Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Saprahan: Tradisi Makan Penuh Filosofi Ala Masyarakat Sambas

Saprahan: Tradisi Makan Penuh Filosofi Ala Masyarakat Sambas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sudah sejak dulu, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya dengan adat istiadat. Terdiri dari lima pulau besar dengan berbagai macam suku dan agama yang tinggal di dalamnya menjadi salah satu alasan yang menyertainya. Ada tradisi upacara pernikahan, tradisi tujuh bulanan, tradisi makan bersama, dan tradisi-tradisi lainnya yang dipegang utuh oleh masyarakat setempat. Salah satu yang memiliki kekhasan tersebut adalah Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kabupaten dimana saya dan rekan-rekan diutus untuk menjadi Guru bantu di sekolah-sekolah yang terkategorikan 3T.

Datang bertandang ke lubuk orang sebagai guru, bukan berarti kami terbatasi untuk menyelami ragam budaya yang ada. Justru kami siap menyelami tradisinya pula. Di awal kedatangan kami yakni di bulan Sya’ban hingga hari ini, ada tradisi makan yang selalu membuat saya salut karena meskipun lebih sedikit merepotkan dari cara makan prasmanan, tradisi ini di jaga dengan baik. Namanya Saprahan atau orang sekitar menyebutnya “Nyaprah”. Saprahan ini adalah kebiasaan masyarakat Sambas dalam mengahadapi menu makanan di depannya.

Tradisi ini dipakai pada setiap acara yang melibatkan makanan sebagai acara utamanya, misalnya Sya’banan, Buka Puasa Bersama, bahkan di acara pernikahan. Tak sekadar makan, tak sekadar ngumpul, ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam tradisi nyaprah.

Pertama: Harus ada 6 atau maksimal 6 orang yang tergabung dalam satu kelompok. Jika lebih, berarti orang yang terakhir datang harus menunggu sampai terkumpul orang enam lagi. Angka 6 di sini menyimbolkan jumlah rukun iman yang harus diyakini sebagai muslim, yaitu ada 6 perkara.

Kedua: lauk yang ada dalam saprahan berjumlah lima macam, ini menjadi penanda rukun islam terdiri atas lima.

Ketiga: dua sendok yang digunakan untuk mengambil lauk adalah simbol dari 2 kalimat syahadat.

Para tamu yang datang bersaprah biasanya akan membawa wadah semacam rantang plastik yang digunakan untuk membawa beras bagi si pemilik acara. Pulangnya ketika lauk yang ada masih bersisa, wadah ini juga digunakan untuk membungkus sisa saprahan yang masih layak dimakan agar tidak terbuang sia-sia. Orang-orang dalam kelompok tersebut biasanya akan sepakat saling berbagi sisa. Jangan tanyakan apa mereka merasa jijik, sepertinya tidak sama sekali. Kekuatan kekeluargaan yang terjalin di antara warga sepertinya mampu menangkal hal tersebut. Itulah Saprahan, Tradisi makan penuh filosofi ala masyarakat Sambas. Mari bersaprah, mari menguatkan ukhuwah.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mutmainna Fil Jannah, S.Pd
Sekarang sedang mengabdi di Kabupaten Sambas, Kalbar sebagai relawan pendidikan di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Pendidikan Terakhir S1 Bimbingan Konseling, Universitas Negeri Makassar.

Lihat Juga

Innalillahi, Ribuan Tawanan Palestina Berpuasa di Penjara Israel Tanpa Hidangan Berbuka