Home / Pemuda / Cerpen / Hana

Hana

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com / NDA)
Ilustrasi. (Foto: blogspot.com / NDA)

dakwatuna.com “Aku … Akatsuki.”
“Ya. Dan aku tidak peduli.”

***

3 Februari, 8. 45 pm.

Hana tampak semakin lucu ketika takoyaki ketiganya membuat pipi bulatnya semakin menggembung. Gadis imut yang masih duduk di tingkat kedua sebuah Sekolah Menengah Swasta di Tokyo itu sangat menyukai jajanan dari gurita itu.

Kakinya, sedari tadi tak henti mengelilingi sudut-sudut ruang tengah apartemennya. Sementara tangan kanannya, penuh dengan butir-butir kacang kedelai.

“Fuku wa uchi, oni wa soto ,” dengan mulut yang selalu penuh, Hana berulang kali mengucapkan kalimat itu ketika ia melempar satu persatu kacang kedelai ke sembarang arah. Setelah sebelumnya, ia melempar ke sebuah boneka yang sudah dipakaikannya topeng bermuka setan.
“Fuku wa uchi, oni wa…”
“Hentikan!”

Seseorang membuat Hana menoleh, ia lantas menatapnya bengis. “Nani ?” Hana berkata sinis.
“Kenapa kau masih saja melakukan itu? Apa kau tuli!” Lelaki di depan Hana berteriak, marah. Ia menyentak genggaman Hana yang penuh oleh kacang kedelai dengan kasar hingga membuat kacang-kacang berwarna kuning langsat itu berhamburan.
Hana meradang, memandang kacang kedelainya yang berserakan. Seharusnya, kacang itu terlebih dulu disangrainya, tapi Hana tidak peduli. “Apa kau ini juga bodoh, hah? Ini setsubun! Semua orang Jepang melakukannya!” gigi geraham Hana beradu. Tampak sekali gadis itu merasa terganggu.

Lelaki di depan Hana memandangnya takjub. Ia berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kita bukan orang Jepang! Ternyata kau terlalu bodoh untuk menyadari hal itu.”
Hana mendesis. Ia masih menatap lelaki itu, tajam. “Ya! Tapi kita tinggal di Jepang. Dan kaulah yang lebih bodoh. Aish!” Hana mencibir, kesal. Ia lalu mendudukkan dirinya di lantai yang tak beralas.
“Hana, dengarkan kakakmu, onegai shimasu.” Lelaki yang sedari tadi mengatakan Hana bodoh itu lantas berjongkok tepat di depan Hana. “Kau harus ingat siapa dirimu…”
“Cukup, Ivan!” Hana memalingkan wajahnya dari Ivan dan memilih menatap butir-butir kacang kedelainya yang berpencar-pencar. Seperti yang sudah-sudah, ia teramat hafal kemana arah pembicaraan kakaknya setelah itu.
“Kau tahu hidup itu keras, Zahra. Jadi, janganlah lemah seperti ini. Tegarlah! Dan, jangan sekali-kali kau lupakan identitasmu, Tuhanmu…” Ivan masih berusaha berbicara dengan lembut pada adiknya meski hatinya meletup-letup marah. Ia sama sakitnya dengan adiknya. Bedanya, ia telah sedikit bisa menerima takdir pahit yang menimpa mereka. Mungkin, ia telah benar-benar bisa mengikhlaskannya.

Hana memandangi wajah Ivan dengan tatapan yang lebih teduh, meski sinar kebencian itu masih sangat tampak jelas di pelupuknya. “Siapa yang mengizinkanmu memanggilku, Zahra? Zahra… Zahra, aku tak sudi memakai nama itu, hah.” Hana kembali berkata nyinyir pada Ivan.
Ivan menghela napasnya panjang-panjang. Ia menatap adik satu-satunya itu dengan sedih. “Setidaknya itu nama aslimu. Dan, itu pun hakku karena kau juga tidak memanggilku dengan sebutan onichan seperti yang dilakukan oleh adik-adik orang lain yang manis.”

Hana tersenyum sinis mendengar penuturan Ivan. Gadis itu lalu mengambil secangkir cokelat panas di meja kecil di sebelahnya. Ia menghirupnya, pelan-pelan. Malam di permulaan musim semi ini masih sangat dingin, terlebih untuk jiwa dan hatinya.
“Kau ingin aku… memanggilmu onichan?” Hana bertanya dengan geli.
Ivan mengangguk, membenarkan. Tak peduli dengan tatapan geli adiknya.
“Kalau begitu, tidak usah lagi menceramahiku!” lanjut Hana sembari kembali sibuk dengan cokelat panasnya.
Ivan mendesah. “Yosh . Mulai sekarang, sepertinya aku tidak usah lagi berbicara padamu jika itu membuatmu sedih.” Ia mulai beranjak dan berbalik membelakangi Hana. Pemuda itu lalu melangkahkan kakinya keluar ruangan.

“Onichan.” Hana bergetar saat mengatakannya.
Langkah kaki Ivan terhenti. Ia tidak menoleh. Alam pikirnya menebak-nebak apa yang akan dikatakan adiknya itu. Tapi Hana belum juga bersuara. Satu detik, dua detik, tiga…
“Onichan membuatku sedih! Aku sedih! Semuanya tega membuatku sedih! Tuhan jahat! Sangat jahat!” Hana berkata dengan setengah berteriak, meski tenggorokannya serasa tersumbat oleh berliter-liter air ludahnya.
Ivan menoleh, menatap adiknya yang telah bersimbah air mata. Hatinya bergetar menyadari betapa dalam perih itu membekas luka di hati adiknya.
“Kalau Tuhan tidak mengambil Papa dan Mama di hari ulang tahunku, seharusnya onichan tidak usah bekerja keras untuk membiayai uang kuliah onichan dan uang sekolahku, bahkan kebutuhan sehari-hari kita,” Hana sesenggukan. “Kalau Tuhan benar tidak jahat, Ia pasti tidak akan membiarkan onichan begadang untuk belajar, setelah bekerja paruh waktu yang melelahkan. Lalu, Ia pasti tidak akan membiarkan onichan kembali bangun di pagi buta bahkan sebelum onichan sempat bermimpi indah. Kalau memang Tuhan itu baik…” Hana tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isak membuat bahunya terguncang hebat.

Sebutir air mata jatuh dari sudut pelupuk Ivan. Didekapnya adiknya yang saat itu sedang menunduk dengan erat. Terlampau erat. Ia turut merasakan guncangan isak Hana yang semakin menjadi.
“Onichan membuatku sedih, Tuhan jahat,” Hana kembali menceracau.
Ivan melonggarkan pelukannya. Sweater tebal yang dipakainya basah di bagian dada sebab air mata Hana. Dibelainya rambut panjang Hana perlahan, “Kakak tidak apa-apa harus berbuat seperti itu untuk Hana. Tidak apa-apa… Dan Tuhan, sungguh tidak jahat, Sayang.”

***

Natsu 35 °c
“Kau hanya makan jeruk-jeruk itu, lagi!?” Aku bertanya retoris. Sesekali berdecak heran ketika kulihat hanya ada 3 butir jeruk di hadapan Aiba, teman sekelasku. Sahabatku itu memang abnormal. Jeruk kan buah musim dingin.
Kuletakkan sebuah nampan makan siang yang baru saja kuambil dari konter yang dijaga oleh bibi-bibi yang ramah. Hari ini kafetaria lengang. Aku tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Padahal, hari-hari biasanya, aku bahkan sangat sulit untuk mendengar teman-teman yang mengajakku berbicara saking ramainya kantin sekolah.
“Kau tahu, setelah ini ada sensei baru yang akan menggantikan Nakamura-sensei?” Aiba bertanya—yang lebih terdengar seperti sebuah informasi bagiku—tanpa memedulikan pertanyaan retorisku beberapa saat tadi.
“Nakamura-sensei? Diganti?” Aku menghentikan suapan udonku, lalu mencampurkan sedikit wasabi di dalamnya. Sambil menikmati udon yang disajikan dingin ini, aku mencoba mencermati kata-kata Aiba.
“Hai ’, aku juga tidak tahu kenapa.” Katanya singkat. Aiba sudah menyelesaikan suapan terakhir potongan jeruknya. “Kau mau aku menunggumu?” dia ikut-ikutan bertanya retoris.
“Kau ini bagaimana!” aku sedikit kesal juga dengan pertanyaannya. “Apa kau ini sudah tidak menganggapku sebagai sahabat, hah?”
Sial. Aiba malah tertawa kecil.
“Jadi itu gunanya sahabat?”
Aku ikut tertawa tanpa menjawab candanya. “Aku tidak mau masuk.”
“Nani?!” Aiba bertanya dengan terkejut.
“Aku tidak mau masuk.” Kuulangi perkataanku yang mungkin saja tidak tersaring sempurna di gendang telinganya.
“Apa kau bodoh? Apa kau mau sensei baru itu mencap kita sebagai trouble maker? Di hari pertamanya mengajar … kita membolos!? Aish!” Aiba masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang kukatakan.
“Kalau begitu, kau masuk dulu saja.” Sahutku ringan. Lagipula, aku juga tidak minta ditemani, kan? Suapan terakhir udonku sengaja kulama-lamakan. Tanpa berkata sepatah pun kata, Aiba berdiri meninggalkanku. Kuncirnya melambai-lambai karena gerakannya yang cepat. Kantin benar-benar sudah kosong. Ah, aku malas sekali akhir-akhir ini. Aku sendiri tidak paham apa alasannya. Yang jelas, hatiku selalu terasa seperti terkoyak, dan aku ingin berontak.
***

“Huaaah, begini kan lebih enak.” Kurentangkan tanganku lebar-lebar. Di atap sekolah ini, angin segar seringkali membuatku bisa merasakan ketenangan. Tak jarang pula aku tertidur di sini. Ah, atap sekolah memang tempat favoritku! Aku mengunci pintu atap, rapat. Sempurna. Di sini hanya ada aku. “Sekai de ichiban ohime-sama !” aku berteriak keras-keras, lalu tertawa sendiri. Geli.
Heh??? Siapa itu? Siapa itu yang sedang … astaga!!! Bersujud!?
Aku mengintainya di balik tembok tempatku bersandar. Siapa dia? Siapa? Aku tahu dia sedang shalat. Shalat? Ya! Aku juga pernah melakukannya! Lelaki itu telah menyelesaikan ibadahnya. Aku pura-pura tidak mengetahui hadirnya dengan duduk di sebuah bangku yang membelakanginya. Sementara mataku sibuk menatap pemandangan dari atap sekolah ini, dadaku serasa bergetar-getar.
“Konnichiwa, Ohime-sama .”
Astaga! Dia menyapaku! Kupejamkan mata lama-lama. Aku malu. Malu! Dia pasti menertawakanku. Aku menghela napas, lalu menoleh menatap wajahnya. Yabai ! Kenapa dia harus tersenyum seperti itu? Dan, kenapa pula ia harus tampan! Aargghh…. Kutaksir umurnya tidak jauh berbeda dengan Ivan. 23 tahun. Mungkin lebih tua sedikit, atau lebih muda lagi? Entahlah…
“Aku, Akatsuki.” Dia mulai memperkenalkan namanya. Tentu saja tidak ada uluran tangan. Dia muslim! Aku tahu hal itu.
“Ya. Dan aku tidak peduli.” Nama yang aneh. Akatsuki? Kubuang pandanganku dari sosok berwajah oriental itu.
“Guru pengganti Nakamura-sensei.” Akatsuki melanjutkan kalimatnya.
Ap … apa? Dia baru berkata apa? Segera aku berlari dan membuka pintu atap cepat. Menuruni tangga yang tinggi, lantas bergegas masuk ke dalam kelas.

***

Kupandangi secarik kertas kecil di tanganku. Dua pintu lagi, aku sampai di kamar 302. Apartemen Akatsuki-sensei. Ya, aku ingin menemuinya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menjadi begitu dekat dengan guru baru itu. Padahal Akatsuki-kun—iya, benar sekali. Astaga, aku memanggil senseiku dengan sebutan kun! Menggelikan sekali, bukan?—adalah orang yang seharusnya kubenci karena dia menggantikan guru favoritku, Nakamura-sensei.
“Konnichiwa, anata wa Hana-san desu ka ?”
Aku terperanjat kaget ketika seseorang berjilbab merah muda tiba-tiba saja membuka pintu apartemen dan menyapaku. Dia … tahu namaku? Aku mengangguk canggung tanpa berkata. Entah, melihat wajahnya yang tersenyum manis seperti itu membuatku merasa sangat kesal.
“Kak Fajar sedang pergi ke rumah temannya. Aku disuruh mengajakmu ke suatu tempat dulu.” Gadis itu mengunci pintu apartemen dan segera menggandeng tanganku.
Oh, apa ini? Mengajak ke suatu tempat? Tunggu! Tadi dia bilang apa? Fajar? Fajar? Fa … jar!?

***

“Halo, Hana. Itu bangau kertasmu yang keberapa?” Akatsuki—ah, maksudku Fajar—menyapaku saat aku sedang melipat bangau kertas di atap sekolah.
Bangau kertas yang ke empat ratus tujuh puluh tiga. Aish! Tentu saja aku hanya membatinnya. Aku sedang tidak mau berbicara dengan orang itu!
“Kau ini kenapa?” dia kembali bertanya. Tentu dia heran dengan sikapku. Padahal, biasanya, sebelum dia bertanya pun, aku sudah mengoceh riang. Bercerita banyak hal yang menyenangkan. Lalu mengabarkan bilangan bangau kertasku. Senbazuru. Ya, aku mempercayainya. Aku senang karena dari awal, Fajar tidak terang-terangan melarangku untuk hal ini.
“Kau pikir aku kenapa, Fa-jar?” aku menjawab pertanyaannya dengan sinis. Kutekankan nada suaraku saat menyebut namanya. Masih kuingat, gadis yang mengenalkan dirinya sebagai Najwa itu mengajakku ke Islamic Center untuk menghadiri suatu kajian. Jelas saja aku muak. Menyebalkan sekali. Lebih baik main game, membaca manga, menonton anime atau pergi ke konser.
Akatsuki—ah, Fajar—tersenyum, menatapku yang masih acuh. “Zahra…”

BLAR!
Tiba-tiba, sesuatu seperti hendak memecahkan tempurung kepalaku. “Kk—kenapa kau … tahu …?”
“Zahra … terkadang, hidup ini memang menyakitkan. Tak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan.” Fajar memandang langit yang mulai memerah. “Tapi hal itu, tidak seharusnya menjadikan kita melupakan siapa diri kita, Tuhan kita.”
Astaga, kenapa kata-kata orang ini mirip dengan Ivan?
“Tuhan selalu tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya, dan setiap manusia itu pasti akan di terpa uji.”
Aku ingin membentaknya karena telah dengan lancang menceramahiku. Tapi dadaku yang sesak hanya bisa tergugu. Aku pun, sebenarnya, sudah muak dengan segala kepura-puraanku yang tidak peduli pada Tuhan. “Tapi Tuhan terlalu jahat.” Susah payah aku menyangkal kalimatnya dengan kata-kata yang sangat sulit keluar dari tenggorokanku.
“Tuhan tidak pernah jahat, dan bukankah semua itu pasti berbatas? Aku, kau … kelak juga pergi dari dunia yang fana ini.” kulihat Fajar memejamkan matanya. “Bahkan alam ini pun…”
Hey, apalagi ini?! Seolah-olah dia tahu semua yang terjadi dalam hidupku.
“Najwa bahkan, tidak pernah merasakan kasih sayang orang tuanya.” Fajar menoleh menatapku, tersenyum. “Tempo hari kau bersama Najwa, bukan? Dia adikku. Ayahku telah lama meninggal sebelum Najwa lahir. Dan ibuku…” Fajar menjeda kalimatnya. Matanya berkaca. “dia meninggal ketika melahirkannya.”
Aku memijat-mijat pelipisku yang berkedut. Kuingat lagi kenapa aku bisa berada di negeri matahari terbit ini. Alasan konyol. Aku hanya ingin mencoba ritual-ritual konyol yang mengasyikkan. Tuhan akan marah, memang. Tapi bukankah Dia juga sudah dengan tega membuat hatiku sakit? Aku tertawa miris. Ya, itulah tujuan utamaku. Aku datang ke negeri ini untuk melupakan Tuhan. Tapi tidak dengan kekejaman-Nya merebut orang tuaku dari pelukanku. Sekarang, siapa yang jahat? Siapa yang egois? Siapa yang tidak pernah bersyukur karena aku masih diberi kesempatan memeluk orang tuaku sementara Najwa, melihatpun tidak? Ah, aku ini benar-benar tidak sopan sekali…
“K… kau, tahu dari mana, semuanya?” aku memandang Fajar takut-takut, sekaligus malu. Sumpah serapahku padanya tentang ia yang mengganti namanya dengan Akatsuki kini seolah berbalik ke mukaku. Aih! Kenapa aku bisa sampai lupa kalau aku juga mengganti namaku dengan Hana? Meski Zahra dan Hana, berarti sama. Begitupula Akatsuki dan nama sebenarnya.
Fajar hanya tersenyum. “Kau tidak tahu? Aku, teman kakakmu, Ivan…”
Aku menghela napas panjang dan memejamkan mataku. Mengingat kembali sikapku pada semuanya, termasuk Tuhan, membuat hatiku hampir patah karenanya.

***

“Zahra! Kau!?”
Aku tertunduk malu dan menyembunyikan diriku di balik tubuh Ivan yang kurus. Susu kaleng yang baru saja kuambil dari vending machine kugenggam erat-erat agar tidak tergelincir jatuh. Aku tahu sekali siapa pemilik suara itu. Itu pekik Najwa. Ya, Najwa Humaira.
“Kau benar-benar hebat, Akatsuki,” Ivan tertawa saat mengatakannya. Tangannya menghentikan troli yang sedang didorongnya. Kehadiran dua orang di depan kami ini sejenak menghentikan aktivitas belanja bulanan kami.
Aku mencubit pinggang Ivan keras-keras. Aku bahkan bisa merasakan perubahan warna pada pipiku yang terbingkai jilbab lebar warna biru muda. Ivan hanya meringis dan memandangku geli.
“Ya Allah, Zahra…” Najwa menghambur memelukku erat. “Ilbas jadiid, wa isy hamiid, wa mut syahiid.” Kudengar ia melantunkan do’a untukku dengan suara bergetar.
Aku menangis mendengarnya. Aku memang tidak begitu dekat dengan Najwa. Tetapi kurasa, ukhuwah yang selalu Ivan ceritakan memang benar-benar indah.

***

“Aku sudah tahu,” kuhempaskan tas ransel dan tubuhku di samping Ivan yang masih asyik memainkan laptopnya. Sore hari ini, entah kenapa ia sudah menggelar kasur lantai di kamarnya. Aku bahkan baru pulang dari sekolah. Masih berseragam dan… belum mandi, tentu saja.
“Tahu?” Ivan melirikku sekilas lalu kembali menatap layar laptopnya. Dibenarkannya letak kaca mata yang melorot.
“Ya.” kugapai laptop Ivan dengan paksa. Aku penasaran apa yang membuatnya terlihat begitu serius. Ah, ternyata dia sedang membuka lembar kerja tugas kuliahnya.
“Hussh,” Ivan menepiskan tanganku dan kembali memposisikan laptop di depannya.
“Akatsuki…”
“Heh?”
“Dia temanmu, kan? Fajar… Fajar Ardian?”
Ivan kini meletakkan laptop di sampingnya. Memandangku lekat. “Kenapa kau tahu?”
Aku tertawa. “Jangan bercanda! Kau yang menyuruhnya menjadi guru di sekolahku, kan?” aku masih tertawa karena melihat akting Ivan yang sangat bagus. Perutku bahkan sampai terasa kram karena terpingkal begitu lama sebab ekspresinya. “Dan menyuruhnya mengatakan padaku tentang semuanya.”
“Zahra kau dengar? Pertanyaan tadi…, aku tidak bercanda! Kenapa kau bisa mengenal dia? Ya, dia memang sahabatku.”
Mendadak kuhentikan tawaku. Apa? Jadi… ini bukan hasil konspirasi antara Ivan dengan Fajar? Jadi… tadi itu apa? Kenapa Fajar tahu semuanya?
“Kk—kau serius?” Ivan mengangguk yakin. Aku menelan ludah melihatnya. “Tapi, kenapa dia tahu aku adalah adikmu.”
Dahi Ivan mengernyit. “Tentu saja karena aku pernah bercerita. Ada apa, sih?” Ivan malah bertanya penasaran.
“Kau mengatakan semuanya?”
Ivan tampak sedang berpikir dan mengingat-ingat sesuatu, lalu menggeleng. “Sepertinya … hanya bilang kalau adikku ini mengganti namanya tanpa membagikan bubur merah-putih.” Ivan terbahak hebat.
Kupelototi Ivan lebar-lebar dan berpura-pura marah sampai dia menyelesaikan tawanya. Wajah Ivan masih menyisakan senyum geli yang tersirat. “Jadi bagaimana?”
“Kurasa dia benar.” Aku menunduk menatap kuku-kuku tanganku.
“Astaga! Kau mendengarkannya?”
Aku mengangguk. Entah karena apa semua perkataannya sangat bisa diterima olehku. Ah, hatiku. Mungkin aku sudah sangat lelah berpura-pura tidak peduli pada Tuhan. Mungkin sudah saatnya aku berubah sebelum batasku habis.
Ekspresi Ivan masih ekspresi terbelalak tak percaya. “Bukan karena… dia tampan?”
Kujitak kepala kakakku yang sedang tertawa itu keras-keras. Kalian tahu, kan? Hidayah-Nya bisa menyapa siapapun, kapan saja… tentu dengan izin-Nya.

 

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 8,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seseorang yang berharap dapat selalu berkarya hingga batas masanya.

Lihat Juga

PKS Ucapkan Duka Cita Mendalam untuk Korban Gempa Aceh