Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Sajak Perasaan

Sajak Perasaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (kawanimut / inet)
Ilustrasi. (kawanimut / inet)

dakwatuna.com

Tak ada gunanya mengumbar perasaan dalam media sosial.
Terlalu sering mengumbar cepat atau lambat akan terasa hambar.
Izzah diri otomatis tergambar.

Bila sudah berkeinginan menikah,
katakan kepada wali nikah.
Bila ternyata belum mampu, perbaiki diri itu perlu, wajib bin kudu

Bukan ekonomi yang jadi tolak ukur
Sebab rezeki itu Allah Azza Wa Jalla yang atur
Perbaiki keimanan, ilmu dan ibadah yang teratur

Mengumbar keinginan di media sosial itu enggak perlu
Enggak cukup membantu
Hidup adalah aksi nyata, bukan teori yang jadi nomor satu
Bila belum ketemu
Bisa jadi Allah meminta pembuktian keimanan dan kesabaranmu

Yakin, deh, tanpa mengumbar bagaimanapun
Pasti kan datang jodohmu.
Kalau Allah berkehendak, jarak enggak akan berlaku
Yakin, pasti kan datang jodohmu.

Galau itu fitrah
Tapi harus sesuai wadah
Namanya menikah
Bukan khalwat berdalih taarufan
Apalagi pacaran, enggak banget lah!

Cinta itu fitrah
Mestinya terbingkai dalam iman dan sesuai syariah
Biar aman dan enggak timbulkan fitnah.

Bila ingin miliki istri seperti fatimah
Perbaiki diri seperti Ali.
Bila ingin miliki suami seperti Ali.
Perbaiki diri seperti Fatimah.
Ingat, lho, mereka berdua tak pernah umbar perasaan
Kalau jodoh enggak kemana, kan?

Menikah bukan sebatas dua insan
Tetapi dua pemikiran
dua keluarga
dua kebudayaan
Manis, sih. Karena itu ibadah dan sudah halal

Tapi jangan hanya bayangkan manisnya saja.
Pikirkan juga kerikil dalam rumah tangga
Kalau sekarang hanya galau, kapan mempersiapkannya
Menghadapi kalau kerikil rumah tangga bertandang

Bila sudah mampu, aksi itu perlu
Galau itu enggak perlu
Bila belum mampu, perbaiki diri itu perlu
Galau itu enggak perlu
Bila belum ketemu, tawakkal itu perlu
Galau itu enggak perlu

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 9,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sari Asma Anggar
Penulis berkulit sawo matang ini sudah menyukai dunia tulis menulis sejak masih berusia 8 tahun. Baginya, menulis merupakan suplemen jiwa. Alasan lain yang membuatnya menyukai dunia tulis menulis adalah Dengan tulisan, bisa jadi kita mampu mengubah peradaban

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Hikmah Atas Titipan Sebuah Rasa