Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Letakkan Cinta Pada Posisinya

Letakkan Cinta Pada Posisinya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (angelrie.wordpress.com)
Ilustrasi. (angelrie.wordpress.com)

dakwatuna.com Cinta adalah anugerah yang diciptakan oleh Allah bagi kita, manusia. Karunia indah yang menimbulkan rasa tenteram di hati. Rasa yang mendatangkan ketenangan jiwa.

Allah Sang Maha Pecinta selalu menanamkan cinta bagi masing-masing hambanya. Baik hamba yang patuh padaNya ataupun hamba yang selalu ingkar padanya. Sekali lagi, Allah tak pandang bulu menghadirkan cinta bagi setiap manusia. Bahkan tak hanya pada manusia, tumbuhan dan semua ciptaan Allah pun juga memiliki cinta.

Penulis pernah mendengar sebuah kalimat, katanya, “Jikalau gunung bukanlah sang pecinta, maka ilalang pun takkan tumbuh di dada mereka”.

Itulah kebesaran Allah SWT yang mengetahui kebutuhan setiap makhluk ciptaan-Nya. Tanpa cinta yang Ia hadirkan dalam hati setiap makhluk, hidup akan terasa susah untuk terus berlanjut. Tanpa rasa sayang yang Allah hadirkan dalam hati setiap insan, maka hidup takkan terasa lapang.

Indahnya karunia cinta dan kasih sayang yang diciptakan Allah kepada kita, harus selalu kita jaga dan tahu cara memposisikan cinta itu. Apalagi cinta kepada ayah, bunda, adik dan kakak. Tanpa terjaganya kasih sayang di antara anggota keluarga, tentu takkan nyaman berlama-lama untuk tinggal di rumah. Cinta anak kepada Ayah dan ibu, atau sebaliknya, kebanyakan orang bisa menjaganya. Namun yang sering kurang terjaga adalah kasih sayang antara sesama saudara.

Perselisihan sesama saudara itu sangat rentan terjadi. Apalagi jika tinggal dalam satu rumah. Pertengkaran antara adik dan kakak sering terjadi karena adanya salah satu pihak yang terkadang sewenang-wenang.

Kadang, ketika sang kakak telah membersihkan rumah, lalu tiba-tiba si adik datang dan mengotorinya. Ketika kakak menegur, sang adik tak mendengarkan. Akhirnya si kakak marah, lalu terjadilah keributan.

Kadang kesalahan juga bisa datang dari seorang kakak yang senang sekali menyuruh-nyuruh sang adik sembarangan hingga sang adik merasa kesal. Atau sang kakak meminta sang adik untuk mengerjakan sesuatu, namun menyuruhnya dengan kata-kata yang tidak mengenakkan. Lalu, terjadilah pertengkaran.

Sebenarnya banyak hal lain yang menimbulkan pertengkaran antara adik dan kakak. Karena rasa “memiliki” yang mereka punya, akhirnya mereka berlaku seenaknya saja. Tidak ada rasa segan seperti yang dirasakan kepada orang lain yang bukan siapa-siapa. Tidak ada rasa takut. Hingga sang kakak berkomentar seperti ini, “ah, biarlah, kan adik saya”, begitu juga sebaliknya adik terhadap kakak.

Jadi pertengkaran akan rentan terjadi jika tidak adanya kesabaran antara adik dan kakak. Meski kita adalah adik kakak, kita harus tetap saling menghargai dan menghormati. Setiap ucapan yang akan diucapkan harus terjaga. Karena seringkali kita tak berpikir dulu tentang apa yang kita ucapkan, seringkali membuat terluka orang yang mendengarnya.

Jadi dalam keluarga, cinta dan kasih sayang itu harus dijaga dengan memperhatikan setiap tingkah laku dan setiap kata yang hendak diucap. Sebagai apapun posisi kita dalam keluarga, apakah sebagai anak, adik ataupun sebagai kakak, berpandai-pandailah membawakan diri agar keharmonisan dalam keluarga selalu terjaga. Dan Insya Allah, jika itu terjadi maka akan ada ketenangan jiwa ketika kita berada di rumah bersama keluarga.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Keluarga, Belakang Panggung Sandiwara