Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hanya 50 Menit Saja

Hanya 50 Menit Saja

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Doa bersama (inet)
Doa bersama (inet)

dakwatuna.com Menulis adalah salah satu cara saya menasehati diri sendiri. Karena sungguh, diri ini pun masih sangat alpa dan jauh dari tutur yang hendak tersampaikan. Nasehat yang lebih teramat butuh untuk dicambukkan kepada diri.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullaahu ta’ala pernah berkata,
“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Sedemikian banyak waktu yang Allah berikan kepada kita, namun prioritas kesibukan yang akan menentukan kualitasnya. Sesuai dengan tingkat kesibukan kita masing-masing. Bukan tentang kesibukan kerja, belajar, sosial – bermasyarakat, dan lain sebagainya. Tapi kesibukan berkarib lekat dengan Sang Pencipta, Allah ‘Azza wa Jalla. Kesibukan yang akan menjadikan seonggok daging ini mendapatkan kemuliaan di hadapan-Nya atau justru sebaliknya.

“Asshalatu Imaduddin”,
Begitu Rasulullah yang agung mensabdakan. Jika perkara ini tegak maka tegak pulalah ‘amalan yang lainnya. Jika hisab atas perkara ini baik, maka baik pula hisab atas perkara yang lain. Dan kali ini, mari menghisab diri atas perkara yang kebanyakan orang lalai atasnya. Mari kita perhatikan kelakuan kita dalam ibadah harian lima waktu ini. Sangat singkat, kurang tuma’ninah, dan seringkali kita masih menyempatkan waktu untuk melakukan aktifitas lain di sela adzan dan iqamah serta dzikir kita. Astaghfirullah. Betapa sibuknya kita sampai-sampai di waktu asasi kita yang sangat mendasar ini masih kita diskon lagi untuk membuat aktifitas dengan selain-Nya. Singkat sekali kita mengalokasikan waktu untuk perkara ini,
dua menit untuk rawatib
empat menit untuk shalat fardhu
dua menit untuk dzikir, dan
dua menit untuk doa.

Bahkan terlebih sering jauh lebih singkat dari itu
Sudah begitu, mari mengingat bagaimana kelakuan kita di sepuluh menit harian tersebut. Masih sempet ngobrol, main gadget, lihat notifikasi, balas pesan, buat status, angkat telepon, bahkan bengong. Sesibuk itukah kita? Kemana saja waktu kita yang 23 jam sepuluh menit? Tidak sempatkah mengurus itu semua (ngobrol, main gadget, angkat telepon, dll)?

Sempatkanlah,
50 menit saja (10 menit x lima waktu) dari 24 jam sehari untuk tidak berinteraksi dengan siapapun kecuali dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Iya benar, hanya dengan-Nya. Taqarrub Ilallah, bermesraan dengan-Nya. Karena jika kita mencukupkan ke-intim-an kita dengan-Nya di 50 menit tersebut, Insya Allah Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita di 23 jam 10 menitnya. Karena yakinlah, Allah jauh lebih sibuk daripada kita dan Dia masih menyempatkan waktu untuk mengurus segala hajat kita bahkan yang tidak kita minta sekalipun. Jangan sampai kemudian, seperti judul sebuah buku, seolah kita sedang berbisik kepada Allah, “Maaf Tuhan, saya sedang sibuk”. Satu lagi kelakuan kita yang kurang ahsan adalah dalam berdoa. Dalam menghaturkan permohonan atas segala hajat kita.

Sudah tahu kita lemah, sudah sadar kita tak mampu apa-apa selain karena-Nya, tapi coba bagaimana cara doa kita? Singkat, padat, dan kurang terlekat dalam hati. Atau barangkali, selepas memakai sendal di depan masjid kita sudah lupa apa yang barusan kita panjatkan ke langit. Sudah begitu, seringkali kita kepedean untuk menyingkat segala hajat kita dengan doa sapu jagat. Padahal hajat kita begitu banyaknya.

Marilah, di dua menit durasi waktu yang kita alokasikan untuk berdoa yang singkat tersebut kita haturkan detail satu persatu hajat kita, hajat kebaikan menurut versi kita, kemudian kita sempurnakan dengan doa sapu jagat. Biarkan Dia menetapkan mana yang terbaik untuk kita menurut versi langit. Kebaikan di dunia dan di akhirat sesuai dengan parameter-Nya, yang nantinya pasti baik pula untuk kita. Teringat nasehat Ust Salim A Fillah, bahwa berdoa itu bukan cara kita untuk memberitahukan kepada Allah apa yang kita butuhkan, karena Allah sudah sangat jauh lebih tahu apa yang kita butuhkan. Berdoaa adalah cara kita untuk menunjukkan kesungguhan dan kepantasan diri bahwa kita layak mendapatkan apa yang kita mintakan.

“Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzabannar”. Kemudian dari sekian banyak hajat yang kita panjatkan, biarkan Dia menetapkan mana yang terbaik untuk kepentingan kita di dunia dan di akhirat. Semoga Allah menyelamatkan kita di hari perhitungan dan mencukupkan hajat kita selama mencari bekal untuk kembali “pulang”.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ale Ikhwan Jumali
Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada yang nyambi jadi merbot masjid dan wirausahawan. Suka tantangan dan hal baru.

Lihat Juga

Ilustrasi (Erina Prima)

Ketika Manusia Salah Memahami Jawaban Allah Atas Doanya..