Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Pendidikan Anak Islami: Mendidik Anak Menjadi Manusia Biasa

Pendidikan Anak Islami: Mendidik Anak Menjadi Manusia Biasa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (anggawakurnia.blogspot.com)
Ilustrasi. (anggawakurnia.blogspot.com)

dakwatuna.com Islam adalah sebuah agama yang menyeluruh, lengkap, dan melengkapi. Karena kelengkapannya, Islam tidak luput dari mengajarkan umatnya untuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Apa yang harus diajarkan kepada anak-anak adalah bagaimana mereka kembali kepada fitrahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah). Maka orang tuanya-lah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi…” (HR. Bukhari).

Seringkali kita melihat di sekitar kita, banyak orang tua yang begitu bangga ketika mengetahui anaknya mendapat nilai sempurna dalam ujian pelajaran matematika di sekolahnya atau menjadi juara di kelasnya karena prestasi akademik si anak. Tetapi justru tenang-tenang saja ketika anaknya yang sudah semakin besar dan dewasa masih terbata-bata membaca Al-Quran. Padahal Allah berpesan agar kita tetap dalam fitrah kita sebagai manusia, yaitu tetap berpegang teguh pada Islam. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Ruum: 30).

Peran besar orang tua bagi anak-anaknya adalah menjadikan anaknya tetap pada fitrahnya, yaitu tetap dalam keislamannya. Begitu banyak pesan-pesan Allah dan Rasul-Nya dalam mendidik anak. Begitupula dengan buku-buku tentang nasihat mendidik anak yang tidak jarang kita temui di berbagai toko buku di lingkungan kita.

Menarik jika kita menyimak beberapa nasehat Luqman al-Hakim kepada anak-anaknya. Hingga nasehatnya pun diabadikan oleh Allah ke dalam kitab suci Al-Quran di dalam surah yang sama dengan namanya; Luqman, surah ke-31. Luqman bukanlah seorang rasul apalagi seorang nabi, tetapi Allah menciptakan Luqman menjadi manusia yang penuh hikmah dalam setiap perbuatan dan perkataannya. Termasuk teladan dalam memberi nasehat kepada anak. Tentunya, bukan kapasitas sebagian besar dari kita untuk menjadi orang tua seperti Luqman. Akan tetapi, pastilah ada hikmah tersembunyi dari setiap ayat-ayat yang diturunkan Allah.

Adalah sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan banyak hal kepada anaknya. Setidaknya orang tua sering-sering memberi nasihat kepada anaknya. Agar selalu tertanam keimanan dan akhlakul karimah dalam diri si anak. Di antara pesan-pesan tersebut, selanjutnya akan dipaparkan pesan-pesan apa saja yang perlu diberikan kepada anak.

Pesan Bertauhid kepada Anak
Bagi mereka yang rajin membaca dan mengkhatamkan Al-Quran, akan sangat familiar dengan nasehat Luqman al-Hakim yang tertulis dalam Al-Quran surah Luqman. Nasehat yang pertama adalah: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13). Pesan pertama Luqman yang terekam dalam Al-Quran kepada anaknya adalah agar anaknya tidak mempersekutukan Allah. Sebab, kesyirikan adalah kezaliman yang sangat besar. Oleh karena itu, ketika turun ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang beriman tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.” (QS. Al-An’aam: 82). Maka terasa beratlah hal itu bagi para sahabat Rasulullah. Lalu mereka bertanya, “Siapakah di antara kami yang imannya tak dikotori kezaliman?” Maka Rasulullah saw menjawab, “Hal itu maknanya tidak seperti itu. Bukankah kau telah mendengar perkataan Luqman, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Muttafaq ‘alaih).

Hal yang paling penting diajarkan kepada anak-anak adalah jangan sampai mereka mempersekutukan Allah. Karena hal ini akan mempengaruhi segala tindakan dari hidup yang dijalaninya. Ketika iman di dalam hatinya sudah tertancap kuat, secara tidak langsung akan memperbaiki akhlak serta semangatnya dalam memperjuangkan Islam. Tidak terkecuali dengan semangatnya menuntut ilmu. Itulah mengapa nasihat Luqman diawali dengan pesan untuk tidak menyekutukan Allah. Bukan mendirikan shalat dahulu, atau berakhlak baik dahulu. Karena ketauhidan adalah pengantar dari segala pendidikan. Maka nasihat Luqman kepada anaknya diawali dengan larangan berbuat syirik, baru kemudian mendirikan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar, dan berakhlak baik.

Pesan bijak lainnya, akan kita dapatkan dari Nabi Muhammad saw. Ketika Rasul berpesan kepada sahabat sekaligus anak dari pamannya, Ibnu Abbas r.a. yang ketika itu Ibnu Abbas masih kecil dan sedang beranjak besar. Nabi bersabda, “Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. at-Tirmidzi). Dari hadis tersebut dapat kita lihat bahwa tauhid adalah kunci penting untuk membaguskan akhlak anak-anak. Betapa pentingnya tauhid, sehingga kita wajib mengajarkannya sejak dini, sebagaimana Luqman kepada anaknya, atau Nabi kepada anak pamannya. Betapa perasaan tauhid akan memunculkan muraqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah swt). Ketika perasaan muraqabah sudah tertanam di hatinya, maka otomatis seorang anak akan menjadi yang lebih santun, tawakkal, dan ikhlas. Mereka akan memahami dengan sendirinya, bahwa perbuatan sekecil apapun akan diawasi dan dihitung oleh Allah. Jikalau keyakinan ini kita tanamkan sejak dini, tak pelak akan lahir semangat untuk berbuat kebaikan tanpa harus mengharap pujian atau sanjungan dari orang lain.

Pesan Untuk Berbakti Kepada Orang Tua
Berbakti kepada orang tua, adalah hal yang sangat penting bagi anak-anak. Karena Allah menyejajarkan perintah berbakti kepada orang tua dengan berbakti kepada Allah. Allah berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu berkata ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Israa: 23).

Islam adalah agama yang menjunjug tinggi penghormatan kepada orang tua. Karena orang tua (ibu) yang melahirkan anaknya, kemudian berpayah-payah dalam membesarkan dan mendidik anaknya menjadi anak yang berguna bagi lingkungan sekitarnya. Jika perintah untuk tidak mempersekutukan Allah disejajarkan dengan perintah berbakti kepada orang tua, berarti menyakiti orang tua adalah sama halnya dengan menyakiti Allah. Berkata “ah” saja dilarang, apalagi sampai menghina atau melecehkan mereka.

Ketika kita membicarakan bakti kepada orang tua, kita akan akrab dengan kata birrul walidain. Birrul walidain adalah salah satu perintah Allah kepada para hamba-Nya. Birrul walidain berasal dari dua kata, birru dan al-walidain. Imam Nawawi ketika mensyarahkan Shahih Muslim memberi penjelasan, bahwa kata-kata birru mencakup makna bersikap baik, ramah dan taat yang pada umumnya tercakup dalam budi pekerti yang baik (husnul khuluq). Sedangkan walidain adalah kedua orang tua, termasuk kakek-nenek, ataupun orang tua yang sudah beperan dalam membesarkan dan mendidik anak. Secara umum, birrul walidain adalah sikap dan perbuatan baik kepada orang tua dengan memuliakannya, menghormatinya, bersikap baik, dan senantiasa memberikan pemeliharaan yang terbaik bagi orang tua. Perintah berbuat baik kepada orang tua, akan kita temukan di tiga belas tempat, termasuk ayat tersebut (Al-Israa: 23). Ini menunjukkan betapa pentingnya berbakti kepada orang tua, sehingga Allah berkali-kali mengingatkan dalam al-Qur’an.

Pesan Untuk Mengajarkan Perkataan yang Baik
Kerap kali saya miris, ketika dikejutkan dengan perkataan-perkataan “tidak berpendidikan” yang diucapkan seorang anak ketika bermain dengan teman sebayanya, bahkan dengan orang yang lebih tua sekalipun. Perkataan yang baik, akan membentuk pribadi yang baik, sebaliknya perkataan yang buruk akan membentuk pribadi yang buruk. Peran orang tua harus digalakkan dalam membentuk pribadi anak yang pandai berkata baik, dan “tidak mengerti” perkataan yang jelek.

Ajarkan mereka kalimat-kalimat thayyibah dalam setiap tindak-tanduk hidupnya. Ajarkan beristighfar ketika lalai, mengucap “masya Allah” ketika kagum, atau ajarkan berkata “subhanallah” ketika melihat kemungkaran. Bukan semata menjadikan mereka bersih dari perkataan kotor, tapi juga senantiasa mendatangkan pahala dalam hidup mereka. Orang yang terbiasa berkata-kata baik, akan menjadi magnet dalam lingkungannya. Ia akan didekati banyak orang, dan sedikit memiliki musuh.

Tentang ini, Allah menegaskan, bahwa perintah berkata yang baik disejajarkan perintah ketakwaan. Artinya, bertakwa kepada Allah erat kaitannya dengan berkata-kata yang baik. Dapat disimpulkan, berarti orang-orang yang perkataannya buruk dan kotor, bukanlah termasuk orang-orang yang bertakwa. “Dan hendaklah orang-orang takut jikalau di belakang haru mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa: 4).

Ayat tersebut memberikan kepada kita gambaran, bahwa pribadi anak yang takwa akan menghilangkan kekhawatiran kita terhadap generasi yang lemah dan penakut. Cara membangun ketakwaan itu sendiri salah satunya dapat dibangun lewat mendidik anak untuk senantiasa berkata yang baik, jujur, tidak menipu, dan benar. Berkata baik atau diam.

Pesan-pesan tersebut di atas, bukanlah sekadar pesan yang bisa dilupakan sewaktu-waktu ketika sang anak sudah beranjak dewasa. Akan tetapi, pesan-pesan tersebut jika dicamkan baik-baik oleh sang anak, akan memberikan jalan lurus bagi anak untuk menjalani hidupnya. Ketika sang anak mengalami futhur (lemah), pesan-pesan bijak tersebut dari orang tuanya, akan menjadi penamba semangat dan pelipur lara baginya.

Jadikanlah Anak Sebagai Manusia Biasa
Teringat akan nasihat Ali bin Abi Thalib r.a.: “Jadilah manusiaa paling baik di sisi Allah, (tetapi) jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu, (dan) jadilah manusia biasa di hadapan orang lain.”

Pada awalnya, Islam memandang kedudukan manusia dalam posisi yang sama. Kemudian terjadilah perbedaan derajat di mata Allah ketika manusia melakukan perbuatannya di dunia. Allah tinggikan derajat mereka yang bertakwa, Allah tinggikan derajat mereka yang menuntut ilmu, Allah tinggikan derajat mereka yang menjunjung tinggi ajaran dan sunah nabi-Nya. Sebaliknya, Allah jatuhkan mereka yang munafik, Allah jerumuskan ke neraka orang yang mempersekutukannya, Allah hinakan mereka yang enggan atau malas menuntut ilmu.

Terkadang kita lupa, dalam mendidik anak, haruslah memperhatikan kondisi dan potensi sang anak. Jangan sampai kita membebankan ekspektasi dan amanah yang berlebihan kepada anak. Jangan sampai anak merasa jenuh, merasa tidak disayang, sehingga sang anak mencari “ketenangan” di tempat lain. Khawatirnya, justru mereka mencari ketenangan di tempat-tempat maksiat, atau tempat-tempat yang dibenci Allah lainnya. Na’udzubillahi min dzalik.

Sudah semesetinya, kita menjadikan anak-anak bercita-cita untuk menjadi manusia biasa dengan segala kemanusiabiasaannya. Yaitu manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Kita harus menjaga fitrah anak-anak agar jangan sampai menjadi manusia yang durhaka kepada orang tua dan Tuhannya. Manusia biasa adalah manusia yang bertindak sesuai dengan fitrahnya. Mereka berkata benar, berbakti kepada orang tua, dan tidak mempersekutukan Allah.

Anak yang sesuai dengan fitrahnya, akan menjadi muslim yang pemberani dan senantiasa memperjuangkan panji Islam di atas panji-panji lainnya. Secara tidak langsung, dengan medidik anak menjadi manusia biasa yang sesuai fitrahnya, berarti kita menghasilkan generasi baru yang berbudi pekerti luhur dan memperjuangkan Islam dengan segenap harta dan jiwanya.

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Kariim.
Adhim, Mohammad Fauzil. Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Yogyakarta: Pro-U Media. 2012.
Adhim, Mohammad Fauzil. Saat Berharga Untuk Anak Kita. Yogyakarta: Pro-U Media. 2009.
Adhim, Mohammad Fauzil. Segenggam Iman Anak Kita. Yogyakarta: Pro-U Media. 2013.
Asy-Syahari, Majdi Muhammad. Pesan-Pesan Bijak Luqmanul Hakim. Depok: Gema Insani Press. 2005.
Husaini, Adian. Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab. Jakarta & Depok: Cakrawala Publishing & Adabi Press. 2012.
Nugroho, Eko Novianto. Menjadi Laki-Laki. Depok: Gema Insani Press. 2013

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Zaky Ahmad Rivai
Pembelajar di Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karyawan Allah, berkarya bersama KAMMI UIN Sunan Kalijaga. Penulis buku "Jangan Berdakwah! Nanti Masuk Surga" follow @zakyZR

Lihat Juga

Pandangan Hukum tentang Memukul dalam Pendidikan