Home / Pemuda / Kisah / Abu Qudamah dan Anak Kecil yang Ikut Berperang

Abu Qudamah dan Anak Kecil yang Ikut Berperang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (RoL)
Ilustrasi (RoL)

dakwatuna.com Saat melawan Romawi, Abu Qudamah adalah panglima perang dan penyeru berjihad di jalan Allah. Lantas datanglah seorang Ibu memberikan kertas dan bungkusan, kemudian Abu Qudamah membuka pemberian tersebut dan terdapat pesan bahwa dengan sedihnya wanita tersebut memiliki keterbatasan untuk ikut berjihad, Ia hanya mampu menitipkan bungkusan yang berisi jalinan rambut untuk diikatkan pada kuda Abu Qudamah. Wanita tersebut berharap mudah-mudahan Allah menuliskan untuknya sebagian dari pahala orang-orang yang berjihad.

Lantas datanglah seorang anak kecil yang dengan beraninya mendatangi Abu Qudamah dan mengutarakan maksudnya ingin berangkat perang. Abu Qudamah melarangnya, namun si anak kecil itu sontak berkata, “Bukankah Engkau mengetahui bahwa Allah SWT berfirman “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan maupun berat..” (QS. At-taubah: 41)

Sontak Abu Qudamah tercengang dan akhirnya ia dengan perasaan heran bercampur kasihan mengizinkan anak kecil itu untuk berperang. Anak tersebut berkata, “Berikanlah aku 3 anak panah”. Abu Qudamah tidak langsung memberikan anak panah akan tetapi memberikan syarat, “Jika nanti kamu syahid di jalan Allah, maka berikanlah syafaat kepadaku”. Si anak langsung menjawab, “baik, insya Allah”.

Pertarungan pun berjalan, anak tersebut begitu bersemangat dan berani bertempur menghadapi musuh. Kemudian ia jatuh tersungkur. Abu Qudamah pun mendekat seraya berkata, “Apakah kamu ingin makan atau minum?”. “Tidak, sungguh saya memuji Allah atas apa yang terjadi pada diriku. Akan tetapi aku memiliki satu keinginan.” Abu Qudamah berkata, “Iya, dengan senang hati wahai anakku, mintalah kepadaku apa yang engkau inginkan”. “Sampaikan salamku kepada ibuku dan serahkanlah barang-barangku kepadanya”. “Siapakah Ibumu wahai anak muda?” “Ibuku adalah wanita yang memberikan kertas bungkusan kepadamu”, sahut anak tersebut.

Lantas anak tersebut syahid. Abu Qudamah menguburkan anak itu. Tapi tiba-tiba bumi memuntahkannya. Ia kuburkan lagi, maka bumi memuntahkannya lagi. Kemudian ia perdalam kuburannya, namun tetap bumi memuntahkannya lagi. Akhirnya anak tadi ditinggalkan, kemudian didatangi oleh seekor burung, dan dimakanlah anak kecil tadi oleh burung.

Kemudian Abu Qudamah pergi ke tempat ibunya untuk melaksanakan wasiatnya. Ketika Ibunya melihat Abu Qudamah, dia berkata “Apa yang mendorongmu datang ke sini wahai Abu Qudamah, apakah engkau datang untuk berbela sungkawa ataukah mengucapkan selamat?”
Abu Qudamah bertanya kepadanya, “Apa maksudnya?”. Ibunya menjawab, ‘Jika anakku meninggal dunia, berarti engkau datang kepadaku untuk berbela sungkawa. Jika anakku gugur di jalan Allah dan meraih syahid, berarti engkau datang untuk mengucapkan selamat”. Lantas Abu Qudamah menceritakan kisah si anak kepadanya dan diceritakan pula tentang burung dan apa yang dilakukan burung tersebut terhadap anaknya. Ibunya berujar “Sungguh Allah telah mengabulkan do’anya”. Abu Qudamah dengan kaget bertanya, “Apa doanya wahai Ibu?” Ibu menjawab, “Sesungguhnya dia berdoa kepada Allah di dalam shalat-shalatnya dan kesendiriannya dan membaca doa berikut di pagi dan petang, “Ya Allah kumpulkanlah Aku di dalam tenggorok burung”.

Kemudian Abu Qudamah meninggalkan wanita tersebut dan ia mengetahui mengapa Allah menetapkan pertolongan kepada pasukan perang yang dipimpinnya dan mengalahkan musuh-musuhnya.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 8,41 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Burhan Efendi
mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 48 Institut Pertanian Bogor. Berasal dari Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Lihat Juga

Lebih dari 52 Ribu Warga Mengungsi, Kondisi Warga yang Masih di Mosul Mengkhawatirkan