Home / Berita / Nasional / Kritik Jokowi, Putri Widji Tukul Tulis Surat Terbuka

Kritik Jokowi, Putri Widji Tukul Tulis Surat Terbuka

Jokowi saat berdialog dengan Dionisius Utomo Rahardjo, ayah dari Petrus Bima Anugrah, dan Fitri Nganthi Wani, putri sulung Wiji Thukul. (twimg.com)
Jokowi saat berdialog dengan Dionisius Utomo Rahardjo, ayah dari Petrus Bima Anugrah, dan Fitri Nganthi Wani, putri sulung Wiji Thukul. (twimg.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Keputusan Jokowi menunjuk mantan kepala BIN, AM Hendropriyono sebagai penasihat Tim Transisi yang mendapat sorotan para pendukung capres nomor urut 2 tersebut. Salah satu kritikan berasal dari putri aktivis Widji Thukul, Fitri Nganthi Wani. Melalui akun

Facebookresminya, ia mengingatkan Jokowi untuk tidak lupa terhadap janji semasa kampanye.

Fitri mengungkit kematian aktivis Munir sebagaimana nasibnya serupa dengan, Widji Tukul. Ketika itu, Munir meninggal dalam pesawat yang membawanya menuju Amsterdam. Anggota BIN disebut-sebut berada di balik kejadian itu, dan Hendropriyono adalah kepala BIN saat Munir tewas diracun.

Berikut surat terbuka Fitri kepada Jokowi.

Masih ingat ini kan Pak? :’)
Bapak sendiri lho yg bilang #JokowiMenolakLupa.

Ketika semua orang bikin avatar “I Stand On The Rights Side”, sy lebih suka bikin avatar dengan tulisan “I Am On The Human Right Side And I Stand With Joko Widodo” (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10203265044325607&set=pb.1194406735.-2207520000.1407694363.&type=3&theater). Bapak ngerti kan maksud sy? Melawan lupa tidak jauh2 dari melawan luka, pak. Dan itu harus tanpa perkecualian. Bisa dipahami kan pak?

Revolusi mental sebuah negara dimulai dari menghargai nyawa rakyatnya meskipun cuma 1 nyawa, pak. Jika bapak ingat bapak saya, jika bapak memakai puisi bapak saya untuk melawan puisi kubu Prahara, tolong ingat Alm.Munir juga pak. Alm.Munir juga punya jasa besar dalam perkembangan kasus bapak saya. Dan dia dibunuh! Dibunuh karena memperjuangkan hak asasi manusia, termasuk hak asasi bapak saya. Bapak tau juga kan siapa pembunuhnya? Bapak tau kan bagaimana negara menyepelekan kasusnya?

Hindari budaya perkewuh dan tak berdaya karena pernah dibantu orang pak. Jadilah objektif pak. Sensitiflah terhadap mereka yg berpotensi punya lidah penjilat dan membahayakan diri bapak. Sy tau bapak masih bisa diandalkan. Sy tau bapak masih bisa kami cintai. Karena bapak hanyalah satu2nya, berbeda dgn yg lain.. :’)

Saya harap ini hanya ujian yang mengasah keimanan bapak. Dan semoga ujian ini cepat berlalu karena melihat bapak seperti ini kami turut tersakiti pak.

Di tanganmu ada harapan kami, jangan remukkan itu.

Salam Ingatan.
cc: Ir H Joko Widodo, Joko Widodo, Eko Sulistyo
Saya berdialog dengan Dionisius Utomo Rahardjo, ayah dari Petrus Bima Anugrah, dan Fitri Nganthi Wani, putri sulung Wiji Thukul. Kedua keluarga mereka adalah aktivis yang hilang tahun 1998.

Mereka menolak untuk lupa dan mengharapkan pelanggaran HAM dapat dituntaskan di Indonesia.

#Salam2Jari #JokowiMenolakLupa
Foto: Saya berdialog dengan Dionisius Utomo Rahardjo, ayah dari Petrus Bima Anugrah, dan Fitri Nganthi Wani, putri sulung Wiji Thukul. Kedua keluarga mereka adalah aktivis yang hilang tahun 1998. Mereka menolak untuk lupa dan mengharapkan pelanggaran HAM dapat dituntaskan di Indonesia. #Salam2Jari #JokowiMenolakLupa.  
(ROL/sbb/dakwatuna)

 

About these ads

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 7,62 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Sepak Bola. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.
  • Ibnu Kencana

    tolak hendropriyono, tolak prabowo, tolak seluruh pelanggar HAM. setuju!

Lihat Juga

Forum Future Leader Camp 2016 (spesial)

Mursidah Rambe: Lawan Paus Rentenir