Home / Narasi Islam / Politik / Indonesia Sebagai Juru Bicara Peradaban

Indonesia Sebagai Juru Bicara Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Sejarah perpolitikan dunia mencatat bahwa format perpolitikan manusia pada awalnya ialah sekelompok manusia. Dari kelompok manusia tersebut,barulah manusia sadar akan pentingnya struktur dalam kelompok. Sehingga muncul istilah kerajaan. Kerajaan demi kerajaan satu persatu mulai muncul dan berguguran, seiring dengan daya kompetisi dan kemajuan zaman. Hingga pada hari ini, dikenal istilah nation-state (negara-bangsa).

Di antara sekian banyak kelompok yang ada, pasti ada kelompok yang mendominasi situasi. Dari fenomena inilah, sering didengar dalam buku-buku sejarah istilah imperium Romawi, kekaisaran Persia, dinasti-dinasti, kekhalifahan, hingga istilah negara adidaya. Rotasi peradaban tersebut ialah hasil dinamika dari proses perpolitikan yang panjang dan penuh dengan konflik. Adapun pergiliran negara adidaya dalam konteks perpolitikan kontemporer dimulai dari Portugis, lalu Spanyol, Inggris, Prancis, hingga Amerika Serikat. Karena kemunculan ‘si kuat’ akan selalu ada dalam setiap episode perpolitikan.

Jika sudah mengetahui tabiat dasar roda peradaban, maka tugas saat ini ialah memposisikan Indonesia menjadi juru bicara peradaban Islam dalam kancah dunia. Hal tersebut layak diperjuangkan, mengingat potensi demografi yang ada. Yaitu Indonesia sebagai negara pemeluk Islam terbesar di dunia. Dari hal tersebut pulalah Indonesia seharusnya bisa mengambil alih persoalan-persoalan besar keislaman di dunia. Menjadi pembela sekaligus menjadi problem-solver bagi konflik negara –negara pemeluk Islam mayoritas.

Karena narasi seperti itu menjadi sulit dicapai jika Indonesia hanya bergerak sendiri. Indonesia harus berkolaborasi dengan saudara-saudara se-Islam lainnya. Negara seperti Malaysia, Turki, Mesir, Sudan, Maroko, Yaman, Arab Saudi, dan negara penduduk mayoritas Islam lainnya yang harus dirangkul dalam sebuah cita-cita besar. Jika cita-cita Indonesia sebagai juru bicara peradaban sudah tercapai, bukankah cita-cita membangun dunia yang lebih beradab dan bermoral menjadi semakin jelas dan nampak di depan mata?

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 1,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ridwan Akbar
Mahasiswa Hubungan Internasional, FISIP UIN Jakarta.

Lihat Juga

Konflik Peradaban dan Kebijakan Politik Barat