Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Mengapa Harus Aku?!

Mengapa Harus Aku?!

Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)
Ilustrasi. (islamicstyle.al-habib.info / nurelyana)

dakwatuna.com Tersentak… ada tiga rangkaian kata yang mungkin dianggap menjadi sebuah beban bagi seorang wanita. Seperti… dengarlah kalimat orang tua yang anaknya ketahuan hamil lagi padahal anaknya yang pertama baru berumur satu tahun, “Kamu hamil lagi?? Memangnya, kamu disekolahkan tinggi-tinggi, mahal-mahal, hanya untuk hamil saja?” Dan kalimat ketidaknyamanan lainnya yang mungkin bisa membuat terpuruk seseorang yang bernama “wanita”.

Apakah ada yang salah dari tiga rangkaian kata; Hamil, Melahirkan dan Menyusui? Apakah menjadi sebuah beban ketika mendengar kata tersebut? Belum lagi pada kenyataannya, media sebagai guru besar masyarakat, yang sering menampilkan para wanita yang mengesampingkan peran kehamilan, melahirkan dan menyusui. Hufh…

“Mengapa harus aku?!” Dan pada akhirnya kalimat itulah yang terujar oleh para wanita di luar sana. Kaum yang dinamakan hawa itu meletakkan kata hamil dan menyusui di sudut sempit dalam hidupnya. Jika bisa tidak, mengapa harus iya. “Kapok!” kata seorang ibu sambil mengelus-elus perutnya.

Bisa dibayangkan bukan? Bagaimana suasana hati ibu yang seperti ini saat hamil, melahirkan dan menyusui? Damaikah, senangkah, bahagiakah, atau sebaliknya.

Padahal, Al-Quran sudah menyebutkan, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Rasanya sudah jelas… Mengapa harus aku, kamu dan kita semua yang mengaku wanita mengalami peristiwa hamil, melahirkan dan menyusui. Karena seperti halnya kita yang terlahir di dunia ini, ada peran serta kedua orang tua. Dan ayat di atas, dimulai dengan perintah Allah langsung kepada seluruh manusia agar berbakti kepada kedua orang tuanya. Dan subhanallah, setelah itu Allah hanya menyebut peran ibu. Ya… kita lah calon ibu.. atau ibu itu sendiri.

Betapa hamil, melahirkan dan menyusui hingga menyapih seorang anak adalah aktifitas sangat mulia yang langsung disanjung oleh Allah Pencipta seluruh yang ada. Cukuplah ini menjadi jaminan kemuliaan dan gelar yang tinggi bagi seorang wanita.

Apalagi ketika tiga aktifitas ini dijadikan alat tukar bagi bakti seorang anak di kemudian hari. Bakti anak tentu menjadi tumpuan orang tua yang paling membahagiakan di usia senjanya kelak. Tidak ada orang tua yang tidak berharap memiliki anak yang berbakti.

Maka, mengapa hamil masih merupakan aktifitas rendah bahkan dicaci maki? Mengapa masih saja bertanya; “Mengapa Harus Aku?!”
Meski hamil memang penuh perjuangan dengan susah payah, lemah bertambah lemah. Keadaan yang sulit ini, seharusnya tidak ditambahi beban dengan berbagai tekanan.

Maka, mengapa melahirkan menjadi bahan ejekan? Mengapa masih saja bertanya; “Mengapa Harus Aku?!”
Meski melahirkan perlu perjuangan yang tidak mudah, seharusnya para ibu yang hamil ridha melahirkan dengan rasa sakit dan perjuangan bertaruh nyawa. Bukan mudah menyerah dan malas berjuang sehingga dikeluarkan oleh peralatan medis.

Maka, mengapa menyusui menjadi aktifitas yang menakutkan dan memusuhi kecantikan? Mengapa masih saja bertanya; “Mengapa Harus Aku?!”
Sangat jelas perintah menyusui hingga penyapihan. Dan menyapih susuan yang sempurna selama dua tahun.

Jadi, sudah seharusnya kita sadari bahwa hamil penuh perjuangan, kesabaran dalam merasakan sakitnya melahirkan meregang nyawa dan menyusui sempurna 2 tahun adalah harga yang harus dibayar oleh para orang tua untuk hadirnya bakti anak di kemudian hari.
Jangan tanyakan kembali… kalimat yang tidak seharusnya dipertanyakan. “Mengapa Harus Aku?!” Ya… karena kita adalah ibu peradaban, dari rahim seorang wanita shalihah lah akan mampu terlahir generasi cemerlang, penuh bakti dan berguna bagi agama, dunia serta akhiratnya kelak. Apa kita masih ragu? Semoga tidak.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.
  • Sri Fatimah

    Aku merindukan masa masa itu :)

Lihat Juga

Awal Kelahiran Ikhwanul Muslimin, Hari di Mana Semuanya Bermula