Home / Pemuda / Mimbar Kampus / “Maha” yang Berparadoks

“Maha” yang Berparadoks

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Ketika mendengar kata “Maha” yang tertanam dalam pikiran kita adalah sesuatu “yang paling”, secara sederhana diartikan paling tinggi, paling hebat atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya sangat; amat; teramat. Maka selayak-layaknya manusia yang berpredikat Maha harus melakukan peran-peran besar dalam ke-Maha-an-nya. Dialah sang Mahasiswa, subjek yang akan kita bicarakan dalam tulisan ini.

Mahasiswa, sebutannya mulai dikenal ketika rezim orde lama pimpinan Sang Orator berkuasa. Kekuatannya saat itu menumbangkan rezim yang dianggap zhalim membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peran besar dalam mengawal kepentingan nasional. Kemudian berkembang kuat arus mahasiswa ’98 yang pada masanya juga membuktikan kekuatannya dalam melengserkan Sang Peguasa Orde Baru. Maka jelas bahwa peran mahasiswa sangat menentukan, karena mereka adalah nafas negeri ini. Usia negeri kita ditentukan oleh sebanyak dan sekuat apa mereka.

Kemudian tahun demi tahun telah kita lewati pasca reformasi dimana saat ini keran demokrasi dibuka lebar-lebar. Mahasiswa yang katanya sebagai Agen of Change seharusnya bisa dengan bebas menyuarakan aspirasinya untuk tetap menjadi penyambung lidah rakyat tapi ternyata tidak. Sebagian besar dari mereka telah dilenakan oleh fashion, food, dan fun. Dunia hedonis era post-modernisme telah membumbui wajah mahasiswa masa kini yang lebih disibukkan dengan gadget dan fashion terbarunya. Ranah-ranah sosial kian ditinggalkan. Sebagian besar dari mereka, mahasiswa atau mahasiswi, menghabiskan waktu dan uangnya untuk berburu kesenangan di tempat-tempat hiburan. Hal ini terlihat dari matinya kelompok-kelompok diskusi. Mahasiswa lebih suka memberikan apresiasi pada kegiatan hiburan ketimbang aksi sosial. pertunjukan musik di kampus telah menjadi gula bagi mahasiswa, tetapi menjadi sepi saat berlangsung kegiatan diskusi publik lainnya. Belum lagi seks bebas yang jika kita lihat lebih dalam nampak sekali hal itu terjadi dekat di sekitar kita-lingkungan mahasiswa-tempat berpendidikan. Itulah paradoks pada label mahasiswanya. Alih-alih menjalankan peran maksimal sebagai agen perubahan, yang terjadi justru berkembangnya budaya hedonisme di kampus-kampus.

Mahasiswa yang dikenal dengan budaya membaca, menulis, dan diskusinya kerap dianggap bisa merubah kualitas suatu bangsa, namun masihkah budaya itu ada hingga kini?

Adapun mahasiswa yang akademisi namun miskin kepedulian pada kondisi sosialnya. Sistem yang terstruktur sengaja dibuat untuk membungkam aktivitas gerakan mahasiswa. Mahasiswa disetir seperti robot yang hanya mengurusi urusan akademiknya dengan jam kuliah yang dibuat padat untuk menjadi lulusan yang dipekerjakan. Nyatanya entah setelah lulus ia bisa dapat pekerjaan atau tidak. Layaknya penyempitan visi secara massal tanpa hasil yang jelas. Banyaknya oraganisasi mahasiswa dan Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus-kampus tapi semakin sepi peminat dengan dalih jika berorganisasi maka kuliahnya akan terbengkalai. Itulah paradoks mahasiswa. Mereka saat ini dibuat fokus untuk mengurusi hal remeh temeh hanya untuk dirinya sendiri.

Sejatinya peran mahasiswa yaitu membangun generasi yang bermoral, mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, mengembangkan kapasitas diri untuk sebuah visi yang besar, serta sebagai pengkritik dan penegak kebenaran bagi kebijakan pemerintah yang tidak mendengar suara rakyat. Seperti dikatakan Soe Hok Gie dalam “Catatan Seorang Demonstran”, bahwa, mahasiswa pada saat dulu bergerak sebagai pengontrol lahirnya sebuah kebijakan, dimana melalui sikap kritis mereka mampu untuk membongkar amoralitas para penguasa, dan mampu untuk mengampu suara-suara yang tidak terdengar oleh orang kalangan atas. Mahasiswa digambarkan tidak hanya sibuk dengan tujuan utama mereka berkuliah yaitu belajar, memikirkan nilai, dan mempersiapkan diri ketika ujian, tetapi mereka juga ikut serta dalam pergeliatan organisasi, bersuara dan bertindak.

Saat ini, masa dimana kampus-kampus mulai menggeliat dengan penerimaan mahasiswa barunya, yang berarti akan lahir para pemuda intelektual baru yang diharapkan bisa membentuk generasi penggerak kebangkitan Indonesia. Sambutlah misi-misi besar itu. Sudah lama ia menanti para mahasiswa yang akan menjemputnya. Kerja mempersiapkan kepemimpinan nasional yang selama ini mandul. Tidak ada lagi waktu untuk berfikir hal-hal kecil atau mengumbar naluri muda di mall-mall, kafe, dll. Karena di tangan mahasiswa lah kerja-kerja besar itu sekarang. Kita yang memegang kendali.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 6,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Erma Alfaritsi
Kaderisasi PW KAMMI Jawa Barat

Lihat Juga

Pernyataan Sikap BEM Kema Unpad Terkait Penganugerahaan Gelar Doktor Kehormatan Kepada Megawati Soekarnoputri