Home / Berita / Internasional / Asia / Wanita Yazidi Ceritakan Derita Mereka Setelah ISIS Kuasai Sinjar

Wanita Yazidi Ceritakan Derita Mereka Setelah ISIS Kuasai Sinjar

Wanita etnis Yazidi yang mengungsi ke Turki (Anadolu)
Wanita etnis Yazidi yang mengungsi ke Turki (Anadolu)

dakwatuna.com – Ankara. Setelah sampai ke wilayah Turki untuk mengungsi, beberapa wanita etnis Yazidi menceritakan bagaimana penderitaan mereka dalam perjalanan. Di antara mereka ada yang berjalan kaki puluhan kilometer setelah kota mereka, Sinjar, dikuasai oleh pasukan organisasi Negara Islam di Irak dan Syam (ISIS).

Seperti dituturkan kepada Anadolu, Sabtu (16/8/2014) kemarin, para wanita Yazidi bercerita sambil sesekali menghapus air matanya. Mereka meninggalkan Sinjar bersama anak-anak, berjalan kaki, di tengah padang pasir yang panasnya kadang mencapai 50 derajat Celsius. Mereka berusaha mencapai wilayah Turki.

Saat ini banyak wanita dan anak-anak mereka tinggal di rumah-rumah penduduk di kampung Butch dan Bozja, di negara bagian Sanli Urfa, Turki. Melalui Anadolu, mereka menyampaikan terima kasih banyak kepada warga kampung yang mau menampung dan menolong mereka.

Salah satu dari mereka, Ghafari Qasim, mengatakan, “Aku tidak bisa berkata apa-apa untuk menceritakan penderitaan yang kualami. Aku datang membawa 7 anakku, berjalan sejauh 100 kilometer untuk mencapai wilayah Turki.”

Qasim menambahkan, “Sebelum ini kami hidup tenteram di Sinjar hingga akhirnya terjadi serangan-serangan itu. Hidup kami berubah total. Semua orang terpaksa lari untuk menyelamatkan diri. Saking takutnya, ada ibu-ibu yang lupa anaknya. Banyak anak-anak dan lanjut usia yang meninggal dunia karena kehausan selama melarikan diri. Sekarang, setelah sampai di Turki, kami tidak tahu mau berbuat apa?”

Sementara itu Adul Hasan menceritakan, “Ada tiga kerabatku yang mati dibunuh pasukan ISIS. Satu lainnya mereka culik. Sedangkan aku membawa lima anakku melarikan diri ke Turki ini.”

Penderitaan Fadhilah Ali tidak kalah memilukan. Dia bercerita, “Aku kehilangan keluargaku yang terdiri dari ayah, ibu, dan 7 saudara. Kami semua sampai di perbatasan Turki, tapi hanya aku yang bisa menyeberang, karena kebetulan memiliki paspor. Sedangkan yang lainnya masih tertahan di sana.” (msa/dakwatuna)

About these ads

Redaktur: M Sofwan

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

M Sofwan
Ketua Studi Informasi Alam Islami (SINAI) periode 2000-2003, Kairo-Mesir

Lihat Juga

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Islammemo.cc)

Erdogan Kembali Kecam As-Sisi, Hubungan Mesir-Turki Kian Menegang