Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ya Allah, Ajari Aku Bersyukur

Ya Allah, Ajari Aku Bersyukur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Seorang pria Palestina sedang sujud dalam shalatnya di antara puing-puing rumahnya yang hancur akibat dibom oleh aksi militer Israel terhadap Hamas pada tahun 2009, di Bait Lahiya. (Reuters / tageswoche.ch)
Ilustrasi – Seorang pria Palestina sedang sujud dalam shalatnya di antara puing-puing rumahnya yang hancur akibat dibom oleh aksi militer Israel terhadap Hamas pada tahun 2009, di Bait Lahiya. (Reuters / tageswoche.ch)

dakwatuna.com Masih kupandangi foto itu, seorang lelaki tengah bersujud di antara reruntuhan bangunan. Bergetar hati ini, air mata tak sanggup kubendung. Lihatlah, lelaki itu telah kehilangan tempat tinggalnya, tak ada lagi harta benda yang tersisa, namun ia tetap bersujud, memuja-Nya…

Hayyaa alla shalah… sayup terdengar suara adzan, aku bangkit, segera berwudhu… duhai Rabb, betapa ingin aku memuji-Mu dalam shalatku, dalam sujudku…

Usai menunaikan shalat, diri ini memperbanyak beristighfar, bermuhasabah…
Ya Allah, ampuni hamba yang sering kali lalai mengingat-Mu, lisan ini lalai mengucap dzikir, lalai memuji-Mu.. Padahal diri ini bertabur karunia dan nikmat dari-Mu, bahkan sungguh hamba tak sanggup menghitung banyaknya limpahan karunia dan nikmat dari-Mu, namun betapa sedikit hamba memuji-Mu… betapa banyak keluh kesah yang seharusnya tak terucap oleh lisan ini.

Mengingat foto lelaki tadi, teringat pula sebuah hadits, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan baik baginya, apabila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar, dan itulah yang terbaik untuknya.” (Hadits Riwayat Muslim).

Adakah kita termasuk mukmin seperti yang disebutkan oleh Rasulullah? Apabila mendapat kesenangan kita bersyukur? Apabila mendapat musibah kita bersabar? Atau mungkin yang terjadi adalah saat mendapat musibah kita menyalahkan Allah? Mempertanyakan kasih sayang-Nya? Tak henti berkeluh kesah, terpuruk dalam kesedihan? Dan saat mendapat kesenangan kita pun lupa kepada Allah? Menganggap segala kesenangan karena usaha kita sendiri? Tak ada kata syukur terucap? Kita dustakan nikmat Allah, kita balas nikmat Allah dengan maksiat…

Sesungguhnya buah manis dari syukur dan sabar adalah untuk kita sendiri. Bukan, bukan untuk Allah. Allah sama sekali tidak memerlukan syukur kita. Demikian pula halnya dengan keluh kesah, buah pahit keluh kesah akan kita telan sendiri. Kekayaan dan Kemuliaan Allah tak akan berkurang sedikitpun bila kita kufur nikmat.

“Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

“Dan ingatlah juga tatkala Tuhanmu memaklumkan, “ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Kusangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Berbahagialah kita, karena Allah SWT telah memberi penangkal terbaik untuk sifat keluh kesah dan kikir, Allah SWT berfirman, “Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan harta dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat, mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij: 19-23)

Subhanallah, sifat suka berkeluh kesah dan kikir dapat dicegah dengan shalat, dengan menjaga shalat kita…
Dalam sujud panjangku, kuselipkan doa, Ya Allah.. Segala puji bagi-Mu yang telah menganugerahkan kepada Kami segala nikmat yang tak terputus, sungguh nikmat Islam dan nikmat Iman adalah nikmat terindah bagi kami.. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, aku mohon kepada-Mu, jadikanlah sabar dan shalat senantiasa sebagai penolongku, Ya Tuhan kami, bantulah kami agar selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.. Subhanaaka wa bi hamdika. Astaghfiruka wa atuubuilaih.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

bersyukur-1

Bersyukur atas Mata, Telinga dan Hati