Home / Berita / Opini / Katanya, Indonesia Lebih Peduli Palestina Dibanding Papua

Katanya, Indonesia Lebih Peduli Palestina Dibanding Papua

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Peta Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua. (Google Earth)
Ilustrasi – Peta Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua. (Google Earth)

dakwatuna.com Begitu gemparnya berita tentang penyerangan Israel terhadap Palestina membuat saya begitu penasaran terhadap satu artikel yang dimuat di web Kompasiana.com yang berjudul, “Di Mata Indonesia, Palestina Lebih Penting daripada Papua.” Ternyata artikel ini berisi kritikan tajam seorang warga Papua yang menghujat orang-orang Indonesia yang begitu peduli dengan Palestina, sedangkan dia merasa Indonesia tidak mempedulikan Papua.

Tergambar jelas dalam rangkaian kata-katanya, tersimpan amarah yang sangat menyudutkan Indonesia. Katanya, kalau Indonesia belum becus mengurus Negara sendiri, kenapa harus mengurus Palestina? Kenapa harus mengurus Negara yang sebenarnya Negara itulah (Palestina) yang bersalah sehingga Israel melakukan penyerangan terhadapnya. Jadi pemuda ini menganggap penyerangan Israel terhadap Palestina karena ulah Hamas sendiri. Katanya, “Seandainya, kelompok garis keras Hamas tidak membunuh ketiga remaja Israel secara keji, dan tidak menembakkan roket-roket mematikan ke wilayah Israel, tentu perang tidak akan terjadi.”

Kata-kata yang disampaikan oleh pemuda yang bernama Petrus ini jelas-jelas mengisyaratkan bahwa dia adalah seseorang yang Pro terhadap Israel. Dan memang, dalam artikel itu jelas-jelas dia membela Israel yang telah menganiaya Palestina. Sikap Pro Israel telah membutakan matanya sehingga tidak bisa berpikir objektif lagi tentang apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin kecintaannya terhadap Israel telah membutakan matanya terhadap kesalahan-kesalahan yang sebenarnya dilakukan oleh Israel itu.

Selain itu, laki-laki asli Papua ini merasa dianaktirikan. Pemuda ini merasa dibeda-bedakan dari orang melayu. Entah apa yang membuatnya berpendapat seperti itu tidak diungkapkan dengan jelas dalam artikel ini. Mungkin karena dia merasa sebagai orang Papua kurang mendapat perhatian dari pemerintah terkait masalah yang terjadi di daerah mereka seperti HIV/AIDS, malaria, gizi buruk. Dan juga katanya banyak rakyat yang mati karena menjadi korban penembakan kelompok bersenjata yang bahkan tidak jarang, dilakukan oleh TNI dan Polisi, atas nama kedaulatan NKRI. Selain itu katanya banyak anak usia sekolah yang terlantar dan tidak menerima pendidikan sebagaimana mestinya.

Sungguh tak berpikir dulu pemuda ini sebelum menuliskan argumentasinya. Seharusnya dia bisa berpikir positif tentang apa yang terjadi di Papua. Masalah HIV/AIDS yang melanda mereka, bukankah itu karena kesalahan mereka yang melakukan hubungan seks sembarangan? Bukankah itu kesalahan mereka yang tidak menyalurkan hasratnya pada tempat yang seharusnya? Jadi apakah pantas pemuda ini menyalahkan pemerintah Indonesia dan beranggapan Indonesia tidak peduli dengan HIV/AIDS yang melanda mereka? Seperti apapun peduli Indonesia, meski pemerintah telah jungkir balik mengurus mereka terkait masalah ini, tapi jika dari mereka dan adat mereka tetap melakukan seks bebas semaunya, tentu takkan ada hasilnya.

Tentang gizi buruk dan malaria, bukankah masing-masing daerah telah mendapatkan dana untuk mengurus permasalahan sendiri di wilayah mereka? Bukankah anggaran otonomi daerah yang mereka dapatkan bisa sebagian disalurkan kepada mereka yang kelaparan?
Seharusnya pejabat mereka harus bisa mengelola uang yang mereka dapatkan untuk daerahnya. Ada bagiannya untuk kesehatan, dan ada juga bagian untuk pendidikan. Jadi, seandainya di sana ada anak-anak yang masih usia sekolah tidak mendapatkan pendidikan, seharusnya mereka protes langsung kepada bupati atau gubernur mereka. Tanyakan pada pejabat-pejabat itu, kemana saja uang yang diberikan pemerintah Indonesia dihabiskan? Jadi saat ini, jika pemuda ini merasa terabaikan, itu karena ulah pejabat mereka yang tidak peduli. Dana dari pemerintah Indonesia telah diberikan, pejabatnya saja yang tidak menggunakannya dengan tepat.

Dalam artikel ini sang pemuda juga berkoar-koar tentang Indonesia yang banyak korupsi. Bukankah hal itu juga dilakukan oleh putra daerah Papua itu sendiri? Jika memang tidak dikorupsi, tentu ada pembangunan berarti yang terjadi di Papua dengan triliuran uang yang diberikan pemerintah kepadanya.

Dengan banyaknya pikiran negatif mereka terhadap pemerintah Indonesia yang katanya tidak peduli dengan Papua, akhirnya mereka ingin merdeka. Ingin mendirikan negara sendiri. Jadi aksi mereka yang mengancam kedaulatan Indonesia membuat tentara dan polisi melaksanakan kewajibannya. Apakah salah tentara mengamankan negaranya? Tentu saja tidak, karena itu adalah kewajibannya. Jadi bisa saja, ketika tentara datang untuk mengamankan, sebagian warga Papua melakukan aksi kekerasan yang membuat tentara terpaksa menurunkan senjata untuk mempertahankan diri.

Untuk pemuda ini dan warga Papua lainnya, coba pikirkan lagi niat untuk memisahkan diri dari Indonesia. Pikirkan lagi dampak buruknya. Jadi jangan hanya terkecoh oleh rayuan negara lain yang ingin menguasai kekayaan Papua itu sendiri.  Jadi dengan berpikir matang tidak membuat Papua menyesal seperti yang saat ini terjadi pada Timor Leste. Australia yang mendukung Timor Leste merdeka, sempat pernah menguasai 80% hasil minyak di Timor Leste itu. Dan kini, saat mereka tak lagi bersama Indonesia, kepada siapa mereka hendak meminta bantuan? Saat ini mereka hanya bisa gigit jari akibat keputusan mereka yang gegabah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 9,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sri Wahyuni
Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI V Dompet Dhuafa (http://www.sekolahguruindonesia.net/). Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Lihat Juga

Orang-orang Gila di Jalanan, Siapa Peduli Mereka?