Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sejenak Bersama Bulan dan Bahtera Negeri

Sejenak Bersama Bulan dan Bahtera Negeri

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Seorang nakhoda sebuah kapal berdecak kagum, sebuah panorama yang unik tengah disaksikannya, bulan tetap terang benderang menjelang pagi hari. Bulan tampak begitu bercahaya meskipun rona fajar menyebarkan warna merah, mengkonfigurasi warna biru pada langit pagi. Karena mendapat asupan cahaya dari matahari, bulan pun tetap memancarkan pesonanya walaupun matahari sebentar lagi akan terbit. Nakhoda kapal ini begitu kagum, karena bentuknya sederhana, indah, dan menawan, bulan pun tetap menawarkan nilai manfaat dari dirinya kepada mata-mata sayup yang menatapnya dengan kekaguman. Sungguh nikmat Allah yang tiada tara, dijadikan keindahan alam yang memanjakan pandangan para insan yang menunggangi dua tunggangan ‘Umar dalam menjalani hidupnya, yaitu sabar dan syukur.

Untuk menatap keindahan bulan ini, orang-orang harus memicingkan matanya, menahan kedip mata yang akan menghilangkan seketika aura indah nan bercahaya dari bulan. Dan setiap yang memandang pun pada akhirnya akan memahami bahwa tidak semua manusia diberi kekuatan untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Allah, karena sebagian kecil manusia harus kemudian bersabar dengan nikmat pandangan yang tak diberikan kepada semua manusia. Sang nakhoda kemudian menyadari bahwa tidak semua manusia diberi kesempatan pada saat yang tepat untuk mengambil hikmah atas setiap fenomena alam, bahkan kebanyakan manusia lupa akan nikmat ini dan memandang keindahan alam dengan cara yang biasa saja tanpa berucap syukur.

Karena keindahan dalam pandangan adalah nikmat Allah yang begitu luar biasa sebagaimana disampaikan dalam Firman-Nya : “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS.Ali-‘Imran : 14)

Maka, sudah sepantasnya bagi setiap insan untuk memandang keindahan alam dengan perenungan yang mendalam. Mengambil setiap ibrah dari gerakan alamiah alam yang tak akan mampu dianalisis dan dijangkau dengan kesombongan ilmu dan akal manusia. Sudah sepantasnya setiap insan memiliki pemahaman yang baik atas ajaran Nabi dan Rasul serta menjadi pewaris ajaran tersebut, dengan meyakini kebenaran dan kandungan kitab suci Al-Quran. Sehingga dengan segala kerendahan jiwa dan hati sanggup untuk memandang keindahan alam bertautkan gelora dan semangat kepemimpinan. Sebut saja ini tatapan visioner sang nakhoda kapal, cara menatap realitas alam dengan kepemimpinan, karena sejatinya tugas manusia adalah menjadi pemimpin di muka bumi. Meskipun pada awalnya perihal kepemimpinan manusia ini ditentang oleh makhluk Allah yang paling taat seantero jagad raya sebagaimana Firman-Nya:  “Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak Menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak Menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia Berfirman, “Sungguh, Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah : 30).

Kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, inilah yang dilihat sang nakhoda tadi dengan tatapan tajam nan visioner, tatapan kepemimpinan. Sang nakhoda bahkan sadar ini bukan sekadar cerita fiksi One Piece yang bercerita tentang seorang kapten kapal bernama Monkey.D Luffy yang memimpin krunya dengan begitu polos dan lugu tanpa tujuan yang konkret. Sang nakhoda pernah mendengarkan sebuah lagu berjudul Perahu Retak yang dinyanyikan oleh Franky Sahilatua :

Perahu negeriku, perahu bangsaku
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu

Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan makan sendiri
(Perahu Retak, Franky Sahilatua).

Ia tertegun mendengar lirik lagu yang sebagian besar memang menggambarkan realitas negerinya. Bahwa keluh dan peluh negeri ini tidak sekedar untuk dinyanyikan, namun segera dicarikan solusi yang berarti. Dan alangkah indahnya bila menjadi bagian dari solusi berbagai permasalahan pelik di negeri ini, dibandingkan sebagian besar orang yang hanya mengutuk masalah dan tak bergerak menjadi bagian dari solusi tersebut. Negeri yang kata orang-orang adalah tanah surga nan indah, namun sebagian besar rakyatnya tak merasakan kemakmuran layaknya cita-cita kemerdekaan. Sang nakhoda adalah orang yang ingin memegang teguh ajaran Islam, ia menyadari bahwa dengan menjalankan perintah serta ajaran Allah dan Rasul-Nya, negeri yang diibaratkan sebagai kapal retak ini bisa terselamatkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari shahabat Nu’man bin Basyir Radhiallahu anhuma, Rasulullah saw bersabda : “Perumpamaan orang yang teguh menjalankan ajaran Allah dan tidak  melanggar ajaran-ajaran-Nya dengan orang yang terjerumus dalam perbuatan melanggar ajaran Allah, adalah bagaikan satu kaum yang melakukan undian dalam kapal laut. Sebagian mendapat jatah di atas dan sebagian lagi mendapat jatah di bawah. Penumpang yang berada di bawah, jika mereka hendak mengambil air, mereka harus melewati penumpang yang berada di atas. Lalu mereka berkata, “Seandainya kita lubangi saja kapal ini, maka kita dapat mengambil air tanpa mengganggu penumpang di atas. Jika perbuatan mereka itu mereka biarkan, maka semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, maka semuanya akan selamat.” (Shahih Bukhari, no. 2493).

Sang nakhoda menyadari bahwa persoalan pelik negeri ini harus segera diselesaikan. Ia begitu bersemangat ingin melanjutkan cita-cita kemerdekaan para pendahulunya di usianya yang menginjak 69 tahun, sebuah negeri yang adil, makmur, dan sejahtera. Maka bahtera negeri ini membutuhkan seorang nakhoda yang yakin bahwa kapalnya tidak akan karam dan tenggelam selama ia memulai perubahan dari dirinya sendiri meskipun nantinya akan sulit. Sang nakhoda begitu termotivasi dengan perkataan Ali bin Abi Thalib ra yang berbicara tentang kepemimpinan : “Barangsiapa meletakkan dirinya sebagai pemimpin, maka hendaklah dia memulai dengan mengajari dirinya sebelum mengajari orang lain. Dan hendaklah dia membersihkan langkah kehidupannya sebelum membersihkan lisannya. Karena orang yang mengajari dan membersihkan dirinya itu lebih berhak dimuliakan daripada orang yang mengajari manusia dan membersihkan mereka.” (Ali bin Abi Thalib).

***

Tulisan ini bukan sekadar bercerita tentang keindahan bulan di pagi hari! Tetapi bagaimana cara kita untuk melihat fenomena alam dengan rasa syukur yang mendalam. Dengan meresapi makna gerakan alamiah alam ini, bahwa dengan rasa syukur yang biasa-biasa saja belum cukup untuk membayar nikmat keindahan alam ini, namun sebagai wujud pengabdian sebagai seorang hamba.

Tulisan ini bukan bercerita tentang perahu yang tak pernah retak kawan! Ya, Perahu negeri ini sedang retak, dan beberapa orang-orang terpilih sedang berusaha memperbaiki keretakan tersebut. Karena ini hanyalah sekedar ide tentang melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang sampai saat ini belum dipahami dan dirasakan oleh masyarakat meskipun Nusantara ini sudah berusia 69 tahun.

Tulisan ini bukan bercerita tentang kapal yang akan karam! Ya, sepertinya kapal negeri ini terlihat akan karam karena menghadapi badai, tetapi insan-insan yang bertakwa sedang berusaha agar negeri yang indah ini suatu saat akan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Sebuah model Negeri Madani yang akan memimpin perdaban dunia, dimulai dari perbaikan individu, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, Insya Allah.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mohamad Khaidir
Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah, Penulis Lepas, Akuntan, JPRMI Wilayah Sulawesi Selatan, FKAPMEPI Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Yuyun, Pejabat Negeri, dan Merajalelanya Minuman Keras