Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Telaga Keilmuan

Telaga Keilmuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wallpaper-download.net)
Ilustrasi. (wallpaper-download.net)

dakwatuna.com Jika banyak pemimpin dunia yang berasal dari perkumpulan orang-orang bodoh. Maka tinggal tunggu dan saksikan, akan datangnya kegelapan malam yang panjang.

Jika banyak pemimpin dunia yang berasal perkumpulan orang-orang yang tidak paham seni mengelola negara. Maka tinggal tunggu dan saksikan, kehancuran yang meluluhlantakkan seluruh elemen dan sistem kenegaraan.

Jika banyak pemimpin dunia yang berasal dari orang-orang yang tidak berpengetahuan luas. Maka tinggal tunggu dan saksikan, akan hadirnya kejumudan dalam IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) negara yang menjadi akar ketertinggalan zaman.

Dalam sejarah para sahabat Rasululullah Saw tercatat bahwa, di antara khulafaur rasyidin, Ali bin Abi Thalib-lah yang paling mapan keilmuannya. Jika Abu Bakar As-siddiq terkenal dengan amalannya yang luar biasa. Umar bin Khattab terkenal dengan keberanian dan ketegasannya. Usman bin Affan terkenal dengan sifat santunnya. Maka Ali bin Abi Thalib merupakan telaga keilmuan umat muslim.

Ali bin Abi Thalib yang menikahi Fathimah memperkuat posisinya sebagai amirul mukminin yang alim (berilmu) lagi shalih. Keilmuannya yang luas membentang, menjadikannya telaga yang menyejukkan. Sekaligus pelepas dahaga bagi insan yang haus akan keilmuan agama maupun sains. Keshalihannya juga membuat fathimah suka, dan berani menolak pinangan Abu Bakar As-siddiq serta Umar bin Khattab. Demi tercapainya cita cinta yang sudah lama dipendam kepada pujangga yang ditunggu, Ali bin Abi Thalib.

Maka wajar,  jika Allah menempatkan Ali sabagai khalifah setelah Usman. Karena situasi sosial dan politik saat itu sedang ricuh-ricuhnya. Hingga bisa muncul golongan syi’ah dan khawarij. Belum lagi ‘gesekan’ Ali dengan Muawiyah yang panjang. Dan dibumbui ‘gesekan’ Ali dengan Aisyah dan beberapa sahabat yang didesain oleh segelintir orang berkepentingan. Akumulasi ‘gesekan’ tersebut ialah adanya perang yang paling lekat dengan kepemimpinan Ali, Perang Jamal dan Siffin.

Bayangkan kondisi segenting masa kepemimpinan Ali, tidak dipimpin langsung oleh orang sekaliber Ali bin Abi Thalib sendiri. Bagaimana keilmuannya terejawantahkan dalam seni mengelola negara yang baik. Mengurai ketegangan antar madzhab. Meredam konflik politik yang berdarah. Hingga merajut ulang benang-benang kusut yang pernah terpola rapi di antara para sahabat.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Achmad Salido)

Pembelajar Sejati