Home / Pemuda / Cerpen / Marina

Marina

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: islam.ru)
Ilustrasi. (Foto: islam.ru)

dakwatuna.com “dedek sayaaang… yang sabar ya… ayah sebentar lagi pulang.  Ayah bakalan bawa bakso….” sambil mengelus elus perutnya yang terlihat mulai agak membuncit Marina mencoba mengajak calon buah hatinya yang masih berumur dua bulan itu untuk berkomunikasi.

Marina dan Budi suaminya merupakan pengantin baru, tiga bulan yang lalu mereka resmi menikah. Dua orang insan yang awalnya berkenalan lewat “sms nyasar” beberapa waktu sebelumnya.

“assalamu’alaikum… ayah pulang.” Lelaki muda tampak sumringah berdiri di depan pintu rumah sederhana milik Marina. Dialah Budi yang sedang menunggu istrinya si perempuan cantik membukakan pintu dan kemudian mencium tangannya sebagai tanda penghormatan. Terlihat di tangan lelaki itu sebuah tentengan, sepertinya itu adalah bakso pesanan Marina. Dalam hitungan detik aura rumah itu berubah, dipenuhi aura kebahagiaan. Raut wajah sepasang suami istri muda itu bercahaya. Di sekeliling mereka bertebaran kelopak bunga melati merah muda, satu satu tampak juga yang berwarna putih. Aroma wangi menyeruak memenuhi ronga hidung. Dan di atas kepala mereka beterbangan balon balon kecil penuh warna. Eitssss….. itu hanya halusinasi…. hehe.

***

“Ceraikan akuuuuu!!! ceraikan aku…..!!! kau dengar??”
“Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Tidak ada alasan bagiku untuk itu” dengan nada tertahan.
“Apa maksudmu tidak ada alasan? aku tidak tahan dengan pernikahan ini. Aku tidak bisa hidup seperti ini Budi. Sungguh aku telah menyesal menikah denganmu. Dengar itu……”

Sambil terisak menahan emosi. Marina dengan suara yang lantang mengucapkan kata-kata yang sangat kasar. Dan kini pun ia berlalu dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Seolah dia lupa bahwa ada calon bayi di dalam kandungannya yang mungkin tertekan meneteskan air mata melihat ayah dan bundanya.

Budi mengucapkan istighfar berkali-kali. Bertasbih menyebut nama Allah. Hari ini, sungguh untuk pertama kalinya dia tidak mengenal sosok Marina sama sekali. Apakah ini bawaan hamil?? Mengingat kehamilan Marina kini memasuki bulan ketujuh. Mungkinkah hal ini dapat membuat emosinya demikian membludak? Bagaikan air bah dan tak terbendung lagi? Tapi tetap saja, Budi merasa tadi itu bukanlah Marina.

***

“Praaakkkk”
Sebuah panci terjatuh. Menimbulkan bunyi yang cukup bising di rumah kecil milik Marina dan Budi. Sebenarnya tidak disengaja, tapi itu memang karena suasana hati yang tidak enak. Marina memasak dengan gerak-gerik sekenanya. Panci itu terjatuh ke lantai setelah dihempas-hempaskan dengan kasar di atas kompor kecil milik mereka. Di dalam panci itu ada onggokan mie goreng ala kadarnya. Tidak ada ketertarikan untuk memakannya, kecuali bagi mereka yang sangat lapar.

“Ada apa marina….?” Dari balik bilik terdengar suara Budi, kemudian ia menghampiri Marina.
“Ya udah, biar aku yang masak. Kamu istirahat aja ya……” Sambil mengelus perut Marina (dengan nada yang begitu lembut dan penuh kasih sayang).
“Sudah selesai baru bilang mau masak?” Wajah Marina begitu ketus, Marina mengibaskan tangan suaminya dan dia pun berlalu.
Budi menghela nafas begitu dalam. Ingin semua sikap Marina ini segera berakhir. Budi beranganangan, seandainya marina penuh dengan kelembutan dan kasih sayang….ahhhh…….

***

Kini rumah mungil mereka yang baru ditempati beberapa bulan itu semakin terasa sempit di hati Budi. Hari-hari yang dilaluinya bersama  Marina begitu kelabu. Kebahagiaan dan keceriaan Marina sudah lama hilang ditelan bumi atau mungkin disapu badai hingga kini semua berlalu tanpa bekas. Yang ada hanyalah aura kemarahan, rasa benci, rasa kecewa. Semua terlontar lewat kata-kata kasar Marina, diiringi dengan sikap yang sama sekali tidak pantas diberikan kepada seorang suami. Budi tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti….

Sementara itu dibalik kamar tiga kali tiga meter, beralaskan kasur tampa dipan Marina menangis. Dia sendiri tidak tau mengapa rasa sesalnya begitu besar karena telah menikah dengan Budi, semakin hari semakin menggunung. Marina benar-benar ingin bercerai. Marina merasa tidak ada cara lain baginya untuk bebas selain bercerai. Dia benar-benar merasa tertekan. Apa yang dulu dibayangkannya tidak menjadi nyata. Harapan yang diberikan oleh seorang lelaki yang dikenalnya lewat “sms nyasar”. Kemudian sms demi sms itu bertumpuk dan menumbuhkan rasa saling suka hingga mereka memutuskan untuk sampai ke jenjang pernikahan. Pernikahan yang dilandaskan oleh harapan-harapan kebahagiaan dan begitu tergesa-gesa.

“Ya allah, semua benar-benar diluar dugaanku…….” lirih Marina dalam hati.

***

Sore ini Budi enggan untuk pulang kerumah. Dia galau. Keadaan pahit yang bertubi-tubi serasa begitu beruntun menimpa dirinya. Duduk di tepi jembatan ini terasa lebih menenteramkan. Matanya yang kini agak sayu menerawang jauh kedalam riak sungai di bawah jembatan itu. Aliran pikirannya terbawa jauh mengikuti kemana riak-riak air itu mengalir.

“ya allah, 180 derajat telah kau balikkan semuanya. Begitu cepat, jauhkanlah aku dari rasa putus asa dan berikan aku kesabaran beserta keihklasan….”

Ingatan budi menari-nari bagaikan pendaran asap yang berputar putar di atas kepalanya. Bagaimana sekitar empat bulan yang lalu, ayah Budi, seseorang yang paling bertanggung jawab terhadap Budi dan kakak-kakak perempuannya mengutarakan maksud hatinya agar Budi sebagai anak lelaki satu-satunya mau memberikan toko sembako milik mereka beserta rumah hasil usaha itu kepada kedua kakak perempuannya. Dua orang kakak perempuan Budi kini menjadi janda karena ditinggal suami mereka dalam kecelakaan sekeluarga yang mereka alami beberapa waktu yang lalu. Masing masing memiliki tiga orang anak yang semuanya sedang bersekolah.

Toko itu sebelumnya telah diberikan ayah Budi kepadanya. Budi mengelola dengan baik sehingga menghasilkan sebuah rumah yang bagus. Waktu itu kehidupan kakak perempuan Budi berkecukupan, suaminya seorang profesional. Tetapi semua itu kini telah berakhir, dua orang kakak perempuannya telah menjanda. Dengan bekal pendidikan tamatan SMA dan tidak pernah bekerja sebelumnya, tentu sesuatu yang sulit bagi dua orang kakak perempuannya itu untuk mencari penghidupan yang layak sebagaimana sebelumnya.

Sebagai saudara laki-laki yang bertanggung jawab, Budi menyerahkan kembali usaha dan rumah itu kepada keluarga. Dia adalah lelaki dan ketika kondisi sulit seperti itu tentu saja Budi membutuhkan sokongan, istrinya Marina kok malah ikutan berubah? Kini kehilangan kemesraan, kelembutan, dan kasih sayang.

Budi patah arang, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Sisi manakah yang harus dibenahi dulu, perekonomiannya kah atau Marina istrinya??? (kemana akan dibawa ijazah SMA ini?? toko?? biarlah toko dan rumah itu kini menjadi milik dua orang kakak perempuan beserta enam orang ponakannya. Toh dia dan Marina masih muda. Perjalanan mereka masih panjang, dan pasti mereka bisa. Bagaimana dengan Marina? Siapkah dia akan perjuangan ini?”)

“Marina.. maafkan aku, kondisi ini memaksamu untuk ikut berjuang. Aku berharap kamu sabar dan ikhlas. Kasih aku waktu dan kesempatan Marina.” dalam sunyi budi bersuara lirih. Lirih sekali…..

***

“Kemana saja kamu Mas? Kok baru pulang? Enak ya membiarkan aku sendirian di rumah. Lupa kalau istri lagi hamil?”
Budi diam saja, takut bila dia tidak mampu berlaku lembut seperti biasanya malam ini. Hatinya sedang galau.

“Aku mau ke Jakarta…….” Marina mengeluarkan pernyataan yang membuat kerongkongan Budi tersekat.
“Apa????”
“Iya, aku mau ke Jakarta. Mau cari kerja. Aku tidak bisa lagi bertahan dengan kondisi seperti ini. Tinggal di rumah yang sempit, bocor, kasur tanpa dipan, makanan-makanan yang tidak bergizi. Kalau sekarang saja begini, lalu bagaimana nasib bayi ini nanti…..?” dengan nada tegas Marina menyampaikannya.
“Aku lulusan S1, aku pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan hidup layak…..” tandasnya.

Seakan disambar petir, Budi benar-benar tidak menduga bahwa Marina akan mengutarakan hal ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.
“Marina, kamu kan sedang hamil sayang……bagaimana mungkin kamu akan ke Jakarta?”
“Hamil bukanlah suatu halangan bagiku. Kamu lupa ya? disana kan ada kakak perempuanku. Sebulan lagi aku akan melahirkan. Setelah itu aku akan mencari pekerjaan. Sebelum aku mendapatkan pekerjaan, kamu tinggal di sini saja dulu hingga aku kabari untuk menyusul ke Jakarta….”
“Marina…….” Sambil mencoba meraih tangan Marina tetapi Marina malah menghindar.
“Aku harap kamu tidak keberatan, ini demi masa depan aku, kamu dan anak kita. Aku tidak menyangka bahwa apa yang kamu janjikan dulu ternyata tidak ada. Ini adalah solusi terbaik. Kalau tidak begini kita tidak akan bangkit dari ekonomi yang sangat sulit ini. Kamu pasti paham Mas…..”
“Marina…. Ini semua juga bukan kehendakku. Ini takdir Allah. Bagaimana kecelakaan itu harus terjadi dan merenggut nyawa dua orang abang iparku. Sehingga toko yang memang milikku itu harus kuberikan kepada mereka. Mereka kakak perempuanku dan aku adalah lelaki……” sungguh tenggorokan Budi tercekat.
“Oh ya??? Aku tidak melihat sisi kelaki-lakianmu… Apa saja yang sudah kamu lakukan? Pergi pagi pulang malam dengan membawa 1 kilogram beras? aku tidak melihat usaha-usahamu untuk memperbaiki ekonomi kita… Aku sangat ragu denganmu.” sangat lugas jawaban Marina.
“Bagaimana mungkin aku tenang untuk memperbaikinya bila setiap hari kau suguhkan kepadaku mukamu yang masam dan hentakkan kakimu yang seolah mampu meruntuhkan rumah ini. Aku butuh support darimu Marina.”
“Support???” Marina mencibir.
“Iya support dari istri yang jelas aku sayangi. Ini baru bulan kelima kita tinggal disini. Tapi kau berubah seolah menyalahkan aku atas semua kondisi. Aku merasa kau tidak mau menerima keadaan. Dan kau harus ingat bahwa aku hanya lulusan SMA. Butuh waktu dan perjuangan bagiku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak…. butuh kesabaran Marina…..”
“Ya ya aku tau itu. Oleh karena itu aku menyesal… dan aku akan ke Jakarta. Tahu betul bahwa akan sangat sulit bagimu untuk menghidupiku secara layak dengan berbekalkan ijazah SMA bukan????” Marina benar benar tegas dan keras. Tidak ada sedikitpun kegetaran di raut wajahnya. Matanya yang besar seolah mengisyaratkan bahwa dia bukanlah perempuan biasa. Apa yang dia mau akan dia dapatkan.
“Dan akupun tidak menemukan apa yang aku cari didiri kamu Marina. Dulu dibalik jilbabmu yang lebar, aku ingin menemukan sosok wanita yang shalihah, sosok sabar, sosok ikhlas, sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi, mana…….”
“Kamu juga menyesal menikah denganku bukan? Aku memang bukan wanita shalihah. Aku tidak mampu bersabar…….apa yang dulu aku bayangkan tidak ada. Aku berharap Allah sayang padaku, mengampuni dosaku dan mengeluarkanku dari kehidupan yang sempit ini….”
“Bersabarlah Marina, aku membutuhkan bantuanmu. Tetaplah dampingi aku di sini.”
“Aku ingin ke Jakarta, kalau kau tidak mengizinkan ceraikan aku sekarang……”
Budi lemas mendengarkan kata-kata Marina. Dia masih yakin sekali bahwa ini bukanlah Marina yang sebenarnya. Marina istrinya adalah sosok yang shalihah sebagaimana jilbab lebarnya. Hanya saja dia sedang kalut dan juga dalam kondisi hamil. Marina mungkin sangat takut dan cemas akan masa depannya dan masa depan bayinya.. Kecemasan yang memuncak, terang saja karena Marina tidak pernah hidup dalam kondisi kekurangan. Marina selalu hidup berkecukupan sebelumnya. Marina tidak siap….apalagi Budi hanyalah lulusan SMA. Semua akan sangat sulit.

Untuk sementara harapan Budi terhadap Marina ditepis. Harapan akan sosok Marina yang shalihah, yang akan membantunya untuk dekat kepada Allah. Sebagaimana motivasi utamanya dulu saat menikahi Marina. Dia berharap Marina mampu membimbingnya bersama-sama untuk berislam yang lebih baik, dan realitanya ternyata tidak sesuai.

***

Dua tahun pun berlalu, Marina kini berada di bandara. Sambil menggendong Surya, putra pertamanya. Dia akan menemui Budi. Setelah sekian lama tidak berjumpa, ada sedikit rindu. Marina naik ke sebuah taxi dan kemudian melaju….
“Rumah ini jauh lebih jelek dari dua tahun yang lalu. Budi…Budi…kamu memang tidak bisa diandalkan……” begitulah komentar marina saat turun dari taxi.
Sambil menghela nafas Marina mengetuk pintu rumah yang dulu pernah menjadi tempat tinggalnya.
“Assalamualaikum…….”
“Waalaikumsalam, sebentar…….”terdengar sahutan seorang lelaki dari dalam rumah.
Ketika pintu dibuka, Budi kontan tersentak dan merasa bahagia melihat istri yang dirindukannya pulang.
“Marina….subhanallah…..aku benar-benar merindukanmu…”
Tampa komando Budi memeluk Marina. Rasa rindu dan rasa bersalah yang telah lama dipendam Budi kini menyatu tumpah dalam pelukan itu. Lama…….hingga semua rasa itu tercerai berai…….
“Sayang ini ayah…..” sambil memberikan Surya kepada Budi. Surya sudah mulai bisa berjalan.
“Apa kabar kamu Marina, maaf aku dulu tidak bisa menyusulmu………”
“Seperti yang kamu liat, aku baik (dengan nada cuek seperti dulu, Marina tak berubah). Ahh…..tidak mengapa. Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu. Karena dari awal aku telah menduga bahwa kamu tidak akan pernah menyusulku. Kamu memang tidak pernah berani dalam menghadapi resiko…..”
“Ya…kamu benar……” (tapi bukan karena itu Marina…….karena aku adalah lelaki, aku tidak akan menyusulmu karna itu sama saja kau menginjakku. Yang penting kewajibanku selalu kupenuhi setiap bulan menafkahimu, walau tidak seberapa dari gaji yang kau dapatkan bisik Budi dalam hati).

Sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, tampa basa basi Marina menyerahkan selembar kertas kepada Budi yang masih sibuk menciumi putranya Surya.
“Apa ini??” Budi penuh dengan tanda tanya….
“Silakan kamu baca dulu dan setelah itu ditanda tangani……”
“Marina……apakah tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan? aku masih memiliki harapan untuk membina rumah tangga Islami dengan kamu. Aku akan melupakan dan memaafkan, apapun itu. Aku akan berusaha mencari nafkah yang layak. Kini aku sedang mulai merintis usaha kita Marina. Aku kira kamu pulang untuk hidup bersama lagi denganku sebagaimana surat yang kukirimkan waktu itu… kita sudah punya toko lagi walau itu belum sebesar yang dulu. Kita punya harapan…..untuk bersama sama membesarkan Surya…..”

Marina lengah seolah tidak mendengarkan apa yang dikatakan Budi. Satu hal yang baru disadari Budi bahwa Marina nya benar-benar telah berubah. Tidak ada lagi jilbab lebar itu. Kemana jilbab lebar Marina???
“Pekerjaanku di Jakarta sangat sayang untuk aku tinggalkan. Aku telah memiliki posisi yang bagus. Dan kau tentu tau bahwa Surya akan hidup baik dalam asuhanku. Kamu harus percaya itu, begitu banyak hal yang tidak kudapatkan dalam diri kamu Budi…dan aku takut aku semakin menjadi istri durhaka bila pernikahan ini tetap dilanjutkan. Aku tidak ingin berdosa lebih banyak lagi….”

Budi mengantar Marina sore itu ke bandara. Surat itu telah ditandatanganinya, sungguh sangat terpaksa. Mungkin benar kata Marina, bahwa semuanya harus segera berakhir. Pupus sudah harapannya untuk merajut rumah tangga Islami bersama Marina. Ahhh…ternyata jilbab lebar itu tidak sepenuhnya menjamin segalanya. Benar sekali bahwa takwa itu ada di hati, bukan di selembar kain.

Toh kini telah terbukti bahwa kain itu begitu cepat melayang entah kemana, hingga tidak tampak lagi menutupi tubuh Marina. Budi dulu benar-benar jatuh cinta kepada Marina karena jilbab lebarnya. Marina yang begitu anggun, dan terbayang bahwa bersamanya akan memberikan ketenteraman. Budi akan bisa lebih mengenal Islam dengan baik melalui Marina. Sms demi sms, telfon demi telfon akhirnya Budi mampu meyakinkan Marina untuk dipersunting menjadi istri. Semua diluar dugaan, namun cita-cita Budi untuk memiliki istri shalihah tidak akan berubah, Marina tidak akan mampu merubah tekadnya. Marina biarlah Marina, tapi tekad itu demi Allah. Dan Allah jualah yang bisa merubahnya, bukan Marina.

Marina kini telah menjauh, dalam pangkuannya ada Surya yang sedari tadi selalu menatap ayahnya seolah tidak mau berpisah.
“Ya Allah, lindungilah anakku…..” lirih Budi dalam hati. Lirih yang begitu dalam. Hatinya perih mengingat semua realita kehidupan yang kini dirasakannya….serasa dalam alam mimpi…”

***

“Mas, sini…….”
Seorang perempuan muda yang sedang hamil tua mencoba memanggil lelaki yang berjarak tidak lebih satu meter darinya. Perempuan itu begitu anggun dan mempesona. Pakaiannya yang begitu rapi dihiasi dengan jilbabnya yang lebar dan pancaran wanita shalihah begitu kentara dari tutur katanya yang lembut dan penuh penghormatan. Tampak sekali bahwa dia bukanlah wanita kalangan bawah, tapi dari ekonomi menengah ke atas.
“Ya, ada apa um……” lelaki itu sepertinya memanggil wanita nan anggun itu dengan panggilan ummi.
“Itu tu…coba abi liat ibu-ibu penjual mainan itu. Kok ummi serasa kenal ya….trus liat ada anak kecil laki-laki di sampingnya, kesana yuk….”
Lelaki yang dipanggil abi, menyipitkan mata. Mencoba melihat dengan jelas ibu-ibu yang dimaksud istrinya. Dari mimik wajah lelaki itu tampak jelas bahwa dia tidak mengenal ibu-ibu yang ditunjuk istrinya.
“Yuk, kita lihat ummi… siapa tahu dia memang kenalan umi. Soalnya abi nggak kenal……”

Tetapi dari tempat si ibu-ibu yang mereka maksud ada sebuah getaran yang maha dahsyat. Langkah kaki mereka berdua memberikan getar bak goncangan bumi terhadap ibu-ibu dan anak lelakinya itu. Semakin sepasang suami istri itu mendekat, mata ibu-ibu itu semakin membelalak dan memeluk anaknya erat. Seperti melihat air bah dengan gelombang yang begitu tinggi yang akan menimpanya. Nafas ibu-ibu itu tertahan dan air mata tiba-tiba mengalir dipipinya.

“Ibu….kita sepertinya kok kenal ya….” si wanita yang dipanggil ummi menyapa ibu-ibu itu.
“Buu….Bu…Budiiii…….” bukannya menjawab si ibu-ibu malah memanggil nama lelaki yang dipanggil abi dengan lirih.
Si abi terkejut….
”Masyaallah……Maa…Ma…Marina……, kamu sedang apa disini Marina……inikah Surya…..???”
Lelaki itu tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Budi baru menyadari bahwa ibu-ibu itu adalah Marina, mantan istrinya dulu. Dan anak kecil itu tentu saja adalah putranya, Surya. Budi dan istrinya benar-benar tidak percaya bahwa mereka akan bertemu Marina di sini. Disebuah pasar loak di kota Jakarta. Marina yang telah lama menghilang tanpa kabar. Ingin sekali Budi menyapu air mata perempuan itu dan memeluknya erat, tapi kini dia bukan mahramnya lagi.

Marina sudah bukan istrinya, tentu saja haram untuk menyentuhnya. Budi merengkuh putranya Surya, menciuminya dan memeluknya erat sekali hingga Surya tampak agak kesulitan bernafas. Budi seolah tidak ingin berpisah lagi dengan putranya itu walau sejengkal. Putra yang sangat dirindukannya setiap hari, bersama rasa bersalahnya. Mereka mengajak Marina untuk sama-sama duduk disebuah tempat yang layak, tapi Marina menolak. Tampak sekali aura malu di pancaran sinar matanya.
“Nggak usah, terima kasih…..”
“Apa yang terjadi dengan tempat kerjamu Marina” pertanyaan yang sudah ingin dilontarkan sedari tadi oleh budi.
“Perusahaan tempatku bekerja gulung tikar dua tahun setelah kita bercerai, dan aku kehilangan segalanya….”
“Maafkan aku Marina…”lirih budi hampir tidak terdengar.
“tidak ada yang perlu dimaafkan Budi, aku lah yang telah melampaui batas. Niatku telah salah ketika menikah denganmu. Aku wanita yang tidak bisa memenuhi harapanmu, jilbabku tidak selebar keimananku sehingga aku tidak bisa qonaah atas rezeki yang diberikan kepadaku . Ambisi-ambisiku terhadap dunia, yang kuharapkan akan kudapatkan darimu telah membutakan mataku. Aku bersyukur telah bercerai denganmu karena sesungguhnya bukan kamu yang tidak layak untukku tapi “akulah yang tidak layak untukmu”. Kini aku akan merangkak memperbaiki diri, memohon ampun kepada Allah atas kekhilafanku dan maafkan aku budi……aku bahagia melihat kau mendapatkan istri sebagaimana yang kau harapkan. Semoga kalian sakinah mawaddah warrahmah…..”

Budi menghela nafas, istri yang berada di sampingnya nampak tenang dan tersenyum mengelus bahu suaminya agar tetap sabar.
“Aku telah memaafkanmu sedari dulu Marina, dan pabila suatu saat Allah mempertemukanmu dengan jodohmu maka ketahuilah Marina bahwa sifat qonaah (menerima apa yang ada dengan ikhlas) adalah pondasi utama yang harus dimiliki wanita shalihah. Dan jangan pernah lagi meminta untuk diceraikan oleh suamimu tanpa alasan yang syar’i. Taukah kamu Marina, bahwa Allah tidak akan pernah mengizikan seorang perempuan yang meminta diceraikan oleh suaminya tanpa alasan syar’i untuk menginjakkan kaki di surga. Jangan kan memasukinya, menciumnya sekalipun tidak akan Allah izinkan.…tidakkah kamu takut akan hal itu Marina? Semoga hidayah Allah menaungimu….dan……” Budi menggantung kalimatnya.
“Dan apa Budi? Kamu mau meminta Surya kan? Bawalah dia bersamamu. Aku percaya bahwa istrimu ini adalah istri yang shalihah dan tidak akan menjadi ibu yang buruk bagi putraku. Bersamamu Surya akan lebih baik……”

Marina dari dulu memang cerdas, dia mampu membaca apa yang diinginkan orang lain. Kecerdasannya juga telah mengantarkannya kepada kesuksesan diVdunia kerja. Kecerdasan yang membuatnya begitu berani dan keras kepala. Kecerdasan yang membuatnya ingin memiliki segalanya. Kecerdasan yang membuatnya telah meremehkan mantan suaminya “Budi”.

Marina melepas Surya pergi dengan ayahnya, bersama ibu tirinya. Dari kejauhan Marina memandangi punggung mereka. Rasa iri yang begitu besar menyusup ke dalam hatinya yang paling dalam. Sesal yang tiada tara. Air matanya sedari tadi meleleh bagaikan es yang mencair. Tiada henti. Bahunya naik turun menahan isak tangis. Ulu hatinya perih, mengingat betapa dia seorang perempuan “bodoh”. Tapi Marina telah mengikhlaskannya.

“Ya Rabb terima kasih telah kau pertemukan anakku dengan ayahnya, jagalah ia, jagalah ayahnya beserta keluarganya dan ampuni aku, bimbing aku kembali kedekapanmu ya Rabbi”

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (104 votes, average: 8,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Putri minang asli, daerah asal adalah Mungka Kab. 50 Kota, Payakumbuh Sumbar. sekarang domisili di Batam, bekerja disalah satu perusahaan swasta.

Lihat Juga

Berkah Dengan Satu Istri, Berkah Dengan Poligami