Home / Berita / Opini / Ilmu dan Amal; Dua Sejoli yang Tak Terpisahkan

Ilmu dan Amal; Dua Sejoli yang Tak Terpisahkan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (liveinternet.ru)
Ilustrasi. (liveinternet.ru)

dakwatuna.com Beberapa pekan yang lalu, media massa dihebohkan oleh Ignatius Ryan Tumiwa, seorang peraih Master Administrasi Fiskal Universitas Indonesia (UI) atas permintaannya kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk melegalkan bunuh diri atas dirinya sendiri (Euthanasia) dengan menghapuskan Pasal 344 KUHP yang berbunyi “Barangsiapa yang menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, akan dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”. Hal ini dilakukan Ryan yang mengaku frustasi lantaran tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang layak.

Secara filsafat, permintaannya bertentangan dengan Pancasila. Karena hidup adalah hak yang diberikan Tuhan. Tentu ini menentang sila pertama, Ketuhanan yang maha Esa. Perbuatan ini menunjukkan ketidakpercayaan seseorang terhadap tadir Tuhan. Mungkin kita bertanya-tanya, “Kok bisa-bisanya lulusan S-2 UI belum mendapatkan pekerjaan dan kemudian mengajukan bunuh diri?”. Saya kira, Inilah yang menjadi persoalan kita bersama saat ini.

Terkadang, pendidikan telah membelenggu ego seseorang sedemikian rupa sehingga orang tersebut enggan untuk melakukan hal kecil yang mungkin bagi dia adalah tak selevel dengan pendidikan sarjananya, masternya, atau doktornya. sehingga ia tak siap memulai hidup dari bawah.

Kebanyakan dari kita memiliki pola pikir bahwa jika sudah lulus master, maka akan mendapat pekerjaan yang bergengsi, bermartabat, dan sebagainya. Ia merasa tidak layak semisal bekerja sebagai desainer, atau home industri, berjualan di pasar, dan lain-lain. Mungkin pola pikir inilah yang juga membelenggu Ryan.

Jika demikian yang terjadi, maka martabat seseorang ditentukan oleh pendidikan formalnya yang terkadang menipu. Memang, dalam Islam Allah SWT akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Namun tidak hanya berhenti di sana, karena setelah ilmu ada amal (pengamalan). Ilmu dengan amal layaknya dua sisi koin yang tak bisa dipisahkan.

Pengamalan ilmu inilah yang sebenarnya menjadikan manusia lebih bermartabat dan puas. Ketika seorang yang berilmu mengamalkan ilmunya, saat itu pula ia merasa bahwa dirinya mendapat pengakuan dari orang-orang sekelilingnya yang merasakan manfaat dari ilmu tersebut. Artinya, titik utamanya berada pada individu masing-masing. Apakah ia mau berbuat atau tidak? Kita tidak bisa menyalahkan orang lain, salahkan diri kita sendiri.

Layaknya pohon, semakin lebat dan banyak buahnya, maka semakin banyak yang mencintainya.

Selamat belajar dan berbuat. Wallahu a’lam..

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Amiruddin Dardiri
Alumni ke-47 2013 Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Darussalam.

Lihat Juga

Mencari Buah Ilmu