Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Fitnah di Jalan Jihad

Fitnah di Jalan Jihad

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet/hdn)
Ilustrasi. (inet/hdn)

dakwatuna.com Sesungguhnya tak ada yang bisa dinikmati dari umpan meski kelihatannya manis. Tak ada yang akan didapat dari jeratan meski tampak mempesona. Tak mungkin jua menaruh harap dari jebakan meski terlihat menjanjikan. Jebakan itu pasti dibuat mudah dan umpan selalu dibuat manis.

Niat masih teguh tertancap, tekad selalu kokoh terhujam, tapi musuh tak akan tinggal diam. Dahsyatnya tipu daya dan aral yang disiapkan musuh berbanding dengan besarnya keteguhan itu. Terlalu pelik, aral mungkin tak tampak lagi sebagai aral.

Tenggelam dalam gempita euforia, terpedaya, kewaspadaan hampir terlepas. Namun mestinya tetap menggenggam kesadaran, bahwa masa ini adalah masa-masa penuh fitnah dan tipu daya. Meski kewaspadaan hanya terdengar sebagai suara sumbang para pendengki, sekecil apapun kejanggalan seharusnya tak diabaikan begitu saja.

Ketika langkah menjadi mudah, ketika aral seolah sirna, keberhasilan-keberhasilan menjadi begitu mudahnya diraih. Semu, menyederhanakan persoalan, mengesampingkan kewaspadaan. Lengah, bahwa mungkin di balik semua ini adalah tipu daya musuh.

Tampak sangat menjanjikan, memukau, melaju dengan luar biasa. Terbentang sebuah harapan baru, tibanya kemenangan yang sekian lama dinanti. Sejenak terlena, namun pandangan semestinya tetap jernih, mewaspadai intrik, permainan dan dahsyatnya tipu daya. Bisa jadi semua ini adalah sarana-sarana yang dipersiapkan musuh, dan pasti akan dipakai untuk tujuan mereka.

Terlahir dari tekad yang tak mungkin dipadamkan, melaju dengan gegap. Namun bukannya musuh enggan berpayah menghadapinya, bahkan ingin lebih dari sekadar mengalahkannya. Jika keteguhan itu diolah sedemikian rupa oleh musuh, memanfaatkannya, menungganginya dan melipatgandakan kekalahannya, sehingga berlipat pula kehancuran yang diciptakan.

Tak hanya binasa oleh rapuhnya tekad, bahkan oleh keteguhannya, malah menjadi kehancuran yang lebih tragis. Keteguhan sebuah cita yang menjadi buta, meluluhlantahkan cita itu sendiri. Tak perlu khawatir akan cacian dan kedengkian, tapi khawatirkan jika ia menjadi aral bagi jihad ini, menghancurkan din ini dari dalam. Saling berhadapan satu sama lain, saling menghancurkan satu sama lain, membenci Islam dan jihad ini, terjebak dalam permainan musuh.

***

Hidup dari satu tipu daya kepada tipu daya lain, hampir tak ada pilihan, tanpa tahu berbuat apa. Aral yang tak lagi dimengerti, bahkan tak lagi disadari meski menimpa bertubi-tubi. Tak hanya dari depan, ia juga menghampiri dari belakang. Tak hanya dari atas, tetapi juga dari bawah. Tak hanya dari luar, bahkan menohok dari dalam.

Aral tampak seperti semut hitam di atas batu hitam di malam hari. Jalan-jalan kebenaran bersilangan dengan jalan-jalan kebatilan. Puncak-puncak kebaikan berimpit dengan puncak keburukan. Fitnah menerpa seperti potongan-potangan malam yang datang bergelombang. Tipu daya membuat seseorang beriman di pagi hari, sorenya telah menjadi kafir, atau sore hari beriman, paginya telah menjadi kafir.

Tapi di atas tipu daya ada tipu daya. Sepandai-pandai al Masih Dajjal bermain api, akhirnya akan menimpanya sendiri. Ia yang menghidupkan sendiri, ia yang mematikannya pula. Ia mengobarkan, memainkannya, memadamkannya, namun pada saatnya akan kembali jua kepadanya. Karena di balik semua itu ada yang sebenar berkuasa, sebenar menghidupkan dan mematikan yang sesungguhnya.
“Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal, dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Mumtahanah: 4-5).

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhamad Fauzi
Seorang petani di kaki Gunung Ungaran. Mengikuti kegiatan di Muhammadiyah dan halaqah. Meski minim mendapatkan pendidikan formal, pelajaran hidup banyak didapat dari lorong-lorong rumah sakit.
  • abu syahdan

    Jangan pernah takut untuk terus mengumandangkan kalimat Tauhid “Laa ilaha ilallah” karena kalimat itu yang diinginkan setiap muslim yang beriman saat menghadapi sekaratul maut sebagai pertanda khusnul khatimah, dan biarkan mereka-mereka yang menghapuskan dan melarang untuk dikumandangkannya kalimat Tauhid “Laa ilaha ilallah” semoga diakhir hidupnya mendapatkan balasannya sebagai su’ul khatimah.

  • Tapi tipu daya itu luar biasa, tak sederhana, ada sekelompok orang yang berseru untuk din ini, tapi pada hakekatnya berdiri di pintu jahanam sambil memanggil-panggil. Ada pula yang kulit dan lisannya sama dengan kita, tapi sebenarnya mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari busurnya.

Lihat Juga

PKS Ucapkan Duka Cita Mendalam untuk Korban Gempa Aceh