Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Memotivasi Istri Kerja di Rumah

Memotivasi Istri Kerja di Rumah

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Bagi siapapun yang telah berumah tangga sudah semestinya mengetahui bahwa rumah tangga dapat dikatakan sebagai organisasi terkecil. Dalam rumah tangga, seorang suami mempunyai kedudukan sebagai qawwam (pemimpin). Dialah yang memegang kendali semua fungsi manajemen dalam rumah tangganya. Seberapa tinggi tingkat produktivitas orang-orang yang dipimpinnya (istri dan anak-anak) tergantung dari seberapa giat seorang suami dalam memotivasi mereka.

Motivasi utama setiap muslim adalah bekerja untuk mencari ridha Allah SWT. Termasuk di dalamnya kerja dalam sebuah rumah tangga Islam. Kerja suami untuk mencari nafkah adalah sarana baginya untuk mencapai ridha Allah. Demikian pula kerja istri di rumah dalam membina rumah tangga dan mendidik anak-anak. Semuanya itu tidak lain adalah sarana bagi seorang istri untuk mencapai ridha Allah.

Namun tidak jarang terjadi, bahwa kelelahan fisik dalam melakukan tugas rumah tangga, menurunnya kondisi iman dapat membuat seorang istri lupa akan komitmennya semula, mencari ridha Allah. Disinilah peran suami bisa diharapkan peka dalam mengatasi kesenjangan komitmen tersebut.

Allah telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka …” (QS. At-Tahriim: 6). Dalam hal ini, keterbukaan antara suami dan istri adalah hal yang sangat penting. Dengan keterbukaan, berbagai masalah yang ada dapat dideteksi secara dini. Salah satunya yaitu dengan membicarakan masalah yang tengah dirasakan masing-masing. Hal yang dapat dilakukan suami dalam mengembalikan motivasi istrinya antara lain menasihatinya dengan kata-kata yang lembut, mengingatkannya dengan ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasulullah.

Selain itu, suami juga diharapkan menyempatkan waktu untuk mendengarkan keluhan istri serta masalahnya, bahkan jika mungkin membantu meringankan pekerjaannya, atau minimal tidak menambah beban kerjanya. Seperti misalnya pembagian tugas antara saya dan suami; saya yang mencuci pakaian sedangkan suami yang menjemurnya. Atau saya yang mencuci piring pada pagi hari dan suami pada malamnya selepas pulang kerja. Begitulah kerja sama bahu membahu antara suami istri.

Jangan lupa pula bahwa dalam berumah tangga, penguatan positif adalah salah satu cara memotivasi yang penting, tapi hal ini sering terlupakan. Inti dari penguatan positif ini adalah penghargaan terhadap hasil kerja.

Ungkapan rasa terima kasih atas pelayanan istri, hadiah kecil yang bermanfaat adalah contoh penguatan positif suami untuk istrinya. Pada intinya, sang suami meyakinkan istrinya, bahwa apa yang dikerjakan sang istri di rumah adalah sangat membantu kerjanya dan bukanlah sesuatu yang sia-sia, tetapi ada balasan yang lebih baik dari Allah kelak. Rasulullah Saw sendiri memberi contoh bagaimana beliau memuji istrinya Khadijjah Ra atas dukungannya terhadap Rasulullah.

So, setiap kondisi hati sangat menentukan hasil kerja. Suami sebagai manajer rumah tangga Islam diharapkan mampu memantau kondisi hati istri yang akan menentukan kualitas kerjanya. Kasih sayang dan kebijaksanaan suami adalah sentuhan yang dapat mengantarkan seorang istri untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Dan itu berarti prestasi suami sebagai penjaga keluarga dari api neraka akan dicatat dengan Allah dengan balasan yang indah. Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 8,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.

Lihat Juga

Ilustrasi. (merdeka.com)

Fokus Kerja Fokus Menang