemudian buku al- Furuq al-Islamiyah Baina al-Fikr wa al-Tatarruf (Golongan dan Organisasi Islam Antara Pemikiran dan Radikalisme) yang ditulis oleh Jendral Hasan Shadiq, hanya menulis beberapa organisasi pergerakan yang menurutnya tergolong radikal, seperti Tanzim Jama’ah al-Takfir wa al-Hijrah, yang dicetuskan oleh Syukri Mustafa dibalik jeruji penjara di Mesir. Jamaah ini, meski dianggap radikal dan bahkan sempat dituduh melakukan berbagai tindakan kekerasan kepada petinggi negara Mesir, namun, hingga saat ini juga tidak mendeklarasikan siapa khalifah yang mereka baiat untuk menjadi pemimpin besar umat Islam dunia.

Selanjutnya, dalam sebuah mahakarya hasil dari penelitian di Universitas Islam Madinah, al-Tariq Ila Jama’at al-Muslimin (Jalan Menuju Organisasi dan Gerakan Islam) karya Husen bin Muhsin bin Ali Jabir, penelitian thesis ini banyak menjelaskan tentang organisasi pergerakan Islam yang juga memiliki harapan akan hadirnya sistem kekhalifahan. Namun, menurut Husen, meskipun hampir semua gerakan Islam itu menginginkan kembali hadirnya kekhalifahan, sebagaimana yang pernah terjadi dalam sejarah dunia Islam, akan tetapi cara yang digunakan tetaplah mengacu kepada pola yang mulia, menyampaikan ide kekahlifahan dalam ruang pendidikan, kemudian menjauhkan orang-orang yang kontra dengan Islam untuk tidak mengotori hukum Islam.

Jika menyimak dari beberapa rujukan di atas, perwujudan ISIS dengan bentuk dan doktrin yang cenderung ‘radikal’ sebagai sarana untuk menegakkan sistem khilafah, memang tergolong fenomena baru bahkan aneh dalam dinamika pergerakan Islam. Meskipun, jika dilihat dari simbol yang digunakan dan jargon yang diperjuangkannya, sebenarnya, ISIS tidak sepenuhnya berseberangan dari mainstream kajian pemikiran politik Islam. Tapi, dengan menggunakan kekerasan, apatah lagi dengan melakukan pembunuhan, jelas itu semua tidak sejalan dengan konsep washathiyah (moderat) Islam.

Bertolak dari perspektif di atas, wujud ISIS penuh ambigu dan patut dipertanyakan. Organisasi yang didirikan pada tahun 2006, sejak dini telah memprokamirkan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifahnya, kamudian menamakan komunitasnya sebagai Daulah Islamiyah fi al-Iraq wa al-Syam atau Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) atau Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) dan selanjutnya memiliki nama permanen Islamic State, memproklamirkan diri menjadi sebuah negara pada 9 April 2013. Mereka telah mengusai 400.000 km/persegi, yang meliputi Iraq dan Suriah dan kemudian menjadikan Raqqah di Suriah sebagai ibu kota Negara.

Semenjak kemunculan dan telah menguasai beberapa wilayah di Iraq, keberadaan ISIS menyeruak menjadi sebuah fenomena heroik. Edward Snowden, mantan pegawai NSA Amerika Serikat menyatakan bahwa wujud ISIS merupakan ‘sarang lebah’ yang sengaja dibentuk oleh satuan Intelijen dari Inggris, Amerika Serikat dan Mossad Israel. Senada dengan itu, Yasmina Haifi–mantanproject manager Cyber Security Center—di Belanda menjelaskan bahwa ISIS tidak ada kaitannya dengan Islam. ISIS adalah bagian rencana Zionis yang sedang mencoba habis-habisan mencoreng nama Islam.

Namun, seorang pengamat dunia Arab, Fahmi Howaydi menulis dalam artikelnya “Da’isy Baina Sakhafatain“(ISIS, Antara Dua Kelemahan) yang berprediksi bahwa kemuculan ISIS, antara lain merupakan bagian dari ungkapan protes keras dan kemarahan golongan Sunni dan Kurdi Iraq atas kebijakan rasis Nuri al-Maliki dari golongan Syiah yang menggolongkan ISIS sebagai golongan teroris. Dari itu kemudian mereka mendirikan bentuk pemerintahan sendiri dengan sistem Khilafah. Sikap lain tentang ISIS, yang justru secara resmi dikeluarkan oleh Persatuan Ulama Muslim se-Dunia (Ittihad Ulama al-Muslimin fi al-Alam) yang dipimpin oleh ulama kesohor Yusuf al-Qaradhawi, yang menyatakan, bahwa deklarasi sistem khilafah oleh kelompok kecil tertentu tidak memiliki konsekwensi secara syar’i, dan ini merupakan kebathilan karena tidak berpijak pada landasan dan realitas (waqi’) yang benar serta akan melahirkan banyak kemudaratan.

Sekarang, golongan ISIS sedang menjadi gosip popular dan fenomenal, bahkan bincang ISIS diucap oleh banyak pemimpin dunia, termasuk presiden SBY dalam pidato kenegaraannya. Sebegitu besarkah pengaruh ISIS di negara Republik Indonesia ini? Menolak mutlak doktrin anarkisme dan radikalisme serta terorisme dalam pola beragama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, namun jangan sampai, opini ambigu ISIS mencuri pikiran sadar masyarakat kita, bahwa kelakuan serupa juga tengah terjadi di negara yang sedang merayakan HUT kemerdekaannya, serta pemaksaan dan penggiringan opini tentang ‘negatifnya gerakan Islam justru menjadi tontonan yang meninabobokkan umat. Karena, ketidaktahuan terhadap sesuatu akan menjadi musuh sejati yang pasti bagi setiap orang. Wallahu ‘alam.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Hermanto Harun
Lahir di Batu Penyabung Sarolangun Jambi. Mengabdi kepada negara sebagai tenaga pengajar di beberapa institusi Pendidikan di Jambi. Dosen Fak Syariah IAIN STS Jambi. Alumni Ph.D National University of Malaysia. Dosen Pascasarjana & Kepala Pusat Penetian dan Penerbitan IAIN STS Jambi.