Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Faedah Menikah

Faedah Menikah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (griyapernikahan.com)
Ilustrasi (griyapernikahan.com)

dakwatuna.com  Nikah adalah ibadah, maka kita sebagai muslim pun harus berlomba-lomba untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam hal ini. Tidak usah canggung atau ragu untuk membahas perkara ini, terlebih ketika Anda sudah dewasa alias memasuki dunia kampus. Harus faham, biar jelas apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya ditinggalkan. Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al ghazali, setidaknya ada beberapa faedah menikah, kurang lebih intinya seperti ini:

1. Untuk memperoleh keturunan
Tujuan utamanya adalah untuk memelihara keberlangsungan hidup dengan memperoleh keturunan. Sehingga dunia ini tidak sepi dari makhluk yang namanya manusia. Di dalam upaya memperoleh keturunan ini terkandung nilai-nilai pendekatan diri kita kepada Allah SWT. Pertama, upaya memelihara keberlangsungan keturunan merupakan upaya yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Kedua, merupakan upaya untuk mendapatkan cinta dari Rasulullah Muhammad SAW, sesuai sabda beliau “Nikahilah perempuan yang penyayang dan berpotensi beranak banyak, sebab di hari kiamat aku bangga menyaksikan jumlah kalian yang banyak” (HR Baihaqi). Ketiga, dengan menikah seseorang dapat meninggalkann anak shalih yang mendoakan untuknya (kala ia meninggal). Keempat, jika si anak meninggal lebih dahulu, maka ia menjadi syafaat bagi orang tuanya.

2. Menjaga diri dari tipu daya setan, mengendalikan syahwat, memelihara pandangan mata, serta memelihara kemaluan
Hal ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW, “Barangsiapa dianugerahi Allah istri yang shalihah, sungguh Dia telah menolong separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang lainnya”

3. Relaksasi dan penyegaran jiwa
Hal ini bisa terwujud dalam aktivitas-aktivitas yang menggembirakan bersama pasangan masing-masing, seperti sedang duduk santai dengan penuh romantis berdua, bermesraan dan bermanja-manja berdua. Aktivitas tersebut melahirkan ketenangan hati, kesegaran jiwa dan bahkan bisa menjadi pemacu semangat beribadah seseorang.

Ali bin Abi Thalib berkata ‘ sesekali hiburlah hati (jiwa) itu, sebab bila ia senantiasa tertekan akan menjadi buta’. Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda, “Aku menyenangi tiga hal yang bersifat duniawi; wewangian, wanita, dan pandangan mataku menjadi sejuk dengan shalat”

4. Berbagi peran
Jika kita hidup sendiri, tentulah kita akan disibukkan dengan berbagai urusan rumah yang akan mengganggu aktivitas kita sehingga dalam pengerjaannya akan menjadi berantakan. Oleh karena itulah agama menempatkan posisi wanita shalihah di sini, untuk berbagi peran dengan sang suami. Sang suami yang berkewajiban mencari nafkah, sementara sang istri berkewajiban menjaga amanah utama di rumah serta menjadi madrasah pertama dan utama bagi sang buah hati. Karena dari seorang Ibu yang shalihahlah yang akan terlahir anak-anak yang hebat.

5. Sebagai sarana pendidikan dan pelatihan jiwa
Hal ini terwujud dalam aktivitas suami mengayomi istrinya; hidup bersamanya, memenuhi segala kebutuhan hidupnya, serta ketabahannya dalam menerima kenyataan akhlak dan karakter yang melekat pada pribadi pasangannya, kesabarannya dalam menghadapi sikap dan perbuatan pasangan yang terkadang menyakiti hatinya, serta upaya untuk memperbaiki serta mengarahkan sang istri menuju jalan agama yang lurus. Di samping itu, juga terwujud dalam upaya suami mencari rezeki yang halal untuk sang istri, dan juga kesiapannya mendidik anak-anak bersama istrinya. Itu semua merupakan amal-amal yang mulia dan agung. Sebab, di dalamnya terkandung nilai-nilai kepemimpinan dan kekuasaan. Dalam hal tersebut, posisi istri dan anak-anak sebagai rakyat yang dipimpin. Kepemimpinan dinilai sebagai sesuatu yang agung, sebab dengan adanya itu banyak orang tertolong sehingga tidak mengabaikan apa yang menjadi kewajiban-kewajibannya. “Barangsiapa bersabar menghadapi anggota keluarganya, ia seperti berjihad fisabilillah” (HR Thabrani)

Mudah-mudahan dengan tulisan singkat ini dapat memberi kepahaman akan esensi atau tujuan menikah. Dan semoga Allah memberikan pasangan yang terbaik untuk diri kita, yang tentunya harus kita capai dengan usaha untuk memperbaiki diri kita sendiri dari segala macam kealfaan dan keterbatasan yang ada.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,17 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Burhan Efendi
mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura angkatan 48 Institut Pertanian Bogor. Berasal dari Kabupaten Karanganyar, Solo, Jawa Tengah.

Lihat Juga

ilustrasi (jilbabcantig.blogspot.com)

Murabbiyah, Ta’arufkan Akhwat yang Siap Menikah

Organization